Dokumenter NYIA: Potret Perlawanan Petani Kulonprogo.

Dokumenter NYIA: Potret Perlawanan Petani Kulonprogo.

  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares

Lpmarena.com- Kamis (1/3), menjelang dimulainya pemutaran film dokumenter berjudul “HAM, Aku nang kene”, satu persatu warga dan mahasiswa solidaritas penolak Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) bertandang ke gedung Convention Hall, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sekitar pukul 14:00, Pemutaran film berlangsung. Film bertajuk perlawanan tersebut merupakan sketsa nyata warga dan aktivis solidaritas atas penolakan pembangunan NYIA. Film tersebut menggambarkan bagaimana lika-liku perjuangan warga yang membela hak atas tanahnya. Beberapa tindakan represif terhadap warga juga sempat terekam di dalamnya, sehingga tak sedikit dari penonton yang meluapkan ekspresi  haru, sebagai bentuk simpati mereka.

Seusai pemutaran film, rangkaian acara tersebut dilanjutkan dengan diskusi publik, sekaligus pernyataan sikap terkait penolakan NYIA. Wiji, anggota Paguyuban Warga Penolak Penggusuran (PWPP-KP) mengawali cerita, menurutnya, sejak beberapa tahun silam, tindakan represif sudah kerap terjadi terhadap warga di Kulonprogo. Ia menganggap di balik film tersebut masih banyak kejadian yang lebih dramatis lagi. Pada tahun 2010 an, isu pembangunan NYIA sudah mulai hangat diperbincangkan. Ketegasan warga penolak penggusuran kerap kali mendapat  intimidasi, sehingga membuat warga merasa ketakutan. “Saya masih ingat ada warga dulu dipukul dan juga ada ibu-ibu yang masuk rumah sakit, karena perutnya diinjak-injak, ” ungkapnya.

Dalam forum diskusi, Ernawati sebagai aktivis perempuan yang turut bersolidaritas, juga menambahkan cerita yang menjadi keresahan warga terdampak NYIA. Selama pembangunan NYIA berlangsung, warga mengalami trauma dan ketakutan setelah menyaksikan langsung beberapa rumah yang sudah dirobohkan. Mereka juga merasa tertekan ketika berhadapan dengan aparat pengamanan saat proses penggusuran paksa berlangsung. Sehingga kini, warga selalu was-was dengan polisi dan backhoe yang sewaktu-waktu bisa saja mengahantam rumah mereka.

Baca juga  Gayatri, Perempuan Antikolonial

Erna juga mengilustrasikan lebih jauh bentuk keprihatinannya, kepada ibu-ibu dan sosok perempuan muda yang ikut mempertaruhkan nyawanya demi menolak pembangunan NYIA. “Ada banyak darah yang tercurah, dan juga ada banyak tangis,” ungkap perempuan berambut pendek itu mencoba melukiskan keadaan yang dialami korban penggusuran.

Warga Kulonprogo (KP) sudah merasa makmur sebelum pembangunan bandara NYIA hadir. Warga memanfaatkan lahan pertanian sebagai lumbung perekonomian untuk menghidupi anak cucu mereka. Namun, keberadaan bandara justru dianggap sebagai bencana oleh warga, lantaran hanya menyengsarakan kehidupan rakyat. Hal tersebut diungkapkan oleh Odent Muhammad, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta setelah beberapa bulan hidup dan tinggal bersama warga terdampak NYIA. “Makna dari pembangunan tersebut hanyalah bencana,” ungkapnya.

Dodok Putra Bangsa aktivis Jogja Berdaya yang hadir sebagai pembicara dalam forum diskusi  juga merasa kecewa ketika pembangunan yang diterapkan selalu mengatasnamakan kesejahteraan rakyat. Namun nyatanya tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. “Pembangunan NYIA lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya,” tegasnya.

Reporter: Ilham Rusydi

Redaktur: Wulan

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of