Belajar Melawan

Oleh: Doel Rohim*

“ Tugas kami adalah  melindungi ibu bumi. Kami tidak akan berhenti melawan,” ucap Sukinah (Kompas, 13/4/2015) Tegal Dowo, Rembang.

Ungkapan di atas sangat tegas, secara redaksional mencerminkan suatu yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam arti bagaimana ungkapan tersebut menjadi simbol adanya ketegasan sikap dan gairah untuk terus bertahan dan melawan. Begitulah ungkapan yang menurut saya menjadi sebuah jawaban dalam menghadapi keruwetan persoalan sosial pembanguan di negeri kita ini.

Hanya dengan meneguhkan sikap dan menancapkan rasa perlawanan ketidakadilan, penindasan, dan kesewenag-wenangan akan dibendung dan dihancurkan. Perlawanan memang sebuah keniscayaan dalam menggapai kedamaian, tak akan mungkin kita dapatkan kedamaian tanpa melalui adanya sebuah proses yang bercucuran keringat. Bahkan berdarah-darah kalau kita tidak ingin ditelan oleh sejarah yang kadang kejam.

Sekarang ini (12/4) kita digegerkan dengan aksi yang dilakukan oleh sembilan perempuan: Sureni, Deni, Sukinah, Ngadinah, Karsupi, Ambar Wati, Giyem, Murtini, dan Sutini dari Rembang di depan istana yang merelakan kakinya dibelenggu dengan semen. Aksi yang dilakukan untuk mengetuk relung hati penguasa untuk menagih janji keadilan yang pernah dijanjikan. Aksi ini menjadi simbol perlawanan atas pembanguan pabrik semen di Rembang yang mengancam jalan hidup petani kecil yang megantungkan hidupnya dari sepetak tanah yang menjadi tumpuan.

Aksi yang dilakukan bukan hanya sekedar untuk menuntut keadilan semata, tetapi yang terpenting dari itu menurut saya adanya simbol perlawanan dengan model terbarukan di tengah kepesimisan atas tuntutan yang tak kunjung diperhatikan oleh penguasa. Hal ini menjadi penting di tangah teriakan megafon yang hanya dianggap nyanyian, dan aksi memboikot jalan dituding sebagai orang yang tak punya kerjaan dan mengagu ketertiban. Begitupun diplomasi hanya didengar terus dilupakan. Aksi dibelenggu semen ini mengisyaratkan adanya ranah nurani yang menjadi obyek yang diserang untuk mengetuk nurani manusia yang mempunyai kuasa. Karena naluri atau hati yang terdalamlah yang bisa diharapkan ketika nalar sudah tidak selaras dengan hati terdalam.

Fenomena seperti ini nampaknya harus kita perhatikan seksama sebagai bahan renungan untuk menatap kehidupan ke depan. Tidak hanya seremonial atau ajang untuk menaruh perhatian terhadap kaum terpinggirkan. Lebih jauh dari itu semua fenomena di atas mengisyaratkan untuk mengedepankan hati terdalam dari pada nalar yang kadang buta untuk melihat persoalan secara lebih berkemanuasiaan.

Moralis memang, tetapi mungkin hanya itu yang bisa dilakukan di tengah ketidaktatanan logika yang ada sekarang. Perjuangan membelenggu kaki dengan semen mungkin menjadi pilihan yang paling mungkin dilakukan. Ketika ranah sosial sudah dikuasai oleh keterkukungan pemodal, mulai dari media, institusi penegak keadilan, apalagi intansi pemerintahan. Semua sudah ter-setting untuk memanjakan korporasi untuk mendulang keuntungan.

Terus apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa, mungkin inilah pertanyaan yang saya rasa paling sulit untuk dapat kita jawab dalam konteks saat ini? Apakah hanya diam itu bukan  sebuah jawaban. Atau tetap sama dengan pola lama berteriak di jalan, memblokir jalan menurut saya kurang relevan. Tetapi satu, dan ini hanya tawaran dari ketidakmampuan saya untuk memberi jawaban, yaitu  teruslah melawan yang dimulai dari diri sendiri untuk terus mengerti persoalan dan turunlah ke pokok persoalan. Mungkin dari itu kita akan lebih bisa berguna di tengah ketidakberdayaan kita sekarang.

Atau hanya ada satu pilihan yaitu: Maju terus atau mati selamanya. []

*Penullis jemaat Arena.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of