180 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Puluhan solidaritas yang berangkat dari berbagai latar belakang organisasi melakukan aksi gotong royong di halaman masjid AL Hidayah, Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Selasa(5/12) sekitar pukul 17.00 WIB.

Kerja bakti tersebut dilakukan untuk menutup lubang yang digali oleh backhoe Angkasa Pura 1 di pintu masuk ke masjid Al Hidayah dan Posko Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP KP).

Tidak hanya itu, backhoe juga mengali lubang seperti parit dengan kedalaman sekitar setengah meter di tepian jalan yang menjadi akses menuju rumah warga yang masih bertahan menolak konsinyasi. Sebagaimana diketahui sebelumnya, penggalian lubang di depan masjid tersebut dilakukan pada saat jumlah solidaritas di posko dan rumah-rumah warga hanya sekitar tiga puluh orang.

Menurut Hinawan Kurniadi Koordinator Lapangan Solidaritas penolak New Yogyakarta International Airport (NYIA) , tindakan tersebut mengganggu akses warga.

“Akses mereka kan jadi terputus,” ungkap Sarjana lulusan Universitas Negeri Yogyakarta tersebut di halaman posko kepada ARENA semalam. Senada dengan Adi, Ahmad Shalahudin mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Teologi Universitas Kristen Dutawacana (UKDW) yang turut bersolidaritas juga memandang lubang-lubang tersebut menutup akses antar warga.

Solidaritas Bersama

Ahmad Shalahudin yang sering terlibat dalam gerakan solidaritas mempercayai ada dua kesempatan yang membuat orang berkumpul. Pertama adalah common interest atau kepentingan bersama. Kedua common enemy atau musuh bersama. Pada kesempatan ini menurutnya sudah jelas musuh bersama melawan kedzaliman. Fakta-fakta lapangan serta hasil riset yang sudah lama disampaikan ahli harusnya menjadi pertimbanagan PT angkasa Pura 1.

“Sebagai basis mahasiswa tentu ya kita harus mendorong juga dari bawah,” jelas lelaki yang biasa dipangil Udin tersebut.

Seusai gotong royong tersebut anggota solidaritas dibagi kelompok untuk menjaga 38 rumah warga yang masih menolak konsinyasi. Setiap rumah dijaga sekitar sepuluh relawan. Berdasarkan penelusuran ARENA  pada beberapa warga penolak bandara, polisi, intel, dan preman kerap mendatangi atau melewati rumah-rumah. Hal tersebut memunculkan kesan menakut-nakuti.

Sementara itu sampai saat berita ini dituliskan ARENA belum sempat menghubungi pihak Angkasa Pura 1.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Wulan