108 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Hari Taqwan Santoso*

“Hantu Ting-ting?” tanyanya tak percaya. Ia yang seorang pendatang itu lebih banyak mendengarkan ketika orang-orang membicarakan hantu. Kita ini hidup di zaman apa sih? Ini milenium ketiga. Hantu dan hal-hal mistis lainnya adalah pembicaraan yang cocok dibicarakan abad pertengahan atau lebih kuno dari itu, yaitu ketika pengetahuan ilmiah masih sangat terbatas dan menjadi milik segelintir orang saja. Artinya, itu adalah masa ketika jumlah orang yang sok tahu jauh lebih banyak daripada orang yang benar-benar tahu. Sekarang zaman sudah berubah, banyak orang pandai, sarjana berjumlah puluhan juta, mengapa masih ada pembicaraan tentang hantu?

“Hmh! Kalau ada orang di zaman ini yang masih percaya hantu, orang itu tentulah masih anak-anak,” gumamnya tanpa sadar. Rupanya gumaman itu terlalu keras sehingga didengar oleh orang di depannya. Orang itu pun tersinggung.

“Jadi maksudmu aku anak-anak!?”

“Eh. Bukan begitu maksud saya. Intinya adalah, saya tidak percaya hantu. Lagipula, hantu kok ting-ting. Hantu apa itu? Hantu yang pernah saya dengar ceritanya itu pocong, kuntilanak, genderuwo dan sebagainya. Lha ini, Hantu Ting-ting. Sama sekali tidak terdengar menyeramkan. Saya justru teringat nama penyanyi dangdut, Ayu Ting-ting.”

Pendatang itu bersikukuh dengan pendiriannya, ia adalah manusia rasional. Menurut akal sehatnya, ia adalah manusia yang terlalu modern untuk memercayai cerita itu, dan itu cukup beralasan. Ia baru dipindah tugaskan ke kota ini dan di sini masih tinggal sendiri. Ia berencana membawa serta istri dan anak-anaknya jika dia sudah mendapat tempat yang tepat untuk tinggal.

Pendatang baru itu merasa tidak cocok dengan rumah tinggal yang disediakan perusahaannya, terlalu jauh dari kantor sehingga waktunya banyak terkuras di jalan jika ia memutuskan untuk tinggal di sana. Akan tetapi untuk sementara waktu tidak apa-apa, sambil mencari tempat tinggal baru yang lebih efisien. Maka informasi pertama yang ingin didapatkannya adalah harga sewa rumah-rumah di dekat kantor barunya, sedikit mahal tidak apa-apa asal efisien dalam hal waktu. Di luar dugaan, ke manapun dia pergi obrolan yang pertama didengarnya justru obrolan tentang hantu, lebih tepatnya hantu jenis baru yang diberi nama Hantu Ting-ting.

Aneh, seluruh penjuru kota membicarakan Hantu Ting-ting seolah tidak ada bahan obrolan yang lain saja. Tetangga baru di sekitar rumah sementaranya, orang-orang di jalan, orang-orang di pasar, gelandangan di tempat kumuh, bahkan rekan-rekan sejawatnya yang lebih “senior” ikut membicarakan hantu dengan nama aneh itu. Rekan-rekannya bahkan lebih banyak membicarakan hantu daripada bekerja.

“Hey. Kamu sudah dengar apa belum?”

“Apa?”

“Semalam Hantu Ting-ting menampakkan diri di sepanjang Jalan Soekarno.”

“Serius? Dalam rupa apa penampakannya?”

“Kali ini orang-orang melihat sebuah sepeda yang berjalan tanpa pengendara. Seperti biasa, selalu ada bunyi bel sepeda yang menyertainya. Ting-ting! Ting-ting! Ting-ting!”

“Apa dia mengganggu orang?”

“Tidak. Ia bahkan tidak menakutkan, karena ia menampakkan diri ke semua orang. Tidak seperti hantu-hantu biasa yang biasanya menampakkan diri di tempat sepi pada satu orang saja. Hantu Ting-ting sepertinya ingin menjadi selebritis!”

“Wah, belum tentu juga. Soalnya seminggu yang lalu dia dikabarkan sedang mengejar pengendara motor di Jalan Kartini dalam wujud pengendara sepeda tanpa kepala. Kamu tahu kan, Jalan Kartini itu sepi, gelap dan di pinggirannya ada banyak pohon beringin tua. Pengendara motor itu teman dari temanku, dan dia menceritakan pengalamannya ke aku secara langsung. Jadi aku percaya saja.”

