177 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Muhammad Sidratul Muntaha Idham*

Salah satu hal yang menarik dari evolusi peradaban adalah menemukan bahwa kita hidup hanya untuk hidup. Entah seperti apa kehidupan yang kita jalani, bahagia atau menderita. Selama gen kita bisa mereplikasi dirinya jauh lebih banyak daripada sebelumnya, kehidupan kita bisa dikatakan sukses.

Jika kita melihat kembali sejarah revolusi agrikultur, di satu sisi hal ini merupakan bencana besar bagi kebahagiaan tapi sangat sukses dalam meningkatkan populasi manusia. Bayangkan saja, dulu kita hidup dengan mengumpulkan berbagai buah-buahan, mendapatkan berbagai protein dari hasil buruan yang beragam, mengenal teritori yang lebih luas, dan satu suku bisa hidup egaliter karena kehidupan mereka yang berpindah-pindah tidak memungkinkan mereka untuk memiliki populasi yang banyak.

Setelah revolusi agrikultur, manusia menetap di suatu tempat dan memfokuskan dirinya pada produksi makanan yang memungkinkan untuk didomestikasi. Di satu sisi, mereka mendapatkan surplus makanan sehingga populasi yang dapat dihidupi lebih banyak. Namun sisi lainnya, protein yang dikonsumsi dari makanan tidak lagi beragam (hanya padi-padian dan berbagai hewan yang pada saat itu tidak terlalu rewel untuk diternak).

Kehidupan agrikultur juga memungkinkan manusia mendomestikasi kuman secara tidak langsung. Dulu ketika mereka masih hidup nomaden, mereka tidak perlu takut akan berurusan dengan kuman-kuman yang ada di kotoran mereka, tapi kehidupan agrikultur ternyata membawa kesialan. Hidup menetap ternyata tidak hanya membuat mereka berurusan dengan kotorannya sendiri, tapi juga kotoran hewan ternaknya walaupun pada akhirnya kotoran tersebut bermanfaat bagi pertanian mereka.

Kuman yang hidup di kotoran tersebut awalnya tidak menganggu, tapi seperti makhluk hidup yang lain, mereka terus berevolusi untuk kelangsungan hidup spesies mereka. Mereka berevolusi agar bisa hidup di tubuh-tubuh hewan bahkan manusia. Pada akhirnya, agrikultur pada saat itu menjadi lebih berat karena mereka harus menghadapi berbagai epidemi yang mematikan. Saat itu juga, manusia berevolusi menciptakan antibodi untuk mempertahankan eksistensi spesiesnya.

Peningkatan survivalitas manusia karena epidemi kuman memang patut disyukuri, tapi hidup bersama epidemi semacam cacar, pes kolera, dlsb, selama berabad-abad lamanya tak bisa dibayangkan. Meskipun lebih logis, antibodi kita memacu evolusi kuman untuk memiliki tingkat survivalitas lebih tinggi dari sebelumnya.

Makhluk hidup ada untuk hidup, tidak peduli mereka bahagia atau menderita. Sekali lagi di balik semua penderitaan itu, manusia mengalami peningkatan populasi karena revolusi agrikultur menghasilkan surplus makanan dan kehidupan agrikultur yang tidak lagi berpindah-pindah membuat kegiatan reproduksi tidak merepotkan karena masa-masa hamil, menyusu dan membesarkan anak tidak perlu lagi sambil berpindah-pindah.

Salah satu hal menarik dari peningkatan populasi adalah terciptanya unit politik yang kompleks. Surplus makanan tidak lagi mewajibkan setiap kepala mencari makanan sendiri-sendiri, tapi sebagai gantinya terciptalah spesialisasi-spesialisasi. Mulai dari pandai besi, juru tulis, dlsb. Salah satu spesialisasi yang sangat signifikan dalam sistem politik di suatu populasi pada saat itu adalah penguasa.

Mengapa keberadaan penguasa diperlukan? Apakah manusia pada saat itu memang mau dibawahi? Mengutip dari buku Gun, Germs, and Steel karya Jared Diamond tentang cerita pertemuan antar suku pemburu nomaden di papua yang bernama suku Fayu untuk merundingkan pertukaran pengantin perempuan. Di dalam buku itu diceritakan:

“Bagi kita, beberapa lusin orang hanya menciptakan pertemuan kecil yang biasa-biasa saja, namun bagi orang Fayu, acara itu langka dan menakutkan. Para pembunuh mendapati diri berhadapan-hadapan dengan kerabat korban mereka. Misalnya, seorang anak laki-laki Fayu melihat orang yang telah membunuh ayahnya. Sang putra mengangkat kapaknya dan menghambur ke si pembunuh namun dijatuhkan ke tanah oleh teman-temannya; kemudian si pembunuh menghampiri putra korbannya yang tertelungkup di tanah sambil memegang kapak, dan dijatuhkan juga ke tanah. Keduanya dipegangi sementara mereka terus menjerit-jerit, sampai mereka tampaknya cukup lelah untuk dilepaskan. Para laki-laki lain berkali-kali saling memaki, gemetaran karena marah dan frustasi, serta memukuli tanah dengan kapak mereka.(Jared Diamond dalam Gun, Germs, and Steel)

Dari sini, kita bisa melihat bahwa pemburu nomaden tidak terbiasa hidup dalam populasi yang banyak. Mereka hidup dengan egaliter tanpa perbedaan status sehingga ketika beberapa keluarga yang menganut sistem egaliter bertemu, penyelesaian akan cenderung mengedepankan egoisme keluarganya masing-masing.

