Kontraproduktif UIN Jogja Melarang Mahasiswi Bercadar

Oleh: Nur Azis Hidayatulloh*

Di saat kampus lain sedang mempersiapkan strategi untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan agar bisa menyokong mahasiswa bisa bersaing di dunia global. UIN Jogja masih berkutat dengan masalah-masalah yang sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kondisi dunia akademik itu sendiri. Dinding kampus yang selama ini diibaratkan sebagai dinding kokoh untuk merawat ilmu pengetahuan dan kebebasan akademik, sedikit tercoreng dengan tindakan pelarangan terhadap sesuatu yang berbau prinsipil dan aqidah seseorang.

Hal itu terkait dengan isu cadar yang sempat menghebohkan jagat akademik UIN Jogja, terkait tersebarnya edaran rektorat melalui Surat Edaran Nomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018. Bahwa isi dari surat edaran tersebut bukan spesifik kepada pelarangan mahasiswi yang bercadar akan tetapi lebih kepada pendataan mahasiswi yang bercadar. Akan tetapi yang membuat ambigu dari isi surat edaran tersebut ialah ada kata tambahan yang membuat semua kalangan bebas menafsirkan sendiri arti dari kata “pembinaan” bagi mahasiswi yang terdata.

Selama ini yang kita ketahui bahwa makna dari kata pemmbinaan lebih digunakan kepada hal-hal yang berkaitan dengan proses perbaikan dari yang dulu dikaitkan kurang baik dibina menjadi seorang yang lebih baik lagi. Seperti pengunaan dalam pembinaan “narapidana” atau “pengguna obat-obat terlarang” seperti itu yang kita ketahui selama ini. Selain mengandung makna yang tidak spesifik, isi dalam surat tersebut juga mengganggu ekosistem kampus itu sendiri. Kampus yang digadang-gadang sebagai rumah dari kebebasan akademik dan ilmu pengetahuan terkukung oleh hadirnya edaran surat tersebut. Bahwa persepsi yang mungkin akan memperburuk dari citra kampus agama seperti UIN itu sendiri di mata masyarakat luar.

Bahawa selama ini yang terangkum dalam pikiran masyarakat di luar, bahwa UIN sudah tidak seperti dulu lagi, karena berbagai isu beredar yang tersemat tentang liberal, sekuler, dan lainnya bukan hal yang baru lagi. Setelah fenomena tersebut beredar pun tidak ada hal perbaruan dalam kampus untuk menampik isu yang seperti itu. yang ada hanya meneruskan tradisi keilmuwan yang dinilai nyeleneh oleh orang luar kampus.

Baca juga  CSSMoRa : Menumbuhkan Jiwa Entrepeneurship

Ketika kampus memasuki ranah privat prinsipil seperti cadar, harus diminta klarifikasi lanjutan agar kebebasan akademik yang selama ini terbangun di dinding kampus bergeser ke ranah hal-hal privat individu seperti itu. Istilah kampus agama yang terlembaga seperti UIN sendiri harus juga menjadi pacuan untuk memperbaiki label tersebut. Ketika masih banyak mahasiswa yang di bawah payung kampus agama belum bisa mengamalkan ritual agamanya sendiri (Sholat, Baca Al-Qur’an) terbukti setiap masa perkuliahan masih banyak mahasiswi yang memakai jeans dan legging yang hal itu sebetulnya bukan kode etik dari pakaian universitas.

Ketika segelintir mahasiswi yang mempertahankan pakaian mereka dengan prinsip untuk mentaati agama mereka sendiri harus berhadapan dengan edaran tersebut yang mengandung unsur dari “diskriminatif”. Ketika istilah pendataan dan pembinaan muncul dari surat tersebut harus juga kita kilas balik keadaan yang lain, ketika pihak rektorat mengkritik tentang pendataan untuk meminimalisir mahasiswa berpaham radikal hal itu juga harus imbang dengan mahasiswa yang mengumbar aurat mereka di kampus. Pakaian ketat yang notabene dominan juga harus diperhatikan, jangan cuma perhatian terhadap isu-isu radikalisme juga mengintimidasi mahasiswi yang mempunyai prinsip untuk menjaga dan terhindar dari larangan agama mereka.

Kampus Putih, Kampus Perlawanan

Seiring pergantian penguasa di kampus ini, semakin hari tak terdengan lagi jargon sebagai kampus putih dan kampus perlawanan. UIN Jogja dahulu yang identik dengan daya kritis dan aksioner mahasiswa terdengar jelas di setiap perlawanan terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung wong cilik. Embel-embel seperti itu sekarang hanya tinggal nama ketika sivitas akademika itu sendiri melakukan kebijakan yang mendiskreditkan prinsipil mahasiswinya. Kampus perlawanan hanyalah tinggal nama yang menjadi sejarah panjang tentang kampus putih katanya.

Baca juga  Momen Wisuda, Ajang Mahasiswa Mengais Rezeki

Ketika persoalan yang menyangkut dengan prinspil individu dilawan dengan kekuatan penguasa yang ada. Semua terdiam dan membenarkan seolah hal tersebut untuk menjaga keutuhan NKRI dan UIN itu sendiri sebagai garda keutuhan bangsa. Ketakutan yang  tak berkesudahan walaupun ormas yang mereka takutkan sudah bubar tetapi melakukan perlawanan kepada semua orang yang menurut mereka terafiliasi atas dasar atribut yang menurutnya identik dengan ormas tersebut. Hal seperti ini membuktikan bahwa apa yang mereka takutkan hanya hantu-hantu yang semakin hari membenarkan anggapan salah itu sendiri. Kesalahan tentang hak-hak orang itu sendiri yang mereka tuduh terafiliasi radikalisme.

Kampus sebagai ruang akademik harus dikembalikan ke arah ruang intelektual, jangan sampai hal seperti pelarangan terhadap prinsip seseorang bisa merusak citra tersebut. Segala yang mengarah kepada hal-hal yang bersifat intimidasi terhadap ‘minoritas’ dalam segala hal. Seperti isu-isu pelarangan cadar ataupun lainya juga harus melihat hal urgent lain seperti kontra lain yang juga mengarah kepada hal-hal yang tidak mencerminkan kampus agama itu sendiri.[]

*Penulis mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of