“Kok bisa? Bagaimana ceritanya?”

“Dia sedang pulang dari rapat tengah malam. Ia menerobos Jalan Kartini, jalan searah itu, dari arah yang tidak seharusnya. Dia pikir tidak apa-apa, sebab rumahnya jadi jauh kalau harus lewat jalan yang benar. Lagipula malam itu sudah sepi, tidak akan ketahuan polisi kalau menerobos jalan searah. Eh, malah dikejar Hantu Ting-ting.”

“Hey, kalian itu sedang bekerja. Jangan membicarakan hal-hal yang tidak penting selama bekerja,” tegurnya memotong.

“Heh! Memangnya kamu siapa? Bos kami? Kamu orang baru di sini, tidak usah sok!”

“Iya. Belagu lu!”

Seseorang yang berperawakan pendek dengan perut buncit tiba-tiba memasuki ruangan. Orang itu adalah atasan mereka. Semua diam. Obrolan tentang Hantu Ting-ting yang asyik tapi tidak penting itu pun lenyap. Wajah-wajah yang semula saling berhadapan itu mendadak berubah arah. Biji-biji mata di permukaannya segera kembali menatap layar monitor, tempat ke mana seharusnya mereka ditatapkan. Pak Bos berjalan ke tengah ruangan yang mendadak menjadi sehening kuburan itu penuh selidik.

Ia pun berkata dalam hati, “Rasakan kalian, sebentar lagi pasti diberi SP.”

Pak Bos lalu berdehem untuk memecah hening, baru angkat bicara. “Kalian sudah mendengar kabar…”

Para karyawan memasang telinganya baik-baik. Barangkali akan ada teguran, atau bahkan SP yang turun untuk salah satu di antara mereka. Ruangan itu tidak dilengkapi CCTV, tapi entah bagaimana bos mereka selalu tahu kalau mereka tidak tertib selama bekerja.

Pak Bos melanjutkan, “Bahwa semalam Hantu Ting-ting menampakkan diri di sepanjang Jalan Soekarno?”

Ia yang pendatang baru itu pun menepuk jidat tanpa sadar.

Wantono adalah seorang pendatang di kota ini, tapi dia sudah lama mendiaminya. Dia tinggal di sebuah kompleks perumahan kelas menengah ke bawah di pinggirannya. Maklum, kerjanya serabutan, dan tidak satu pun yang memberinya gaji besar. Pekerjaan apapun yang dapat menjadi pengisi perutnya esok hari, akan dia kerjakan, asal halal. Ia pernah menjadi office boy untuk sebuah kantor kecil. Tugasnya, tentu saja, adalah membuatkan kopi atau teh bagi karyawan. Wantono segera keluar karena jarak tempuh antara rumahnya dengan kantor itu jauh disertai gaji yang tidak cukup untuk makan, padahal Wantono termasuk orang yang irit.

Wantono juga pernah menjadi petugas kebersihan panggilan. Gajinya lebih banyak meskipun masih terhitung kecil, tapi dia tidak dapat berharap banyak dari pekerjaan ini. Karena dia hanya bekerja ketika orang yang mempekerjakannya punya acara besar. Jika tidak ada acara besar, maka dia tidak bekerja. Dia juga tidak bergabung dengan lembaga tertentu sehingga mitranya hanya itu-itu saja, dan tidak pasti sebulan sekali punya pekerjaan untuknya.

Wantono juga menerima les privat untuk anak SD. Dia memang tidak punya latar belakang pendidikan yang tinggi, tapi menguasai pelajaran SD dan bisa cepat akrab dengan anak-anak. Untuk mengajar pelajaran-pelajaran tingkat SD, Wantono tidak merasa kesulitan. Cara mengajarnya bagus dan ia tidak mematok harga yang tinggi. Sayangnya, pikiran orang- orang telah terarah pada opini bahwa merk dagang suatu lembaga les menjamin mutunya, sehingga jasa les privat Wantono tidak terlalu laku. Akan tetapi ia bersyukur, bahwa meskipun tidak laris setidaknya dia dapat bekerja dan mengisi perut dari hasil jerih payahnya sendiri.

Pada suatu malam Jumat Kliwon, Wantono pulang dari pekerjaannya menjadi petugas kebersihan panggilan. Acara itu berlangsung lama, hingga larut malam. Maka Wantono pun pulang lebih larut lagi, sebab pekerjaannya adalah membereskan tempat pasca acara. Dia memang tidak mendapatkan banyak uang karena upahnya relatif sedikit, tapi dibandingkan jumlah yang bisa dia dapatkan setiap hari, pendapatannya hari ini boleh dibilang “ikan besar”. Karena itu sekalipun lelah, pulang larut malam dan sadar bahwa uang yang didapat sebenarnya tidak seberapa, dia sangat puas.

Malam itu, secara kebetulan, purnama yang berjumlah satu menggantung di langit. Wajahnya pucat dan sinarnya seolah memudar. Barangkali dia malu, ia tak seindah dulu lagi. Hadirnya yang memberikan penerangan dalam gulita tidak lagi dirindukan sebab cahayanya sudah kalah oleh lampu di seluruh penjuru kota. Terang malam purnama memang tak seterang kota besar waktu malam, tempat lampu-lampu berpendar dengan liar. Sebagian dari lampu-lampu itu berjajar di pinggir jalan searah menerangi Wantono yang bersama perasaan puas dan gembira, sedang menyusuri menggunakan sepedanya.

Jalanan di tempat itu memang telah lengang, tapi Wantono membunyikan bel sepeda secara teratur untuk memberitahu pengguna jalan yang lain, jika saja masih ada, bahwa ia sedang melintas. Sekadar untuk berjaga-jaga saja. Ting-ting! Ting-ting! Ting-ting!

Sayangnya, kehati-hatiannya punya banyak celah ketika berada di jalan. Wantono gemar berpikir di segala kesempatan, termasuk ketika mengendarai sepedanya di jalan raya. Dia mengantisipasi keberbahayaan tindakan itu dengan bersepeda pelan-pelan. Jadi manakala Wantono ingin memikirkan sesuatu dalam-dalam padahal dia sedang mengendarai sepeda, maka dia pun memelankan laju sepedanya. Dia berpikir itu aman, khususnya malam ini, ketika dia sedang melewati jalan searah larut malam. Pasti sangat aman.

Hidup adalah anugerah yang tidak terkira besarnya dari Sang Pemberi Hidup. Oleh karenanya ia perlu disyukuri dengan pengabdian pada Sang Pemberi Hidup. Seseorang dikatakan berhasil dalam hidup jika ia mampu “melepaskan diri” dari dunia, bukan mengambil sebanyak mungkin darinya. Bukankah pernah dikatakan, apalah arti bagi seseorang yang mendapatkan dunia dan segala isinya jika ia kehilangan hatinya? Hanya mengambil sejauh itu dibutuhkan, adalah prinsip Wantono coba untuk jalani tanpa peduli apapun konsekuensinya. Ia tahu, orang yang punya pandangan “puas dengan yang sedikit” seperti dirinya mudah dimanfaatkan orang lain, tapi ia tidak terlalu ambil pusing.

Pikiran yang dalam itu membuat Wantono kehilangan kehati-hatiannya untuk sesaat, dan waktu yang sesaat itu sudah cukup bagi malaikat maut untuk lewat. Tiba-tiba saja ada pengendara motor dari arah depan yang melaju dengan kecepatan tinggi, padahal jalan itu adalah jalan searah dan Wantono melintasinya ke arah yang benar.

Mengapa pula harus ada ketidak tertiban lalu lintas seperti penerobosan jalan searah larut malam seperti itu? Entahlah, mungkin memang sudah takdirnya demikian. Ketika keduanya saling mendekat, baik Wantono maupun pengendara motor asing itu sama-sama kaget dan berusaha untuk mengerem secara mendadak. Kendati demikian, sejauh apapun mereka berusaha mengerem tetap saja ada batasan bagi gerak mereka.

Sebenarnya malam itu tidak ada tabrakan karena pada saat-saat terakhir baik Wantono maupun pengendara motor itu dapat sedikit membelokkan kendaraan mereka masing-masing ke arah yang berkebalikan. Mereka hanya saling menyerempet dan pengendara motor itu tidak apa-apa. Akan tetapi, naas bagi Wantono. Ia terjatuh ketika kakinya tidak siap menopang tubuh. Kepalanya membentur batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ia langsung tidak sadarkan diri dengan kepala bocor dan bersimbah darah. Sadar dengan apa yang telah terjadi, pengendara motor itu pun kabur meninggalkan Wantono yang mulai lemas karena kehilangan banyak darah. Ia telah lari dari tanggung jawab.

Hari ini seluruh kota ramai oleh pembicaraan tentang Hantu Ting-ting. Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya hantu jenis baru itu juga telah menjadi viral. Orang bahkan menganggapnya sebagai topik yang serius lagi penting untuk dibicarakan. Mereka mengajukan pendapat yang berbeda-beda mengenai fenomena kemunculannya. Beberapa beranggapan bahwa Hantu Ting-ting adalah hantu yang harus ditakuti dan dihindari sebagaimana hantu-hantu lainnya kendati belum pernah ada cerita tentang Hantu Ting-ting yang memakan korban jiwa.

