111 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Suatu hari di Mesir Kuno, raja Fir’aun Tebh dan istrinya Meth gelisah mendapati bayi mereka Pangeran Sem berkulit kelabu dan lunglai tanpa daya setelah ibu susu menyusui putra mahkota tersebut. Kerajaan gempar dan semua tabib dikumpulkan untuk menyembuhkan. Konflik berkembang setelah sebelumya Fir’aun Theb bermimpi tentang susu yang ganjil.

Begitu cerita pembuka yang ditulis Rio Johan dalam novel terbarunya berjudul Ibu Susu. Rio membuat Ibu Susu dengan riset yang serius, saat ia melakukan program residensi penulis 2016 dari Komite Buku Nasional selama dua bulan di Jerman.

“Ini dongeng, usaha orang-orang untuk mempertahankan kehidupan,” kata Rio dalam acara ngobrol bareng Ibu Susu di Paper Plane Bookstore Gedongkuning, Selasa (24/10). Mendatangkan pemantik sastrawan muda, Risda Nur Widia.

Risda mengatakan, tema yang Rio ambil cukup riskan, karena temanya jarang dibahas. Pembaca digiring untuk memiliki bekal pengetahuan yang cukup (baik internal maupun eksternal) guna memahaminya. “Saya imajinasikan akan membenturkannya dengan peristiwa besar, tapi peristiwa besar hanya sebagai alur saja,” kata Risda.

Banyak hal-hal baru yang Risda temukan. Semacam kisah ibu susu sendiri yang seluruh tubuhnya dipenuhi koreng, tapi ada dua bagian yang sangat mulus. Yakni, dua payudara perempuan itu, kantung susunya.

Tema yang Rio pilih tak lepas dari masa kecilnya. Ia menyukai gaya-gaya kuno. Rio yang mengaku berasal dari keluarga kelas menengah, masa kecil dan remajanya lebih sering digunakan untuk bermain games, membaca komik, membaca mitologi, dan membaca karya-karya fiksi ilmiah. “Saya baca Pram, Budi Darma tahun 2012. Saya gak sekhatam Risda. Saya lebih nyari fiksi ilmiah,” ujarnya.

Rio banyak membaca fiksi-fiksi ilmiah dari Uni Soviet dan Polandia, khusunya saat masa Perang Dingin. Di mana kedua negara ini saling bersaing teknologi untuk bisa ke ruang angkasa. Para sastrawannya pun berlomba-lomba menulis tentang teknologi. Di Jepang fiksi ilmiah juga banyak. Di Italia punya banyak cerita kriminal, karena dilatarbelakangi oleh kondisi negara yang memiliki banyak mafia.

Bahan-bahan penggarapan novel dicari Rio saat melakukan residensi. Ia berkunjung ke beberapa museum yang memiliki koleksi peninggalan Mesir Kuno. Seperti Museum Neues, Museum Louvre, dan Museum Allard Pierson.

“20% nulis, 80% main-main dan jalan-jalan,” kata Rio sambil tertawa. Kegiatan menulis buku tersebut Rio kerjakan di pagi hari. Ia mengaku bukan penulis malam yang suka begadang. Ia lebih suka menulis pagi.

Risda berkomentar, di novel ini Rio banyak memakai kalimat panjang. Rio menjelaskan, kalau melihat karangan Eropa seperti Inggris, penulis-penulisnya suka menulis kalimat panjang. Semacam Ulysses karya James Joyce atau tulisan William Faulkner.

Di dalam situasi-situasi tertentu, bahkan penerjemah terpaksa memotong kalimat panjang. Meski ada juga yang tetap mempertahankan bentuk aslinya. “Saya tergelitik aja, kenapa nggak Bahasa Indonesia bisa nulis kalimat panjang. Satu novel satu kalimat,” Rio memberi saran. Selain kalimat panjang, dari segi teknik yang lain, tanda titik dua (:) dan titik koma (;) jarang dipakai.

Menurut Rio, harusnya penulis yang menguasai bahasa, bukan bahasa yang menguasai penulis. Sedangkan, fungsi bahasa disesuaikan dengan tujuan. Di Indonesia masih cenderung memakai bahasa-bahasa jurnalis yang singkat, padat, dan jelas. “Jurnalis menjelaskan, beda dengan sastra yang meribetkan,” katanya.

Terkait penggunaan data sejarah Mesir, Rio bersikap fleksibel. Risda juga mempertanyakan, “Bagaimana mengolah data sejarah ke tulisan? Atau data itu malah dipermainkan?”. Rio menjawab, “Penyakit fiksi sejarah kebanyakan data dan semua ingin dimasukkan. Nggak ada yang disaring, dipilih. Kebanjiran data, yang saya ambil seperlunya aja.”

Sastra Dunia Ketiga

Rio memiliki pengalaman mengobrol dengan beberapa penerbit luar negeri. Menurut orang-orang dari penerbit tersebut, di Indonesia sastranya adalah sastra dunia ketiga. Sastra yang laku ialah sastra tentang politik dan itu mempersempit wacana-wacana sastra yang berkembang. “Agak disayangkan,” ungkapnya.

Soal tema sosial politik seperti 65, 98, dan kolonial Rio merasa tidak dekat dengan tema itu. Di tahun 1998, dirinya masih berumur delapan tahun. “Saya nggak belajar itu. Saya nggak punya kapasitas untuk berpolitik secara kritis lewat buku,”katanya. “65 semua dari sudut pandang korban, nggak ada yang dari pelaku. Ya, sayang aja sih. Harusnya ada penulis yang berani,” tambahnya.

Penulis segenerasi Rio seperti Norman Erikson Pasaribu dan Dea Anugrah lebih mengambil bentuk gaya baru, seperti Norman terpengaruh dengan Henry Miller dan Dea yang terpengaruh dengan gaya Etgar Keret. Dibantu pula oleh akses informasi yang sangat bagus.

Terkait gaya, Rio adalah tipe penulis yang tidak percaya dengan “workshop kepenulisan”. Gaya menulis didapat dari proses semi sadar, yakni membaca. Ketika penulis membaca, ia akan menemukan berbagai macam gaya tulisan yang disuka dan tidak disuka.

Lalu, otak akan memilah sendiri mana gaya yang cocok dari sekian banyak penulis, lalu gaya itu membaur jadi satu dan membentuk gaya menulis itu sendiri. “Banyak baca aja sih jawabannya,” ujar Rio.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan