PEMAKAI CADAR BELUM TENTU RADIKAL

Salah seorang pemakai cadar menampik pandangan Yudian yang mengidentikkan bahwa mereka radikal. Sementara, sampai sejauh ini rektorat belum mengetahui motivasi mahasiswinya menggunakan cadar.

Lpmarena.com- Shalsabila Ananda, mahasiswi bercadar dari program studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi semeser IV, menampik pandangan bahwa orang yang menggunakan cadar bersifat asosial dan radikal. Cara yang dia pilih dalam menutup aurat tidak lantas menjauhkannya dari lingkungan sosial. Dia tetap bergaul dengan teman-temannya, bahkan aktif bergabung dengan organisasi Indonesia Student Forum,  dan bekerja sebagai admin salah satu online shop yang terletak di jalan Gejayan.

Tidak hanya itu, Shalsa juga aktif menjadi relawan Forum Anak Desa, komunitas yang bergerak di bidang sosial pemberdayaan dan pendidikan di kawasan kampung Kali Code. Forum Anak Desa sendiri kerap bekerja sama dengan Social Movement Institute (SMI) yang digawangi oleh Eko Prasetyo.

“Sebagian kecil mungkin memang ada yang menutup diri karena mereka malu atau merasa sebagai minoritas, dan berbeda dari orang lain sehingga mungkin minder,” jelas Shalsabila saat ditemui ARENA  di depan Laboratorium fakultas Dakwah dan Komunikasi, Senin siang (5/3).

Hal tersebut bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi Asmin, dalam konferensi pers yang diadakan oleh pihaknya pada pukul 10.00 WIB di gedung Saefudin Zuhri lantai I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia mengungkapkan bahwa orang yang bercadar memiliki indikasi yang jelas, mereka asosial dan mengucilkan diri bersama kelompoknya. Sampai pada waktunya tiba-tiba diketahui tertangkap bersama jaringan teroris.

Menurutnya, kebijakan melarang cadar merupakan bentuk tindakan pencegahan. Berkali-kali Yudian mengidentikkan pemakaian cadar sebagai bentuk representasi pemikiran dan gerakan radikal. Seperti Islam ekstrim, jihadis, serta sikap yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang. Hal ini menjadikan pemakaian cadar bisa menimbulkan madhorot. Karenanya, melarang sesuatu yang secara hukum Islam mubah, sunnah, dan wajib bisa dibenarkan. “Mumpung belum terjadi, itu dilarang,” ungkapnya.

Baca juga  Entrepreneur (isn’t) Siip

Melalui kebijakan ini, dia mengaku ingin menyelamatkan masyarakat, lebih khusus mahasiswinya yang menggunakan cadar. Sebab menurutnya banyak yang menganggap itu sebagai kebenaran mutlak. Padahal cadar merupakan produk dari tradisi atau budaya. Pihaknya menginginkan keadilan sebagai pijakan pondasi peradaban yang sesuai dengan konsensus atau kesepakatan nasional. Sehingga Islam yang dihadirkan adalah Islam yang adil dan tidak ekstrim.

Yudian mengaku merasa kecolongan saat bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berkibar di UIN Sunan Kalijaga. Sebagai perlawanan, pihaknya kemudian mendirikan Pusat Studi Pancasila. Kemudian disusul dengan fenomena cadar yang dia respon dengan kebijakan pembinaan ini. “Jadi saya anggap jelas ini kudeta terhadap kampus,” ungkapnya.

Terkait hal itu Shalsa mengaku tidak tahu siapa yang mengibarkan bendera HTI. Ia sempat menanyakan kepada anggota grup Niqob Suka yang isinya 40 mahasiswi bercadar UIN Suka. Namun mereka justru bingung siapa dan dari mana kelompok tersebut. Keberadaan grup itu memang ia gunakan untuk bertukar pengetahuan tentang cadar. Selama ini komunikasinya masih sebatas pesan WhatsApp, belum ada pertemuan secara langsung.

Shalsa juga mengungkapakan bahwa dia tidak memiliki pikiran seperti menentang Undang-Undang, Pancasila, atau demokrasi, serta tidak berafilisasi dengan gerakan radikal. Dalam pergaulannya pun tidak untuk mengajak orang lain bercadar seperti dirinya.

“Kita tidak ada niatan untuk menyebarkan paham radikal dan sejenisnya, kita juga tidak pernah menghegemoni teman-teman untuk memakai cadar,” terang mahasiswi yang pernah jadi Duta Anak tersebut.

Lebih dari itu, dia memandang pendataan yang dilakukan pihak rektorat untuk mengetahui adanya oknum-oknum yang menganut paham radikalisme itu bagus.

Sejauh ini identifikasi yang dilakukan Yudian bahwa perempuan bercadar itu radikal sendiri belum memiliki bukti. Dia mengaku, pendataan baru bersifat kuantitatif yakni pada jumlah pengguna cadar. Sementara secara kualitatif, seperti motivasinya, belum dia ketahui. “Makanya nanti didalami,” tutup Yudian.

Baca juga  Festival Masjid, Wujud Kepedulian Terhadap Palestine

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Wulan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of