Ada pula yang memanfaatkan fenomena penampakan Hantu Ting-ting untuk kepentingan mereka sendiri, seperti tujuan bisnis misalnya. Oportunis sebodoh apapun pasti tahu dan menyadari bahwa opini publik adalah kunci untuk merampok uang mereka secara halus. Maka ketika orang-orang diburu rasa penasaran dan amat tertarik untuk melihat sendiri rupa Hantu Ting-ting, muncul komoditas yang belum pernah ada sebelumnya, seperti kamera khusus untuk melihat hantu. Kamera itu sebenarnya kamera biasa, tapi diiklankan dengan sangat baik sehingga orang-orang percaya bahwa kameranya benar-benar berfungsi. Pada gilirannya orang-orang tertarik untuk membeli berakhir dalam kekecewaan.

Bagi Hantu Ting-ting sendiri, sepertinya, orang-orang yang punya “otak bisnis” itu amat menjengkelkan sampai-sampai tak lama setelah produk mereka diluncurkan. Mereka didatangi secara eksklusif. Hantu Ting-ting menampakkan diri pada mereka dalam wujud paling menyeramkan; kabut tebal sebagai adegan pembuka, bayang-bayang pengendara sepeda disertai bunyi bel yang khas, baru sosok pengendara sepeda tanpa kepala muncul pelan-pelan. Karena penampakan itu para oportunis menjadi jera, mereka tidak lagi berani memanfaatkannya sebagai bisnis.

Purnama menggantung pucat. Baru seminggu pendatang itu tinggal di kota ini, tapi ia sudah tidak tahan. Lewat tengah malam, ia belum bisa tidur. Ia memang tidak bisa tidur jika tetap terjaga lewat dari pukul 23.00. Normalnya dia tidur pukul 22.00, tapi kali ini tidak. Ada laporan yang harus diselesaikannya malam ini juga, dan ketika laporan itu selesai dia malah tidak bisa tidur. Padahal besok dia harus tiba di kantor pukul 07.00. Pekerjaan kantor memang kadang bisa sedemikian merepotkan.

“Yah, apa boleh buat. Aku duduk di sini saja sambil memandangi rembulan,” gumamnya sendirian.

Lewat pukul 02.00, dia masih tidak dapat tidur. Dini hari yang sunyi. Wajar saja, umumnya orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Adapun orang-orang seperti dia adalah pengecualian. Ia duduk memandang ke langit. Mengamati rembulan sambil merokok itu mengasyikkan, sepertinya. Ia tidak pernah mengalami hal itu. Dia jarang terjaga, dan baru kali ini terjaga saat bulan purnama.

Kota ini adalah kota besar, dan karenanya tidak pernah benar-benar lengang meski sudah larut malam. Sesekali terdengar suara deru mesin melaju di jalan raya. Pendatang itu juga bisa mendengar, samar-samar, ada suara bel sepeda mendekat. Ting-ting! Ting-ting! Ting-ting! Pelan tapi pasti, dengan kecepatan seorang pengendara sepeda, seseorang yang sedang mengendarai sepeda sambil membunyikan bel sedang menuju rumahnya. “Siapa sih, yang masih bersepeda malam-malam begini? Atau jangan-jangan, itu Hantu Ting-ting yang sering dibicarakan orang. Ah! Aku tidak takut. Pengendara sepeda tanpa kepala sekalipun tidak terlihat menyeramkan olehku.”

Benar saja. Hantu Ting-ting menampakkan diri di depannya dalam wujud pengendara sepeda tanpa kepala. Dia membawa kepala yang bersimbah darah, kepalanya sendiri, di tangannya. Kepala itu hidup, seolah masih terpasang. Mulutnya menyeringai, wajahnya menyiratkan bahwa ia telah menemukan sesuatu yang dicarinya selama ini.

Ia masih tidak takut.

“Selamat malam. Saya Wantono. Kita pernah bertemu sekali, dulu. Waktu itu bapak naik motor, menerobos jalan searah.”

Tiba-tiba saja ia, yang seorang pendatang itu, menyadari bahwa kali ini penampakan Hantu Ting-ting akan memakan korban jiwa. Seketika ia takut tapi sudah terlambat.

 

Caturtunggal, 15 Agustus 2017

Ilustrasi: http://assets.kompas.com