80 Pembaca

Lpmarena.com- Di Indonesia, tak banyak jurnalistik yang membahas tentang musik.  Jurnalisme musik  jarang berkembang di media-media Indonesia. Hanya beberapa laman-laman daring saja yang konsisten menyediakan, beberapa seperti Rollingstone, Jakartabeat, Whiteboardjournal, Serunai, dan Tirto.

“Jurnalisme musik jarang kajiannya,” kata Soni Triantoro, pemimpin redaksi WARNINGmagz dalam talk show “Menulis Musik” di Kampung Buku Jogja #3 Foodcourt UGM, Kamis (4/10). Bersama Nuran Wibisono, penulis buku “Nice Boys Don’t Write Rock N’ Roll”, dua pemerhati musik tersebut berbicara tentang jurnalisme musik.

Berbeda dengan music writing yang cenderung subjektif, jurnalisme musik tetap memakai kaidah jurnalistik dalam pembuatannya. Lingkup konten lebih aktual dan disesuaikan dengan kebutuhan media. “Jurnalisme musik, kamu harus benar-benar update. Selalu lebih menitikberatkan pada fakta,” ucap Soni.

Meski begitu, bagi Nuran, di dalam jurnalisme musik, musik tak harus baru. Sebab di Tirto tempatnya bekerja, ia pernah mengulas musik-musik lama. Yang terpenting adalah si wartawan bisa menangkap sisi-sisi manusiawi dari liputan yang ia garap. Semisal rock star yang diduga sempurna memiliki kebiasaan manusiawi lainnya, semisal menjahit. “Kayak rock star itu rapuh. Sisi yang lain. Sisi yang seneng-seneng saya kurang tertarik,” ujarnya. “Intinya harus mau pusing dari awal,” tambahnya.

Jurnalisme musik juga mempunyai tantangannya sendiri. Terlebih dalam membahasakan nada. Di satu sisi, terbatasnya tata bahasa musik dan panggung, juga banyak diksi-diksi musik yang aneh jika di-Indonesia-kan. Sisi lainnya dibutuhkan detail imajinasi yang kuat untuk membahaskan audio.

“Bagaimana mendiskripsikan musik? Membahasakan musik?” Soni bertanya pada peserta diskusi. Lalu ia mencontohkan sebuah deskripsi dari tulisan seseorang yang baginya menarik. Tulisan itu membahahas tentang musik pertama The Beatles. Musik tersebut jika dibahasakan berbunyi, “Seperti pesawat yang sedang take off di sebuah kamar”.

Kritik Musik

Menurut pemerhati musik Taufiq Rahman (Jakartabeat), ia menyatakan bahwa musik tidak datang dari ruang kosong. Musik datang dari konteks sosial dan politik. Ia produk dari intertekstualitas. Sayangnya, tak sedikit musik yang jauh dari konteks-konteks tersebut.

Ditambah lagi, Soni menilai, budaya kritik di Indonesia menyedihkan. “Kalau dibilang ‘kamu kok berani ngritik? Emang kamu bisa bikin sebagus dia?’ udah, selesai,” sesal Soni. Padahal, seseorang tak harus membuat hal serupa untuk menilai karya tersebut bagus apa tidak. Namun, berdasarkan argumen yang kuat, kenapa ia mengatakan hal tersebut baik dan yang lainnya tidak.

Penilaian suatu musik bagus atau tidaknya, akan merujuk pada pertanyaan bagaimana menilai musik secara objektif. Menurut Soni, objektifitas adalah cara, bukan hasil. “Caranya kamu harus benar-benar mendengarkan karya yang bersangkutan, tujuh sampai sepuluh hari. Baru berani berpendapat,” katanya.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan