214 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: M. Abd Rouf*

Tahukah wahai kawan-kawanku sekalian kalau sebentar lagi di kampus kita ini akan ada hajatan? Agenda menahun dari beberapa masa silam yang sampai sekarang masih dirayakan. Setiap dua tahun sekali tepatnya. Kata beberapa teman sih nama hajatannya “PEMILWA”. Singkatan dari Pemilihan Umum Mahasiswa, bisik beberapa teman saya lainnya.

Kalau tidak tahu, mungkin kawan-kawan sedang menjalani kehidupan seorang yang zuhud (terlepas dari kompleksitas duniawi). Bertapa di gua kesunyian serta jauh dari berisiknya peradaban sekarang ini yang gandrung teknologi. Tidak mau tahu dengan situasi kampus hari-hari ini. Mungkin ya memang kalian tidak butuh pengetahuan itu, karena tidak memerlukan si pemimpin mahasiswa ini, mungkin.

Tetapi saya rasa selentingan kata PEMILWA 2017 sudah menyambangi telinga serta mata kawan-kawanku sekalian. Secara, ini hajatan besar lho. Beberapa sampai melabeli ini dengan sebutan “pesta demokrasi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga”. Sungguh, pesta mana lagi yang akan kalian dustakan kebesarannya.

Kalau sampai masih ada yang tidak tahu bisa jadi si petugas pesta kurang sosialisasi. Toa-toanya sedang kedinginan barangkali jadi tidak sempat menyuarakannya sampai membisingi pojok-pojok marjinal UIN. Harap maklum, sedang ada badai. Tapi di zaman yang apalah ini dengan informasi yang sepersekian detik bisa terakses mudah—juga bisa berubah-ubah—oleh gadget kawan-kawanku semua, informasi tentang pesta ini tidak akan luput pastinya. Bagi yang mau tahu juga sih.

Saya infokan, nanti, di pesta itu katanya kalian akan disuruh memilih satu dari beberapa nama—ada gambarnya juga kadang. Sesuai selera masing-masing. Mana yang sedap di hati silakan ambil. Tidak mau memilih juga tak masalah. Wong itu cuman soal hak kok, bukan kewajiban.

Golput (Golongan Putih) nama keren bagi kalian yang kekeuh nanti kalau tidak mau memilih. Hati-hati, ini sudah kena stempel haramnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) lho. Apa kalian lupa tahun 2009 silam, tepatnya tanggal 25 Januari di Padang Panjang, Sumatera Barat, di Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III, MUI memutuskan fatwa haram bagi Golput. Dengan penjelasan kalau masih ada pemimpin yang layak pilih. Namun bila tidak dijumpai, tetap harus memilih calon yang baik dari yang terburuk. Bisa tidak laku jual nanti kalian kalau sudah kena cap haramnya. Kita UIN lho, masyaallah, na’udzubillah.

Tetapi tunggu dulu, MUI ini kok maksa ya. Bukannya Undang-Undang memberi penegasan kalau ini itu persoalan hak, bukan hukum haram, wajib, apa sunnah. Saya tidak taulah kenapa itu si MUI.

Nah, kalau nanti kawan-kawanku ini ada yang mau memilih tapi tidak tahu siapa itu nama-nama yang dipajang janganlah gusar. Si panitia sudah mempersiapkan agenda meet and greet—berlagak sok keren—dengan para hadirin mulai tanggal 4-7 Desember mendatang. Bahasa sederhananya pencitraanlah. Ini sangat penting bagi nama-nama terpajang. Karena berfungsi untuk menunjukkan siapa sih mereka, baik secara individu maupun kelompoknya, serta posisi sosialnya dalam kehidupan kampus yang merangkum soal kepentingan dan berbagai perasaan yang terkait erat dengan posisi tadi, kata Prof. Wertheim. Jadi, perhatikanlah dengan saksama dan dalam tempo yang seperlu-perlunya—maaf maksa.

Orang-orang yang berdiri di depan kawan-kawan nanti harus benar-benar dilihat betul, jangan sampai lolos. Salah satu dari mereka nantinya akan memimpin kalian dalam revolusi kemerdekaan mutlak 100% yang tempo kemarin dihantarkan oleh pendahulu hanya sampai pintu gerbang saja. Barangkali dari deretan nama itu ada yang dikenal dan pernah lantang menyuarakan isu-isu pendidikan bersama kawan-kawan di depan kantor rektor. Atau malah teman satu kelas dalam beberapa mata kuliah. Akan memudahkan tentunya dalam memilih esok mana yang baik dari yang terburuk. Mau bagaimana lagi adanya itu, kalau mau memilih.

