Surat Cinta untuk UISU

Surat Cinta untuk UISU

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah

Akhir-akhir ini sudah mulai timbul keresahan mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), baik yang akan wisuda maupun mahasiswa yang masih aktif diperkuliahan yang menghabiskan mata kuliah. Keresahan mahasiswa UISU yang dirasakan saat ini beralih dari keresahan-keresahan sebelumnya. Keresahan sebelumnya adalah terkait Dualismenya Kampus UISU, baik dari Pengurus Yayasan hingga civitas akademika, sampai-sampai pada dualisme mahasiswanya juga. Setelah keresahan (baca: dualisme) itu berakhir pada awal-awal tahun 2014, semua pihak yang ada di UISU atau di luar UISU merasakan kebahagiaan dan bersujud syukur pada Allah karena UISU sudah satu, kemudian sama-sama mengharapkan UISU akan lebih baik lagi.

Akan tetapi, di pertengahan tahun 2016, keresahan muncul kembali lagi dengan masalah atau objeknya yang berbeda. Keresahan yang dirasakan oleh mahasiswa saat ini adalah terkait akreditasi, yang mayoritas di setiap fakultas atau jurusan yang ada di UISU sudah mati/habis masanya. Kampus Islam yang diandalkan sejarah dan prestasinya tidak menjadi kampus favorit lagi dimata masyarakat. Tuntutan mahasiswa pun beralih, dahulunya mahasiswa UISU menuntut supaya UISU bersatu, kini mahasiswa menuntut supaya akreditasi diurus secepatnya.

Dalam pemikiran saya, timbul suatu pertanyaan, untuk apa itu akreditasi? Sebaiknya kita belajar saja dan menguasai suatu ilmu dengan baik, itu sudah cukup bahkan lebih, melakukan kajian-kajian ilmiah, melakukan penelitian, mengasah skill, dan lain sebagainya. Untuk apa ketergantungan dengan akreditasi itu? Biarlah Allah SWT yang mengangkat derajat kita jikalau kita benar-benar beriman dan berilmu. Toh, dahulu (zamanya para filosof, ilmuan, dan Fuqaha) belajar disuatu tempat tanpa ada akreditasi-akreditasian. Malah mereka yang lebih berhasil dan menjadi rujukan dalam keilmuan. Yang penting belajar, berilmu dan mempunyai kemampuan untuk menopang kehidupan.

Pada saat saya berdikusi lepas dengan beberapa mahasiswa UISU dari berbagai fakultas yang ada di UISU. Ternyata, pemikiran saya tadi tidak sepenuhnya dapat diterima oleh mereka. Seperti informasi yang saya dapatkan dari salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU, mereka tidak dapat untuk mengikuti ujian spesialis di Universitas Sumatera Utara (USU) karena akreditasi fakultas kedokteran UISU itu “C” sedangkan fakultas kedokteran USU akreditasinya “B”. Sebahagian mahasiswa dari jurusan lain mengatakan sangat susah diterima kerja disuatu perusahaan jikalau akreditasinya rendah atau tidak ada akreditasinya.

Baca juga  Mengurai Benang Kusut Intoleransi

Saya tak dapat menyalahkan apa tujuannya mereka kuliah, wajar-wajar saja mereka punya target atau tujuan mengingat persaingan hidup semakin ketat apalagi dalam dunia pekerjaan. Janji-janji kampus pun terus kita tunggu, yang sampai saat ini belum mendapatkan hasil. Akankah mahasiswa terus menunggu haknya sedangkan kewajibannya (seperti membayar uang kuliah) terus dipaksa menyelesaikannya tepat waktu. Kalau tak tepat waktu tidak diberi kesempatan ujian? Bagaimana kalau mahasiswa membuat sebaliknya, tak ada akreditasi tak usah bayar uang kuliah?

Bagaimana solusinya?

Dalam Surat Cinta ini, ingin rasanya saya memberikan solusi atas masalah keresahan ini supaya tidak berkepanjangan. Walaupu solusi yang ditawarkan ini masih dalam keadaan umum dan singkat, kiranya dapat menjadi bahan kajian kita semua, bagi warga UISU dalam hal memperbaiki kampus tercinta, UISU khususnya teman-teman mahasiswa UISU.

