Merawat Ingatan, Merepresentasikan Tindakan Melalui Arsip

  • 4
    Shares

Lpmarena.com–Launching antologi arsip ARENA, Merawat Ingatan Merepresentasikan Tindakan, terselenggara Sabtu (27/2). Agenda dalam rangka peringatan Milad Arena ke-43 ini berlangsung di  parkiran Fakultas Ilmu Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Launching antologi arsip ARENA tersebut, merupakan puncak dari seluruh rangkaian Milad ARENA. Sebelumnya, beberapa acara lain juga berlangsung, diantaranya Pameran Arsip-arsip ARENA sejak tahun 1975-2017 di Perpustakaan UIN SUKA, baik yang berbentuk foto maupun majalah dan buletin, serta Diskusi “Peran Pers di Era Keterbukaan Informasi” dan Diskusi Praktik Kearsipan dalam Pers Mahasiswa yang keduannya bertempat di Convention Hall (CH).

Selain dihadiri berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  internal UIN SUKA, seperti Rethor dan Advokasia, turut  hadir pula LPM di luar UIN SUKA, seperti Ekspresi dari UNY, Pabelan, Dialektika, Natas, Didaktika, dan lain sebaginya.

Selaku Pimpinan Umum (PU) ARENA, Doel Rohim menyampaikan harapannya terkait makna peringatan Milad Arena ke-43 ini. Ia berharap acara peringatan tersebut bukan sebatas ritualitas mengingat hari kelahiran, apalagi sekadar hura-hura.

Namun, lebih dari itu, peringatan Milad, bagi Doel, harusnya dimaknai  lebih dalam. Bahwa mesti ada yang diperbarui setiap tahunnya agar menjadi lebih baik dan kontekstual, serta berhasil menyadari dan  menutup celah-celah kekurangan sebelumnya.

Isma Swastiningrum selaku Pimpinan Redaksi yang berperan sebagai pembedah antologi arsip Merawat Ingatan Merepresentasikan Tindakan mengatakan, “Kita ingin memperlakukan arsip tidak hanya sebagai benda mati. Karena lewat arsip, kita dapat mengenali diri kita, dapat melihat jejak-jejak yang pernah kita lewati dan kita tinggalkan. Bahkan, hidup kita adalah tumpukan arsip-arsip, mulai dari lahir hingga meninggal,” ungkap Isma mengawali launching.

Baca juga  Surat Rindu untuk Rumahku: Arena

Ada tiga hal yang bisa diciptakan oleh keberadaan arsip menurut Isma. Pertama,  arsip dapat menciptakan ruang bagi siapa saja. Karena dengan melihat arsip, seseorang akan membangun daya imajinasi untuk menyelami data dan jiwa zaman yang tertera di dalamnya. Ia juga mengatakan, lewat arsip suatu wacana dapat didistribusikan dengan cara yang halus, lewat arsip juga, suatu jaringan-jaringan persekawanan dapat tercipta.

“Semisal jaringan sesama Persma, pergerakan, maupun sesama manusia dari berbagai latar belakang kehidupan. Dengan terbentuknya jaringan persekawanan, maka gerak dialektika akan semakin cepat dan dinamis,” ucapnya.

Sementara Doel Rohim, pembedah kedua, menyatakan arsip merupakan  modal yang  paling penting dalam suatu organisasi. Lewat arsip, suatu organisasi dapat mengetahui patahan-patahan sejarah yang mengantarkan pada era baru di setiap dekadenya.

Lewat arsip pula, tambah Doel, suatu organisasi dapat mengetahui wacana dan keadaan seperti apa yang pernah kita lewati sehingga  membentuk kesadaran yang dimaterialkan dalam laku  keseharian suatu organisasi.

“Sering kali teman-teman mengoptimalkan dua modal dalam organisasi, yaitu modal kapital dan Sumber Daya Manusia (SDM). Tapi, sebenarnya ada satu modal lagi yang juga sangat berpengaruh, yaitu modal intelektual atau pengetahuan. Lewat arsip itulah kita tahu dinamika pengetahuan seperti apa yang mewarnai perjalanan suatu organisasi,” terang Doel.

Launching buku antologi arsip Arena sejak tahun 1975-2017 ini merupakan upaya ARENA, menghargai arsip-arsip yang telah berserakan dan mulai berjamur, agar tidak hilang ditelan masa. Sehingga dapat diwariskan pada generasi selanjutnya agar tidak kehilangan sejarah, sekaligus sebagai wujud merawat ingatan, serta sebagai cermin untuk merepresentasikan tindakan agar lebih revolusioner.

Reporter: Afin Nur Fariha

Redaktur: Wulan

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of