49 Pembaca

Lpmarena.com- “Manusia normal ya baca buku!” begitu kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma saat menjadi pembicara talk show “Sastra dan Jurnalisme” dalam acara Kampung Buku Jogja #3, Rabu (4/10), di Foodcourt UGM. Baginya, membaca menjadi disiplin yang tak perlu disuruh-suruh lagi.

“Ada image baca buku itu susah, kalau susah itu tantangan,” ucap Seno. Menurutnya, yang menarik dari kegiatan membaca adalah ketika bisa membongkar sesuatu. Bacaan tersusun atas kebudayaan yang isinya adalah manusia. Membaca menghidupkan otak untuk lebih aktif dalam menganalisis politik kebudayaan.

Membaca juga menjadi proses menjadikan manusia hidup. Banyak orang yang membuang waktunya secara percuma. Seno menyarankan untuk menggunakan waktu terbuang-buang itu dengan membaca dan membuat esai, paper, karya sastra, dan lain-lain. Proses pengendapan dan penghayatan menjadi kunci. “Coba konsentrasi dengan pikiran terstruktur,” ucapnya.

Seno menambahkan, tantangan besar pada saat ini ialah potensi terserang kibul dan hoax. Di sastra, seorang pengarang bisa menjadi tukang kibul yang sangat ahli lewat cerita-ceritanya. Di jurnalisme, pembuat berita bisa menciptakan hoax bagi pembacanya.

“Sekarang bagaimana caranya melawan bohong, karena terlanjur tergenang,” kritik perintis laman jurnalistik Panajournal tersebut. Selain hoax, saat ini orang tengah dilanda bahaya berhala kesuksesan dan Seno mengajak untuk menghancurkan berhala-berhala itu.

Gejala pemberhalaan tersebut, salah satunya ditunjukkan dengan penghambaan terhadap quote-quote kecil yang langsung ditelan. Bagi Seno, yang terpenting adalah bagaimana menuju quote-quote itu. Proses lebih penting daripada sekedar produk instan. “Orang makan quote-quote dan rumus-rumus instan. Seolah, orang nggak punya itu salah,” ujar penikmat komik-komik Raden Ahmad Kosasih dan tulisan-tulisan Karl May tersebut.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan