Jika Rektorat Sibuk Redam Cadar, Keliberalan UIN Bisa Hancur Lebur!

  • 121
    Shares

Oleh: Maman Suratman*

Nyaris tak bisa kita sebut lagi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah satu kampus pembaru pemikiran Islam di Indonesia. Sebabnya sepele, keliberalan kampus kita sudah hancur lebur hanya karena rekrorat punya inisiatif kolot hendak meredam cadar-cadaran segala. Apaan coba?

Kita tahu, dan rektorat pun mesti tahu, salah satu aspek alam kebebasan itu adalah absennya tindak pengekangan, baik di tingkat pemikiran, apalagi dalam perbuatan. Ya, termasuk untuk urusan pakai-memakai cadar sekalipun, pengekangan atau sekadar pengaturan tentangnya tak bisa disahkan.

Kita juga tahu belaka, lagi-lagi pun rektorat kita juga harus tahu, kebebasan adalah syarat seseorang atau lembaga (institusi pendidikan seperti UIN) bisa disebut sebagai pembaru. Lha, bagaimana mungkin bisa melakukan pembaruan yang otentik jika aspek kebebasan saja ia alpakan? Ngaco apa?

Tentu sesal dan sangat disayangkan bagaimana rektorat kampus kita, di bawah kepemimpinan Yudian Wahyudi hari ini, sama sekali tak ingin mempertahankan label mulia UIN sebagai kampus pembaru itu. Satu contoh konkritnya bisa kita telisik dari surat edarannya tertanggal 20 Februari 2018, yang mengimbau khusus agar mahasiswi bercadar bisa dilaporkan data dirinya ke rektorat paling lambat 28 Februari 2018.

“Sehubungan dengan adanya mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang menggunakan cadar, dengan ini mohon saudara agar berkoordinasi dengan wakil dan staf untuk segera mendata dan melakukan pembinaan terhadap mahasiswi tersebut. Data lengkap mohon dilaporkan.” Begitu bunyi surat edaran rektor berperihal Pembinaan Mahasiswi Bercadar.

Saya kira tindakan rektor melalui surat edaran yang disifati “penting” itu tergolong laku yang berani. Sebab, bukan hanya akan mengangkangi hak asasi manusia dalam hal berpakaian saja, tetapi juga melawan khitah-nya sendiri sebagai kampus yang bercorak liberal dengan di mana integrasi-interkoneksi sebagai sentral keilmuan sekaligus acuan dasar pembelajarannya.

Baca juga  STUDY PENTAS XXI, TEATER ESKA MEMPERSEMBAHKAN DUA DRAMA REALIS

Di mana aspek integrasi-interkoneksi itu jika UIN hanya sibuk mengurusi penampilan mahasiswa-mahasiswanya saja? Bukankah konsep itu mengindikasikan bahwa UIN sebenarnya hanya harus fokus pada upaya pencarian pengetahuan-pengetahuan baru? Dasar acuan itu sangat jelas: memadukan ilmu agama dan sains adalah peran UIN sebenarnya, bukan sibuk dengan urusan tetek-bengek, apalagi soal cadar-cadaran semata.

Sebagai mahasiswa UIN, meski berstatus cuti, tentu saya kecewa berat, bahkan melebihi berat rindunya Dilan pada Milea. Padahal sebelumnya saya sudah berbangga diri kala seorang ustadz abal-abal bernama Khalid Basalamah melayangkan tudingan untuk UIN sebagai kampus liberal. Saya kecewa sebab UIN nyatanya tak seliberal yang Khalid Basalamah kira.

Hei, Khal, tolok ukur seperti apa yang ente pernah jadikan standar dalam menilai UIN sebagai kampus yang dipenuhi orang-orang liberal? Apanya yang liberal jika soal berpakaian mahasiswanya saja masih UIN atur sedemikian rupa begitu? Tolong jelaskan kembali, Khal. Please!

Tetapi, saya sadar, tudingan Khalid Basalamah beberapa waktu silam itu tak sepenuhnya salah. Sebab, jarak waktu antara tudingannya dengan fakta yang terjadi hari ini di kampus UIN terbilang jauh. Dengan kata lain, keliberalan UIN sudah bukan zamannya lagi. UIN hari ini adalah lembaga pendidikan yang mirip-mirip dengan institusi negara otoriter.

Sudahlah. Bukan waktunya lagi untuk mendebat tudingan Khalid Basalamah itu. Berat, biar Khalid sajalah yang mengurusi tudingannya sendiri. Yang perlu kita tuntaskan hari ini adalah mencari alur berpikir para pengurus UIN yang tengah duduk manis di rektorat sana, yang dengan gagah berani mengeluarkan aturan sewenang-wenang bak Soeharto di zaman Orde Baru.

Aneh bin ajaib memang. Di saat kampus-kampus dunia sibuk berlomba-lomba memajukan sains, ilmu pengetahuan, UIN Jogja—ya, kampus tercinta kita—malah masih asyik-asyikan mundur jauh ke belakang. Bukannya ikut mengentaskan program-program yang jauh lebih berguna, taruhlah penelitian atau pengembangan sumber daya ke-UIN-an, pihaknya justru punya mimpi yang sangat buruk: menenggalamkan UIN ke jurang paling dalam.

Baca juga  Forum Rektor Indonesia digelar di UNS

Apa faedahnya coba mengatur pakaian mahasiswa begitu? Cadar-cadaran, jika penampilan seperti ini sirna dalam kampus, apa itu bisa kita jadikan ukuran kualitas UIN sebagai kampus pembaru? Tidak! Sama sekali bukan itu ukuran kualitas ke-UIN-an.

Memang, di satu sisi, rektorat punya niatan yang mulia. Upaya pembinaan mahasiswi bercadar yang hendak diberlakukannya adalah bentuk respons UIN terhadap aksi-aksi radikalisme berjubah agama. Sebab, diakui atau tidak, yang bercadar memang adalah satu ciri pengikut gerombolan radikalis agama.

Hanya saja, jika caranya seperti itu, tetap tidak akan mewujudkan hasil apa-apa. Alih-alih menangkal radikalisme, dengan cara yang kolot begitu, yang tumbuh subur hanyalah pengungkungan kebebasan individu—sudah dijelaskan di awal, kebebasan adalah ciri dan laku sang pembaru.

Kalau benar UIN mau meminimalisasi aksi radikalisme dalam kampus, ya upayakan itu dengan cara-cara elegan. Pengamputasian bukanlah obat mujarab, keles. Sama sekali jangan tiru tindakan pemerintahan Jokowi-JK yang ingin meredam aksi radikalisme dengan cara membubarkan paksa kelompok radikal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Biarlah negara kita melakukan hal kolot demikian. Tetapi, sebagai lembaga pendidikan, UIN harus menjadi kampus percontohan. Bahwa yang paling layak UIN lakukan dalam meredam aksi radikalisme agama adalah dengan cara kontranarasi.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana melakukan kontranarasi? Jika hal seperti ini saja tak bisa UIN mengerti dan terapkan, maka pertanyaan ujungnya adalah: rektorat UIN ngapain aja selama ini?[]

*Penulis mahasiswa Filsafat UIN Yogyakarta

Foto: Tribun

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of