91 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ibnu Arsib*

Sudah banyak sekali tulisan-tulisan yang membicarakan betapa pentingnya membaca. Sudah banyak sekali program-program pemerintah maupun non-pemerintah di negara kita ini yang berupaya memberi rangsangan kepada masyarakat kita pada umumnya dan pemuda kita pada khususnya, membudayakan membaca. Baik itu membaca buku, koran, majalah dan media lainnya yang dapat memberikan informasi dan wawasan ilmu pengetahuan.

Perspektif demi perspekif diungkapkan oleh para penulis dan penceramah, tentang betapa pentingnya membaca. Mulai dari firman Tuhan, hingga pendapat para tokoh-tokoh. Dalam data kemajuan suatu negara pun, indikator rakyatnya rajin membaca termasuk dalam penilaian. Misalnya, masyarakat Eropa terkenal dengan rajinnya membaca buku. Bahkan Jepang sebagai negara yang terletak di benua Asia,mayoritas masyarakatnya suka membaca. Saya membaca suatu artikel, bahwa mahasiswa di Eropa menghabiskan waktu untuk (membaca) sebanyak dua sampai tiga buku selama satu bulan, bahkan ada yang lebih.

Dalam tulisan sederhana ini, saya tidak membicarakan data diperingkat berapakah negara kita yang rakyatnya rajin membaca. Saya hanya berniat mengajak kita semua merenungkan dan memikirkan bagaimana budaya membaca masyarakat kita, berkembang meningkat atau menurun, khususnya para generasi muda kita, bagaimana minat membaca saat ini?

Mengapa Kita Belum Sadar ?

Kita sudah pasti tahu bahwa banyak membaca itu sangat baik. Apalagi membaca Kitabullah dan Hadist Rasulullah. Selain selamat di dunia, selamat juga di akhirat kelak. Dengan catatan harus diamalkan. Sebetulnya, membaca saja kita sudah mendapatkan pahala. Belajar saja kita sudah dapat pahala. Tapi mengapa kita masih saja tidak membaca? Mengapa masih ada alasan “ini” dan alasan “itu”?

Sebenarnya saya ingin menceritakan bahwa banyak kisah para generasi terdahulu, baik di dunia internasional maupun di negara kita, mereka begitu giat membaca kemudian menulis, sehingga mereka dikenal oleh penduduk dunia. Seperti kata Soe Hok Gie, “Jika ingin mengenal dunia, maka membacalah. Dan jika ingin dikenal dunia, maka menulislah.” Saya yakin anda sudah sering mendengar, bahkan sudah bosan, bahwa guru-guru kita sering mengingatkannya supaya giat membaca.

Apakah hari ini masyarakat, khususnya pemuda-pemuda kita tidak rajin membaca? Menurut saya, pemuda kita saat ini rata-rata banyak membaca. Akan tetapi, untuk membaca buku, koran, majalah, jurnal atau bahan bacaan yang bernuansa ilmu pengetahuan, masih bisa dikatakan minim. Apalagi membaca Al-Qur’an-Hadist dan kitab-kitab hikmah lainnya.

Menurut data dari Majalah Komputer Aktif  (Maret, 2003), berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III, menyebutkan bahwa 60% remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku, majalah atau koran. Dan menurut penelitian Siemens Mobile Phone, 58% orang Indonesia lebih suka mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku.

Mari kita renungkan sejenak. Data itu tahun 2003, dimana aplikasi media sosial online belum sebanyak dan secanggih sekarang. Fungsinya sama, sama-sama mengirimkan pesan (SMS) dan membaca pesan SMS. Akan tetapi, aplikasi di jaman yang kata orang “Now” seperti saat ini lebih beragam dengan tampilan yang berbeda. Hingga meningkatkan persentase konsumennya, dan berdampak pada berkurangnya minat membaca buku, koran, majalah di kalangan tua-muda.

Mari kita renungkan kembali. Seorang penduduk Indonesia saja, bisa memiliki lebih dari satu akun media sosial online. Padahal, pada dasarnya fungsi dari apa yang ada itu sama dengan media sebelumnya. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia dengan berduduk diam diri dan fokus pada layar.

Apakah kita masih melakukan pembelaan dengan berkata bahwa hal itu sangat baik karena bisa bersilaturahim dengan jarak yang jauh? Dapat berkomunikasi dengan teman-teman yang jauh dan berbagai pembelaan lainnya? Saya pun tidak akan beradu kata dengan anda terkait hal ini. Tinggal anda saja yang merenungkan dan memikirkannya sendiri. Apakah anda meningkat minat bacanya dalam hal memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan? Atau hanya menyenangkan diri lewat chattingan di media sosial online.

Mengapa kita belum juga sadar betapa pentingnya membaca? Kita mengetahui sendiri batapa lemahnya budaya baca bangsa kita. Wajar saja barangkali jika bangsa kita lemah akan ilmu pengetahuan dan susahnya bukan main untuk diajak maju. Bagaimana mungkin bangsa ini maju, jika generasi mudanya masih terlelap dengan media-media yang banyak menyita waktu dam minat baca bukunya rendah? Tentunya kita pernah mendengar kata-kata bijak mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Saya belum pernah mendengar facebook, line, Whats App, BBM, Instagram dan Twitter adalah jendela dunia.

Masihkah kita mempertahankan budaya konsumerisme dan budaya hedonisme yang menurunkan kualitas bangsa kita? Jika masih mempetahankannya, maka siap-siaplah dilindas perkembangan zaman. Dengan budaya konsumerisme-hedonisme saat ini yang menjamur di kalangan pemuda kita, itu namanya bukan mengikuti kemajuan jaman dalam sisi kebaikan, tapi mengikuti jaman dalam sisi keburukan. Lihat saja sendiri fenomena-fenomena yang terjadi. Jika virus konsumerisme-hedonisme semakin meningkat, maka masyarakat akan semakin individualistis dan lingkungan sosialnya semakin krisis dan kronis.[]

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum UISU.

Ilustrasi: http://www.aksarainstitute.org