Berbeda dengan masyarakat agrikultur, populasi yang kian meningkat di satu tempat menuntut mereka untuk menciptakan suatu spesialisasi yang bertugas untuk memonopoli kekerasan dan hukum. Spesialisasi tersebut disebut penguasa atau pemerintah.

Bentuk pemerintahan pun berevolusi, pemerintahan tuhan, pemerintahan negara, pemerintahan rakyat dlsb. Bagaimanapun bentuknya, inovasi bentuk pemerintahan pada awalnya untuk kesejahteraan. Lalu apa yang menyebabkan beberapa unit politik tidak begitu sejahtera?

Salah satu jawabannya dikemukakan oleh Daron Acemoğlu (DA)dan James A. Robinson (JAR) dalam buku Why Nation Fail. Negara (sebagai salah satu representasi unit politik terbesar saat ini) yang gagal cenderung memiliki sistem ekonomi yang ekstraktif.

Sistem ekonomi ekstraktif ini tidak memungkinkan seluruh rakyat melakukan kegiatan ekonomi secara intens karena absoluditas pemerintahan. Hal ini bisa dilihat dari perbandingan Korea Selatan dan Korea Utara yang memiliki ras yang sama, kondisi geografi yang tidak jauh berbeda namun memiliki ketimpangan ekonomi yang jauh berbeda (Terlepas dari kekuatan militer Korut). Ketimpangan tersebut disebabkan karena Korsel jauh lebih inklusif dalam melakukan kegiatan perekonomian, mereka menghargai hak-hak properti privat dan setiap bentuk usaha sehingga kegiatan pasar berlangsung lebih intens.

Contoh lain tentang bagaimana absoluditas pemerintah menciptakan sistem ekonomi ekstraktif yang berhujung pada kemiskinan adalah ketimpangan ekonomi Amerika Utara dan Amerika Selatan. Amerika Selatan dijajah oleh Spanyol lebih dahulu dengan tujuan mengeksploitasi kekayaan alam yang dimiliki Amerika Selatan. Sedangkan Inggris lebih sial karena mereka cukup terlambat melakukan ekspansi ke Dunia Baru (Amerika) sehingga tanah yang tersisa hanyalah tanah tanpa sumber daya di Amerika Utara.

Absoluditas penjajah Spanyol menciptakan kesenjangan antara penjajah dan yang terjajah karena Spanyol menjarah habis semua sumber daya alam Amerika Selatan dan mengeksploitasi manusianya. Sedangkan Amerika Utara tidak memiliki sumber daya untuk dijarah, ditambah lagi penduduk lokalnya juga sudah belajar dari tetangga mereka yang berakhir tragis sehingga penjajah Inggris tidak mampu menginvasi dan tidak memiliki sumber daya apapun untuk dieksploitasi, baik manusia ataupun alam.

Hasilnya, di Amerika Selatan tercipta sistem ekonomi yang ekstraktif karena absoluditas penjajah Spanyol. Sedangkan di Amerika Utara, karena penjajah Inggris tidak lagi mampu mengeksploitasi Amerika Utara, mereka melakukan kegiatan ekonomi yang inklusif bersama-sama. Hasilnya, bisa dilihat hingga kini bahwa sistem ekonomi yang inklusif (Amerika Utara) menciptakan kesejahteraan sedangkan sistem ekonomi ekstraktif (Amerika Selataa) malah sebaliknya.

Sistem ekonomi inklusif menjadikan manusia sebagai subjek dalam kegiatan ekonomi sedangkan sistem ekonomi ekstraktif menjadikan manusia sebagai objek dalam kegiatan ekonomi. DA dan JAR menjelaskan argumennya dengan ciamik bahwa bagaimana rakyat lebih berpikir jernih daripada ekonom dan pemerintahan.

Dari sini mungkin timbul pertanyaan, apakah pemerintah dan ekonom di negara-negara berkembang (yang menganut sistem ekonomi ekstraktif) tidak mengetahui akar permasalahan ekonominya? Menurut DA dan JAR, hal itu tentu diketahui oleh ekonom dan pemerintah negara, sistem ekonomi ekstraktif tercipta dari pemerintahan yang absolut menciptakan kemiskinan di negaranya, namun hal itu di satu sisi bisa menjaga stabilitas tahta, akses korupsi, dan berbagai kepentingan lainnya.

Pemerintahan kian mengkompleks. Tidak hanya memonopoli hukum dan kekerasan, pemerintahan kini mampu mengatur derasnya arus pasar, dan pasar memiliki pengaruh dalam mengatur stabilitas tahta dan akses korupsi para birokrat. Bagaimanakah evolusi pemerintahan selanjutnya? Apakah pemerintahan harus terus menjaga kepentingannya atau mengkultus pasar sehingga roda kegiatan ekonomi berputar semakin cepat.

Jika yang diinginkan kesejahteraan, penciptaan pasar yang diikuti seluruh rakyat (rakyat kecil dan elit) adalah suatu kewajiban, karena penciptaan pasar yang hanya diikuti oleh kaum elit akan menciptakan masalah baru bernama disrupsi, yaitu penciptaan pasar baru yang merusak pasar yang ada sehingga rakyat lain yang tidak mampu mengikuti arus disrupsi akan tergilas.

Kesejahteraan yang dimaksud tidak hanya pemenuhan kebutuhan. Dinamika zaman kini tidak hanya menuntut pemenuhan kebutuhan karena muncul masalah-masalah baru yang cukup serius seperti obesitas yang tingkatnya sudah melebihi bencana kelaparan, depresi yang berujung bunuh diri yang jumlahnya lebih banyak daripada korban perang dan pembunuhan, dan berbagai bencana baru lainnya.[]

*Penulis mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga.

Sumber ilustrasi: http://www.rlcrabb.com/politics/evolution-of-the-political-animal/