Puisi- Puisi Azhi: Anomali

Puisi- Puisi Azhi: Anomali

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Anomali

 

Aku bertanya,

Apakah kura-kura bisa terbang?

Ibu bilang itu hanya dongeng

 

Aku bertanya lagi,

Apakah esok matahari masih terbit?

Ayah bilang tentu saja, karena dajjal belum tampak

 

Aku bertanya pada guru,

Apakah aku mampu memeluk bulan?

Guru berkata,

Jadilah astronot, jika tak mampu maka menyanyilah

 

Hujan tiba-tiba turun dengan deras,

Menghanyutkan sampah di depan rumah

Ah, aku lupa dengan jemuran di belakang

 

Aku pun lupa, ini adalah bulan Juni

Tidakkah aku salah ingat?

Ada hujan turun di bulan Juni

 

Sekarang aku mulai bingung

Apa gerangan yang terjadi

Aku masih sama, lalu mengapa alam tak lagi sama?

Aku masih mengharap kisah tentang si cantik dan si buruk rupa

Tapi kenapa mereka mengharap harta dan tahta?

 

Kini mereka menertawakanku

Seingatku aku bukan pelawak

Mereka bilang semua mustahil

Tentang kura-kura, matahari, bulan, maupun hujan di bulan Juni

 

Kini aku yang tertawa

Mereka terlalu banyak makan bangku pendidikan,

Bukan ilmu pengetahuan

 

Kubilang mereka tak mengenal anomali

Mereka bilang aku yang lupa diri

***

 

Bumi Untuk Tuan

 

Ketika bumi telah hampa

Dan desing peluru saling bersahutan

Hanya mereka disana yang tertawa

Tersisa bayangan dalam kepul reruntuhan bangunan

Teriring berita luka dan duka

 

Derai tetes air mata

Kucuran darah tak berdosa

Bermuara pada tanah yang sama

 

Ia hanya mampu menangis dan terus bergemuruh

Ia takut karena tak mampu membantu tuannya

Ia pun sedih karena keserakahan tuannya

 

Semua telah tersedia

Direlakan segalanya untuk sang tuan

Baca juga  Yuk!! Ikut Bedah Buku Puisi

Begitu nyata namun seperti fatamorgana

Dan semua direnggut

Hingga tak tersisa

Meninggalkan luka yang menganga

 

Terlambat

Biru telah menjadi abu

Bukan dosa setinggi Himalaya yang memudarkannya

Namun karena nafsu tuan penguasa yang semena-mena

 

Fajar tiba, ia berdoa

Hingga malam tiba, ia tetap berdoa

Ia akhirnya pun menyerah

Mengikuti takdir Sang Pencipta

 

Sang tuan mendapat karma

Ia menyemburkan api amarah

Hingga tanah dan langit pun merekah

Air membanjiri seluruh penjuru

 

Bersisa tuan yang hanya berdiam diri

Mencari alasan untuk memaki

 

***

 

Kotak Fatamorgana

 

Mimpi itu menjadi realita

Hanya seonggok kotak

Berbahan plastik dan kaca

Yang  pasti akan usang ditelan masa

Tapi kini menjelma kiblat dunia

 

Tanpa kedip dan pejam 24 jam

Dengan pariwara komersial

Sebagai penyela pegal

 

Menawarkan kepalsuan panggung sandiwara dunia

Mengumbar aib manusia adalah hal biasa

berbumbu dusta dan drama

 

Awal pagi hingga menjelang pagi

Tersaji seputar duniawi tanpa henti

lintah bagi manusia

 

Kotak itu memberi fantasi tanpa aksi

Dengan mumpuni, ditutupi cela yang ada

Mengubahnya menjadi bahan sandiwara dusta

Pesona dengan seribu tipu daya

 

Lembaga sensor hanyalah simbol

Lembaga pengawas

Hanya hadir ketika situasi was-was

***

 

Ilustrasi: http://kreasisenifoto.blogspot.co.id

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of