Model Pembinaan Mahasiswi Bercadar di UIN Suka, Belum Jelas

Lpmarena.com- Shalsabila Ananda mahasiswi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), merasa bingung dengan kebijakan yang baru dikeluarkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terkait pembinaan mahasiswi bercadar di lingkungan kampus. Ia belum tahu model pembinaan yang diberikan oleh rektorat. Pasalnya belum ada penjelasan dari rektorat terkait pendataan dan pembinaan.

“Kita mengajukan diri malah, pertama saya mengajukan diri ke Kepala Prodi pak Fajar dan tidak mengetahui info sama kali, kemudian Pak Rozaki. Saya lapor ke Pak Rozaki, bagaimana kami pembinaannya karena tanggal 28 terakhir dan saya melapor tanggal 27. Pas tanggal 26  bapaknya bilang nanti saja, kami jadi bingung karena tidak sesuai surat pemberitahuan dan kita semua sudah siap dengan adanya bimbingan,” ujar Salsa, begitu ia biasa dipanggil saat ARENA temui, Senin(5/3).

Dewi anggota Studi Pengembangan Bahasa Asing (SPBA) juga mengaku belum tau model kebijakan yang diberikan rektorat. Ia juga tidak menolak dengan adanya pembinaan yang akan diberikan kepadanya. “Saya sendiri juga belum tau pembinaan seperti apa yang akan dilakukan oleh pihak kampus,” jelasnya saat dihubungi via Whatapps.

Yudian Wahyudi Rektor UIN Sunan Kalijaga menjelaskan adanya surat edaran tersebut sebagai upaya preventif untuk menghidarkan mahasiswa UIN supaya tidak masuk dalam aliran ekstrimis. “Cadar itu jadi mereka indikasinya kan jelas, tidak mau ngumpul sama orang lain. Nah tau-tau nanti ditangkap polisi terlibat jaringan itu. Jadi kita bahasa fiqihnya Shadudzari’ah sebelum terjadi maka kami larang terbih dahulu,” jelas Yudian pada Konferensi Pers, Senin(5/3).

Selain sebagai upaya preventif, kebijakan ini dikeluarakan sebagai upaya untuk melawan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang ada di UIN. Pasalnya, pernah ditemukan foto mahasiswi bercadar dengan membawa bendera HTI. “Nah, sekarang ini republik sedang diganggu oleh gerakan-gerakan radikalisme anti Pancasila, salah satunya, kampus dikibari oleh bendera HTI. Jadi, saya anggap jelas ini kudeta terhadap kampus. Maka kami memberikan perlawanan,” terang Yudian.

Baca juga  Matinya Wifi Seminggu Terakhir Menyulitkan Mahasiswa

Pihak kampus akan memberikan penjelasan kepada mahasiswi yang bercadar bahwa mereka telah menandatangani surat perjanjian untuk menaati tata tertib. Surat tersebut berbunyi “Dengan ini menyatakan sanggup memenuhi peraturan yang berlaku di lingkungan UIN Sunan Kalijaga. Sanggup mematuhi kode etik mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.  Sanggup tidak bergabung organisasi apapun yang menganut  paham anti pancasila dan anti NKRI. Apabila Peraturan ini kami langgar, maka saya sanggup menerima sanksi yang berlaku. Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sanksi mengikat diri saya sendiri demi kebaikan dan kemaslahatan semua pihak.”

Yudian mengatakan akan membuat tim untuk membina mahasiswi yang bercadar. Tim tersebut terdiri dari 15 dosen dengan disiplin ilmu yang berbeda. Tim tersebut akan memberikan penjelasan kepada mahasiswi terkait pemahaman Islam yang moderat, sesuai dengan yang diharapakan UIN. “Jadi di sini kami ingatkan untuk mau memahami sampai beberapa tahapan jika terpaksa memang  sampai tujuh, sepuluh kali diberi konseling tidak mau ya pilihannya cuma satu, silakan pindah dari  kampus,” tegasnya.

Pembinaan tersebut nantinya akan diberikan kepada 42 mahasiswa dari 8 fakultas. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ada 6 orang, Fakultas Syari’ah dan Hukum ada 8 orang, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora 6 orang, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ada 5 orang, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya ada 3 orang, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ada 8 orang, Fakultas Dakwah dan Komunikasi ada 4 orang, Fakultas Sains dan Teknologi ada 2 orang.

Salsa mengatakan apabila memang kebijakan ini adalah kebijakan final. Ia akan mengikuti aturan tersebut. Ia berharap kebijakan tersebut ditetapkan setelah ada mufakat antara pihak yang bercadar dengan rektorat.

Salsa juga akan membuktikan kepada rektorat bahwa memang indikasi yang diberikan kepada rektorat atas orang-orang yang bercadar itu tidak tepat. Terkait dengan menjurus pada gerakan ekstrimis dan anti pancasila. “Kami akan membuktikan pada rektorat nanti saat pembinaan, bahwa kami tidak ada hubungannya dengan gerakan radikalisme, dan akan membuka diri kepada rektorat,” terangnya.

Baca juga  Haedar Terpilih Sebagai Ketua Forkom Periode 2014/2015

Reporter: Akmaludin

Redaktur: Wulan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of