79 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com – Novel etnografi berjudul Kidung Rindu di Tapal Batas karya Aguk Iwaran Mn berkisah tentang kehidupan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Aguk memulai penggarapan novel ini saat ia terlibat dalam tim pembangunan daerah tertinggal oleh Kemeterian Desa bersama tim dari Universitas Gajah Mada (UGM). Program pembangunan tersebut guna menyukseskan salah satu nawacita Jokowi. Mengubah pandangan daerah tertinggal yang dianggap belakang rumah, menjadi halaman rumah.

“Membangun Indonesia dari pinggir,” kata Aguk dalam bedah bukunya tersebut, Selasa (24/10), di Lobi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Suka. Bedah buku ini merupakan rangkaian acara memperingati hari ulang tahun Sanggar Nuun ke-25 bertajuk “Kalayoga” tanggal 28 Oktober nanti.

Aguk menggarap novel itu selama tiga bulan. Novel paling lama yang pernah ia buat, dibandingkan ketika ia membuat novel-novel islami yang dibuatnya hanya dalam jangka waktu satu sampai dua minggu. Ini tak lain karena akses menulis di perbatasan yang susah.

Banyak ketimpangan terjadi di perbatasan. Aguk menuturkan beberapa ketimpangan itu. Dalam segi pendidikan, masih banyak yang buta huruf. Sampai umur 11 tahun tidak bisa membaca, tidak tahu huruf ABCD, tiap hari pekerjaannya berkebun di kebun karet. Jika ingin sekolah, beberapa menggantungkan pendidikannya ke Malaysia. Sebab akses pendidikan yang di Indonesia sangat jauh dan nyaris tak ada jalan yang bagus untuk mencapai sekolah.

“Usulan saya buat pesantren, nggak buat SD. Jarak rumah ke SD tiga sampai lima kilometer, jalannya jalan buaya. Kalau jalan bersyahadat, kalau-kalau ada buaya,” Aguk memberi saran. Fakta riil, di daerah perbatasan sedikit bahkan tak ada guru yang mengajar, TNI malah yang mengambil alih peran itu.

Kampanye pendidikan seperti program pemerintah salah satunya Indonesia Mengajar, bagi Aguk tidak sampai ke yang paling pinggir. Program itu hanya sampai di tingkat kecamatan dan kabupaten yang aksesnya masih lumayan baik.

Masalahnya lagi, untuk mencapai akses pendidikan yang memadai di Malaysia butuh perjuangan yang besar. Orang-orang Indonesia sudah tidak diperbolehkan pergi ke Malaysia secara ilegal. Titik pos perbatasan menjadi hal yang ditakuti, karena sering terjadi konflik di sana. “Bentrok dengan TNI ternyata sering sekali, dan itu kisah nyata,” tutur Aguk.

Daniel Hidayatullah, dosen Fakultas Adab sekaligus penonton memberikan komentarnya. Saat ini penulis Indonesia masih dibuai dengan setting-setting perkotaan dan luar negeri. Namun novel Aguk tersebut memberikan penyegaran dengan mengambil setting yang jarang dipakai. “Indonesia itu ya di situ,” ungkapnya.

Sastra Profetik

Novel Kidung Rindu di Tapal Batas menjadi bentuk kepedulian Aguk kepada masyarakat pinggiran yang ia tuangkan lewat sastra. “Selera sastra kita tidak memihak pinggiran,” kritik Aguk.

Banyak penghargaan dan perayaan sastra yang sarat politik di Indonesia. Aguk pernah menjadi juri salah satu penghargaan sastra di Indonesia, tapi juri-juri di dalamnya pun memiliki jago dan rekomendasinya sendiri, yang itu dekat dengan dia. “Saya tidak bangga dengan penghargaan yang sifatnya politik.”

Baginya, sastra tidak berhenti dalam teks, sastra bukan sekedar alat imajinatif, tapi sastra turut membangun keadaan sosial. Aguk menyebut ini sebagai sastra profetik. “Penulis satu paket. Dia menulis dan berperilaku,” kata Aguk.

Sastrawan tidak diikuti karena bangga akan khayalannya sendiri. Mengatakan hal indah tapi aslinya tidak indah. Yang dibutuhkan sastrawan adalah mempunyai (sedikit) iman, melakukan kerja-kerja sosial, dan membela dari kelaliman. Penulis baginya adalah kepanjangan tangan nabi.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan