Kepleset Eiy: Seniman Jangan Hanya Berhenti Pada Karya!

  • 25
    Shares

Seorang seniman jangan hanya berhenti pada penggambaran konflik sosial dalam media tertentu. Akan tetapi juga harus berusaha merubah dan terjun di dalamnya.

Lpmarena.com- Sabtu (3/3) di Gelanggang ESKA UIN Sunan kalijaga Yogyakarta, Teater Eska mengadakan pagelaran seni Tiga Bayangan. Pagelaran tersebut berisi tiga pertunjukan, salah satunya adalah Kepleset Eiy yang disutradarai Neneng Hanifah Maryam.

Pertunjukan tersebut menceritakan bagaimana seseorang seniman bernama Mbel yang menuangkan kegelisahannya dalam lukisan. Kegelisahan tersebut lahir dari konflik-konflik sosial yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, sang seniman pun dibebani oleh perdebatan-perdebatannya dengan seorang aktivis bernama Sale.

Perdebatan tersebut seputar perbedaan sudut pandang diantara keduanya. Mbel berucap pada Sale “Le,,, Aku khawatir, seni akan tersingkap keestetikaannya jika terlalu memperlihatkan kenyataan seperti apa adanya.” Kemudian dijawab Sale “Maksudmu kamu berniat menyembunyikan kenyataan dalam lukisan abstrakmu itu?” sembari mengepalkan tangan, sebagai bentuk perlawanan seorang aktivis.

Adegan-adegan tersebut, menurut Neneng, adalah penggambaran kegelisahan seorang seniman yang hanya mampu menjelaskan konflik sosial dalam lukisannya. Akan tetapi, tak mampu merubah atau ikut andil dalam penyelesaian konflik tersebut.

“Misalkan, kita sebagai pelukis membuat lukisan tentang penggusuran. Dimana penggusuran tersebut sangat jelas sebagai pengambilan hak hidup orang lain. Tetapi untuk apa jika kita berhenti sampai disitu? Tetapi tidak bisa merubah atau terjun langsung ke konflik yang saat itu terjadi,” ungkap Neneng. “Apakah kamu akan berhenti disitu? Dan hanya dengan kamu mengatas namakan bahwa kamu seorang seniman bukan aktivis,” sambungnya.

Pemilihan seniman dan aktivis sebagai lakon, juga dengan tujuan tertentu. Hal tersebut dilakukan  agar publik, penonton, khususnya seniman tidak hanya merefleksikan realita dalam karyanya, tetapi juga menindaklanjuti karya tersebut. Pada dasarnya keduanya memiliki misi yang sama. Yakni menyuarakan kondisi-kondisi sosial yang sedang terjadi. Selain itu, seni dan aktivisme lebih dekat dengan mahasiswa. “Kita tidak hanya berhenti membuat karya yang mengangkat konflik sosial tapi ya jangan berdiam diri disitu terus. nggak resah po melihat keadaan seperti ini? Masa iya Cuma kek gitu tok?” ucap Neneng.

Baca juga  Andy SW: Berani Berpikir Bebas dan Merdeka

Pementasan tersebut pun mendapat banyak tepuk tangan sebagai apresiasi dari penonton. Sebagian dari mereka memberi komentar dari pementasan tersebut. Salah satunya adalah Ruwaidah mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Hadist. Ia yang ARENA temui seusai pementasan menuturkan, bahwa pementasan tersebut begitu cerdik memaparkan bagaimana pedebatan seniman dan aktivis. Namun pada akhirnya ada semacam kolaborasi untuk menyuarakan realitas sosial yang dihadapi masyarakat sekarang. “Jadi ada semacam kombinasi menarik antara bagaimana seniman dan aktivis dengan menghadapi realitas mereka sekarang,” ungkapnya.

Ruwaedah juga mengatakan, pesan yang ada pada pementasan tersebut bukan hanya untuk seniman atau aktivis, melainkan semua orang di lingkup akademik.

Diakhir pembicaraan, Neneng menjelaskan bahwa pementasan tersebut semacam sindiran juga inspirasi, di tengah situasi krisis aktivisme. Dalam hal ini proyek-proyek seni berbasis komunitas mulai tumbuh. Beberapa seniman merasakan perlunya mengambil alih peran aktivis dan menjadi bagian langsung dari perubahan sosial.

Magang: Astri MS

Redaktur: Wulan

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of