Ada suatu keyakinan dalam diri saya, bahwa UISU akan kembali jaya baik akreditasinya (non-fisik) maupun secara fisiknya. Hal ini juga sering saya diskusikan dengan berbagai pihak baik dari pihak luar UISU dan pihak dalam UISU. Kampus tercinta kita ini kembali jaya secara fisik dan non-fisik apabila:

Pertama; UISU harus benar-benar diwakafkan dan dikelola oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Saya yakin, banyak sekali pihak yang sependapat dengan hal ini. Kita dapat menjadikan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sebagai contoh. Sebagai kampus tertua dan pusat pendidikan tinggi islam (awalnya), UISU tidak jauh lebih dari UII. Ada pun tujuan mewakafkan UISU dengan sebenar-benarnya demi mengharapkan ridho dan keberkahan dari Allah SWT. Kalaulah Allah sudah meridhoi dan memberkahi UISU, yakinlah, rejeki dari Allah untuk UISU akan didatangkan-Nya baik dari bawah (bumi) maupun dari atas (langit). Dengan benar-benarnya diwakfkan UISU ini, bantuan yang ikhlas dari berbagai pihak yang ingin membangun UISU akan datang dari arah yang tidak bisa kita ketahui.

Kedua; UISU harus dimanajemen dengan baik dan benar, sesuai dengan syariat Allah SWT.  Maksudnya, manajemen yang dilakukan di UISU bukan hanya secara fisik saja tapi non-fisik juga. Seperti peminaan-pembinaan kualitas SDM UISU secara berkesinambungan, peraturan UISU harus Islami. Seluruh pihak yang ada di UISU harus anti riba dan bekerja dalam ikhlas beramal dan tidak saling menyalahkan. Dengan hal ini akan terwujud UISU yang kondusif.

Baca juga  PENERIMAAN ANGGOTA BARU LPM ARENA 2016

Ketiga; tingkatkan kerja sama yang baik. Masukdnya, untuk memperbaiki UISU tidak cukup hanya dikerjakan oleh sekelompok saja, seperti birokrasi UISU saja. Seluruh pihak yang ada di UISU harus bekerja sama, bergotong royong, dan saling mengingatkan kalau ada yang salah. Mahasiswa juga jangan hanya pandai menuntut, mengkritisi dan demonstrasi, tapi harus mampu melakukan kerja nyata yang ilmiah dan Islami. Intinya, saling mendukung dalam memperbaiki UISU dan saling berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Keempat; rubah mindset. Maksudnya, marilah kita rubah cara pikir kita, bahwa di UISU bukanlah mencari penghasilan, tapi di UISU adalah tempat mengabdikan diri untuk kepentingan umat Islam dalam mengharapkan ridho Allah SWT. Terkhusus untuk mahasiswa, jadikanlah UISU untuk tempat menimba ilmu.

Kelima; tingkatkan kecintaan pada UISU. Sebagai kampus Islam tertua di luar Pulau Jawa, dengan keeleganan sejarahnya, dengan perestasi segudang yang diraihnya, dengan mahasiswanya yang berkualitas dan alumni-alumninya yang berkualitas dan sudah sukses. Banyak sekali kelompok yang ingin menghancurkan UISU, baik dari dalam kampus sendiri maupun dari luar kampus UISU. Baik dia itu yang menjadika UISU ladang bisnis maupun untuk kepentingan pribadi. Akan tetapi, dengan kecintaan kita pada UISU karena Allah SWT. yakinlah kita akan terus dapat menjaganya dari tangan-tangan zalim itu. Cukuplah Allah SWT yang jadi penolong bagi kita. Tanamkan kecintaan pada UISU, untuk mahasiswa UISU, Pengurus Yayasan UISU, Civitas Akademika sampai kepada security karena Allah SWT. bukan karena jabatan atau pun penghasilan.

Demikian solusi singkat dalam Surat Cinta ini. Sebenarnya, banyak sekali yang ingin saya sampaikan. Insya Allah pada kesempatan lain kali saya dapat menulisnya kembali dalam rangka usaha memperbaiki UISU walau lewat dari sumbangan gagasan dan ide pemikiran. Mudah-mudahan hal di atas dapat menjadi bahan kajian untuk kita semua. Apabila ada kata-kata yang salah atau menyinggung perasaan, pada Allah saya mohon ampun, pada pembaca saya mohon dimaafkan.

Bahagia UISU…

Jayalah umat Islam…

Berlomba-lombalah dalam kebaikan…

Yakin usaha sampai…

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Medan,   20 Dzulkaedah 1437 H

24 Agustus        2016 M

Ibnu Arsib Ritonga (nama pena), penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum UISU, stambuk 2011.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of