168 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ahmad Bagus Nur Akbar*

Telinga kita tampaknya sudah sangat akrab terhadap berita-berita mengenai krisis dan bencana lingkungan global. Entah itu meluapnya pencemaran sungai, hujan asam, hingga kasus jual beli satwa liar dan lainnya. Kasus konkretnya kita bisa melihat lumpur yang terjadi di Sidoarjo. Lumpur yang diakibatkan kecerobohan PT Lapindo Brantas tersebut hingga kini masih terasa efeknya. Lebih dari 400 Ha kehidupan di sekitarnya lumpuh dikarenakan terendam lumpur beracun tersebut. Kita juga bisa melihat limbah yang dibuang PT Freeport dan juga PT Indo Rayon yang mencemari sungai-sungai, sehingga para masyarakat sekitar kesulitan air bersih. Akibat dari perbuatan tersebut bukan saja berimbas pada kehidupan manusia, lebih dari itu mempengaruhi kehidupan alam seluruhnya. Sejatinya apa yang mendasari manusia melakukan perilaku tersebut?

Pada hakikatnya, tulisan ini bukan untuk memberi solusi atas permasalahan di atas, akan tetapi lebih menukik masuk ke dalam cara pandang atau paradigma kita yang memungkinkan bertindak dan melakukan perbuatan yang tidak peduli pada alam. Dengan paradigma Thomas Kuhn, Fritjof Capra seorang fisikawan yang juga filsuf lingkungan hidup mengatakan, “Krisis pemahaman ini bersumber dari kenyataan bahwa kebanyakan di antara kita, secara khusus institusi-institusi sosial kita yang besar, menganut cara pandang yang sudah ketinggalan zaman, sebuah pemahaman tentang ralitas yang sudah tidak memadai lagi dalam memahami dunia kita yang padat penduduk dan berhubungan satu sama lain secara global ini.”

Capra menggambarkan paradigma yang selama ini mendominasi budaya barat sekaligus membentuk masyarakat modern dan juga mempengaruhi dunia pada umumnya yaitu, paradigma mekanistis yang ditenggarai Descartes dan juga Newton; menuju paradigma baru yang lebih sistemis-ekologis. Sejalan dengan itu A. Sonny Keraf dalam Filsafat Lingkungan Hidup mengatakan, “krisis dan bencana lingkungan hidup saat ini di sebabkan oleh kesalahan perilaku manusia, kesalahan perilaku manusia disebabkan oleh karena kesalahan cara pandang atau paradigma berpikir. Oleh karena itu dibutuhkan perubahan perilaku yang hanya bisa terjadi dengan melakukan perubahan paradigma berpikir.”

Dengan menggunakan analisis paradigma Kuhn, Capra melihat paradigma mekanistis terhadap alam menjadi akar dari segala bencana dan krisis lingkungan hidup global sekarang ini. Paradigma mekanistis merupakan sebuah cara pandang yang berpatron pada Descartes dan Newton. Untuk mencapai kebenaran yang mutlak menurut Descartes kita harus meragukan segala sesatu, termasuk pengetahuan-pengetahuan yang terdahulu hingga sampai pada kenyataan yang tidak bisa kita ragukan lagi bahwa kita sedang berpikir. Kenyataan bahwa kita sedang berpikir tidak bisa diragukan lagi, kalau kita ragu bahwa kita sedang meragukan, itu merupakan sebuah kontradiksi. Descartes yang sering disebut sebagai bapak filsafat modern ini maka memunculkan tesis Cogito, ergo sum.

Lewat pemikirannya tersebut Descartes sangat mengandalkan penalaran analitis, yang berpengaruh terhadap ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan rasional yang menggunakan akal budi menjadi cara pandang utama ilmu pengetahuan modern. Cara pandang yang mengandaikan alam bisa dipandang hanya dengan melihat berbagai bagian-bagiannya. Pengetahuan yang mengandalkan kemampuan perasaan dianggap tidak rasional dan juga tidak ilmiah. Akibatnya pemujaan akal budi yang dilakukan Descartes tersebut berpengaruh dalam cara pandang manusia terhadap alam. Alam tidak mempunyai kemampuan rasional layaknya tubuh. Maka alam dianggap tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Tubuh dipahami sekedar sebagai sebuah mesin yang bergerak secara mekanistis, demikan halnya alam yang dipahami sebagai sebuah mesin raksasa bergerak dan berada dengan ditentukan oleh bagian-bagiannya.

Sebagaimana dikatakan Fritjof Capra, “Pemisahan antara tubuh dan jiwa melahirkan cara pandang tentang alam semesta sebagai sebuah sistem mekanistis yang terdiri dari objek-objek terpisah, yang pada gilirannya direduksi kepada potongan-potongan material dasar yang keseluruhan ciri dan interaksinya dianggap menentukan sepenuhnya fenomena alam.” Pemahaman mekanistis tentang alam semesta ini didasarkan pada pemisahan yang radikal antara bagian dan keseluruhan, di mana keseluruhan tubuh dan alam semesta direduksi menjadi bagian-bagiannya yang terpisah. Dengan begitu memahami alam berarti memahami bagian-bagiannya dengan kemampuan akal budi manusia tanpa melibatkan kemampuan seluruh tubuh, termasuk perasaaan dan intuisi manusia.

Descartes dengan filsafatnya mempengaruhi Isaac Newton, seorang fisikawan. Newton mengembangkan sebuah rumus matematika dalam cara pandang mekanistis tentang alam semesta. Ia menemukan sebuah metode baru yang disebut sebagai kalkulus difrensial untuk mengurai gerak benda-benda padat. Yang kemudian disebut sebagai puncak pencapaian ilmu pengetahuan abad ke-17. Dalam mekanika Newton, semua materi fisik bergerak melalui gayanya masing-masing, yaitu oleh gaya gravitasi. Akibatnya, sama halnya dengan Descartes, cara pandang Newton terhadap alam semesta hanyalah sebagai sebuah mesin raksasa. Bagaikan jam tangan yang diciptakan penciptanya lalu kemudian bergerak melalui hukum fisikanya yang diasumsikan pasti dan bisa diprediksi.

Dalam paradigma Descartes dan Newton itulah kita dihidangkan dengan alam yang kering, mati, tandus yang kita jumpai tanpa adanya pendekatan melalui perasaan dan intuisi begitupun panca indra kecuali akal budi kita. Alam yang dipahami dalam hitung-hitungan matematis yang bisa diprediksi dan diukur. Bukan alam yang kita dekati dengan perasaan kita, dengan keterpesonaan, kekaguman dan ketakutan dan lainnya. Alam kehilangan hakikatnya, alam kehilangan nilai etis, spritual, jiwa ataupun rohnya.

Penekanan terhadap rasionalisme, metode ilmiah dan juga kemampuan analisis melahirkan sikap yang anti-ekologi, sikap dominasi, eksploitatif pun merusak terhadap alam, karena alam dianggap sebagai sebuah mesin raksasa yang berfungsi secara mekanistis tanpa mempunyai nailai pada dirinya sendiri untuk dilestarikan. Sebuah cara pandang yang beranggapan bahwa alam sesungguhnya terdiri dari bagian-bagiannya yang terpisah, yang karena itu mengubah dan merusak salah satu bagian tidak akan mempengaruhi bagian lain dan keseluruhannya dengan tidak mempertimbangkan kelestarian alam selanjutnya. Dengan begitu manusia melulu memanfaatkan alam bukan lagi sebatas kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan, akan tetapi lebih karena sebagai sebuah akumulasi profit.

Untuk melampaui ini maka perlu perubahan cara pandang atau paradigma baru terhadap alam yang nantinya manusia mampu berprilaku lebih baik lagi. Ialah dengan paradigma sistemik. Cara pandang yang ekologis ini alam di pandang sebagai sebuah sistem kesatuan menyeluruh, terikat ke dalam sebuah relasi yang saling mempengaruhi bagian satu dengan bagian lainnya. Alam semesta dilihat sebagai kesatuan yang menyeluruh yang terhubungkan satu sama lain, bukan terdiri dari bagian-bagian yang terpisah sebagaimana dalam cara paradigma mekanistis. Yang ditekankan dalam pandangan ini ialah adanya relasi antara berbagai bagian di alam semesta, sehingga saling mempunyai keterikatan. Apabila ada suatu masalah pada bagian alam maka itu berdampak pada yang lain. Misalkan pada kasus di Rembang, pegunungan karst Watu Putih merupakan kawasan hutan lindung geologi jika kita melihat perda Jawa Tengah Nomor 14 tahun 2011 pasal 19a. Di pegunungan tersebut banyak ular sekaligus menjadi sarangnya, jika ini dikeruk dan dieksploitasi itu berdampak pada eksistensi ular tersebut. Sehingga memungkinkan rantai kehidupan terganggu, tikus yang menjadi hama bagi ladang sawah masyarakat sekitar mencapai puncaknya, dikarenakan tidak ada yang mengontrol populasi tikus tersebut. Maka pada akhirnya masyarakat sekitar khususnya dan manusia pada umumnya mengalami gagal panen hingga mengakibatkan kekurangan stok pangan.

Dengan paradigma ini sejatinya merupakan ajakan untuk memahami dan menghayati alam sebagaimana apa yang di pahami dan dihayati oleh berbagai masyarakat adat di dunia. Alam dipandang sebagai sebuah satu kesatuan yang asasi dengan kehidupan manusia, karena jika memelihara alam berarti sekaligus memelihara kehidupan manusia sendiri. Pun sebaliknya, jika merusak alam berarti merusak hidupnya sendiri. Ada berbagai macam pamali, ritual atau upacara adat terhadap alam sebagai bentuk relasi yang saling menghormati, menyayangi, mengasihi, saling menunjang kehidupan dan juga saling merawat. Alam di dekati dengan perasaan dan intuisi berbeda dengan paradigma mekanistis yang melulu dengan akal budi. Sehingga paradigma ini perlu untuk ditanamkan oleh tiap individu masyarakat kita, sehingga pelak nantinya kehidupan alam semesta bisa menjadi lebih baik lagi.[]

*Penulis mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga.

Sumber ilustrasi: http://bennisetiawan.blogspot.co.id