Kalau ada yang kurang mengenal mereka meskipun sudah berlangsung tanya jawab dan mendengarkan celotehannya jangan juga khawatir. Saya kasih tahu, mereka ini orang hebat. Mahasiswa yang tidak tahu sama sekali bisa dibuat tahu detail raut mukanya seperti apa. Saya kasih tahu kehebatannya, tetapi jangan asal bicara ke banyak orang. Mereka itu punya jurus Kage Bunshin-nya Naruto. Saya bisa membuktikannya. Lihat saja, esok mereka akan berubah jadi banyak. Ada yang mejeng di spanduk, muncul di balik kursi kuliah dalam tempelan stiker dengan balutan wajah yang sedikit dipaksakan, dan ada yang berorasi mengobral demokrasi serta keadilan. Kalau bertemu mereka dalam bentuk lain tolong kasih tahu kawan yang lain biar omongan saya tidak salah.

Dengan begitu kawan-kawan sekalian akan lebih mantap hatinya kalau mau melilih. Kalau masih saja tetep tidak mau memilih, santai saja. Aman kok. Dijamin dalam undang-undang apa yang menjadi keputusan masyarakat mahasiswa UIN semua.

Setelah kawan-kawan memilih salah satu nama tadi dan semua agenda terlaksanakan, puncak dari pestanya sendiri dijadwalkan oleh si panitia yaitu terpilihnya sang presiden mahasiswa UIN Sunan Kalijaga periode ini, beserta wakilnya juga. Jatah waktu dua tahun diberikan untuk melaksanakan tugas sebagai wakil dari rakyat (red: mahasiswa). Bukan wakil dari para pemilihnya saja, tetapi semua yang masih hutang SKS dan belum Munaqosah pun dia wakili kepentingannya. Kepentingan yang beraneka warna juga bentuk. Ada yang kepingin UKT-nya turun karena tidak sesuai dengan ekonomi keluarga, ada yang ingin menjadikan organisasi mahasiswa ini sebagai garda depan kekinian dalam mengawal problematika kehidupan kampus, ada juga yang berharap mereka tidak hanya berseminar ria saja sampai akhir musim, juga ada harapan agar para wakilnya tidak bertindak politis dan berdiri sebagai kelompok elit yang tercerabut dari rakyat (red: mahasiswa), beberapa pun ada yang berkeinginan sebagai penggagas gerakan anti narkoba di kalangan mahasiswa, serta masih banyaklah kepentingan-kepentingan yang beredar.

Pemimpin baru, harapan baru untuk kepentingan kawan-kawanku semua bisa diwakili. Kalau toh tidak, jangan langsung berisik tanpa mutu. Bersabarlah. Apa kalian tidak tahu kita ini sedang berada di sistem pemerintahan mahasiswa yang seperti apa? Demokrasi lho. Apakah kawan-kawan tidak tahu juga kalau di sistem demokrasi bagaimana nasib kepentingan yang malang-melintang di setiap periodenya ini? Jadi seperti ini, dari penjelasaanya Vedi Hadis diterangkan benar semua kepentingan tadi harus diakomodir. Tetapi, setiap kepentingan mempunyai kedudukan yang tidak sama.

Jadi tetap tenang, eratkan ikat pinggang dan bersabar, kalau memang kepentingan dari kawan-kawan tidak diwakili dalam praktiknya oleh para wakil. Bisa jadi kepentingan kawan-kawan semua berada di nomer kesekian tertumpuk banyak kepentingan lain di atasnya dan sampai tidak terlihat oleh mata para wakil. Hingga berakhirnya musim para wakil tidak sempat menengok kepentingan kalian semua.

Maklumilah keadaan yang ada wahai kawan-kawanku semua. Anggap saja ini sebagai rutinitas. Seperti masuk kelas, mengisi absensi, mendengarkan dosen menceritakan keilmuan, kemudian pulang. Besoknya lagi seperti itu sampai diwisuda. Begitu juga dengan adanya pesta ini. Kita memilih juga ada yang tidak memilih, ada yang terpilih jadi presiden mahasiswa, mereka bekerja sebagai waki kepentingan semua mahasiswa, ada kepentigan yang berada paling buncit dan tidak terlirik, mereka lengser, dan ada pesta lagi. Seperti itu.

Saya pribadi menyarankan kepada kawan-kawan semua lebih baik persiapkan baju terbaru yang dimiliki—seadanya juga tak apa sih. Bersoleklah semenawan mungkin. Karena kita akan berpesta (lagi).[]

*Penulis mahasiswa tingkat akhir jurusan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga. Pengamat Pemilwa.

Sumber ilustrasi: pelajaransekolahonline.com