Libertarianisme: Hilangkan Penghisapan

  • 20
    Shares

Lpmarena.com – Pertanyaan kenapa kita tidak bebas? Merupakan pertanyaan naluriah, sebab tiap manusia menghasratkan kebebasan. Kendalanya ialah, kebebasan tersebut memiliki batasan dengan kebebasan orang lain. Jika itu melanggar batas, akan terjadilah kesewenang-wenangan.

Hal inilah yang disampaikan Nanang Sunandar, direktur Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks) dalam Diskusi Forum Libertarian Yogyakarta dengan tema Manifesto Kebebasan: Penguatan Demokrasi Kesejahteraan Masyarakat.

Forum diskusi yang digelar oleh Indeks, Lekfis, dan Nalar Politik di Kafe Basa Basi, Minggu (25/03) tersebut banyak membahas mengenai filsafat libertarian dan kaitannya dengan demokrasi dan kesejahteraan masyarakat.

Libertarian berasal dari kata “liberty” yang berarti kemerdekaan, juga kebebasan. Libertarianisme merupakan paham filsafat bebas, dari kepemilikan seseorang kepada siapa yang dipilih. “Orang yang sangat percaya kebebasan, dia akan sangat menghormati kebebasan orang lain,” kata Nanang.

Di konteks global, di Eropa libertarian itu kiri, tapi di Amerika libertarian itu kanan. Meski begitu, libertarian tidak seperti anarkisme yang tidak mempercayai negara, tapi libertarian memerlukan negara untuk memastikan orang lain tak melanggar kebebasan orang lain. Sebab, seperti terjadi di Eropa Timur, hanya orang-orang yang memilki akses saja yang bisa mendapatkan hak ijin segala hal. Yang lain hanya menerima dampak.

Ada dua kepemilikan mendasar bagi libertarian. Pertama, kepemilikan diri tiap orang atas dirinya sendiri atau self ownership. Individu memiliki kebebasan seperti halnya kedaulatan suatu negara. Kepemilika diri ini sifatnya melekat, meliputi pikiran, keyakinan, dan hati nurani. Kedua, kepemilikan property (property right) yang didapat melalui usaha. Dahulu kala, kepemilikan jenis ini bisa didapat melalui cara akuisisi. Semisal ada tanah yang tak terpakai, petani mengakuisisinya. Namun saat ini, hal tersebut sudah tak ada lagi, diganti dengan transfer. Jika menyangkut property right, membuat aturan apapun menjadi sah. Lebih jauh lagi, kepemilikan menciptakan pasar.

Baca juga  Membela Filosofi Libertarian

Di masyarakat, libertarian sangat berhati-hati dengan diksi-diksi seperti kepentingan umum, kemaslahatan bersama, dan lain-lain. Negara memobilisasi masyarakat tidak bisa. Selayaknya liberalisme, libfertarianisme juga meminimalisir peran-peran negara untuk mencegah penghisapan besar-besaran. Hilangkan penghisapan merupakan tawaran dari libertarianisme.

Menurut Minrahadi Lubis, salah satu peserta diskusi mengatakan, wacana kebebasan bukan hal baru. Di awal-awal, bebas identik dengan tuhan, lalu dengan alam. Namun menurut tokoh pemikir Thomas Hobbes, rasa aman berkontradiksi denga kebebasan. “Yang dibutuhkan manusia adalah rasa aman, bukan kebebasan,” kata Lubis. Pun orang juga bebas untuk memilih dirinya tidak bebas.

Di Indonesia sendiri memiliki standar kebebasan ganda. Untuk dirinya sendiri mengakui bebas itu perlu, sedangkan untuk orang lain tunggu dahulu atau entar dulu. Menurut penelitian dari Indeks, yang pro kebebasan sipil lebih besar daripada kebebasan ekonomi. “Perlu perjuangan panjang,” ujar Nanang.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of