Khawatir Intoleransi, Warga Kristiani Sekolahkan Anak di SD yang Seagama

  • 18
    Shares

Lpmarena.com – Penyuluh Agama Kristen wilayah Kabupaten Kulon Progo, Langgeng Prasetyo mengungkapkan kekhawatiran sebagaian orang tua di kalangan agamanya ketika hendak menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Dasar (SD) umum atau negeri. Hal itu dia sampaikan secara langsung kepada Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin dalam acara “Sapa Menteri Agama Republik Indonesia Bersama Penyuluh Agama Daerah Istimewa Yogyakarta”, Rabu (28/3) siang di gedung Convention Hall lantai II UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Informasi tentang tindakan bullying terhadap anak sekolah yang bebeda agama banyak mereka temukan di media sosial. Terlebih dengan maraknya ujaran kebencian dan penyebar berita hoaks yang pelakunya justru memiliki latar belakang sebagai pendidik. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah dasar swasta yang masih satu agama. Meskipun biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak dan jarak tempuh bisa lebih jauh. Prasetyo mengaku keluhan yang dia dapatkan dari orang tua tersebut cenderung sama.

“Masalahnya, kan, ada beberapa yang tidak memiliki kemampuan fianansial,” terang Prasetyo kepada ARENA setelah acara ditutup.

Karena agama yang berbeda, anak Prasetyo yang baru menginjak jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) juga pernah diejek oleh temannya di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Hal tersebut, meski tidak terjadi di lingkungan sekolah, membuat Prasetyo heran mengingat bagaimana seorang anak kecil sudah memiliki pandangan yang diskriminatif.

Menurut Prasetyo, orang tua di kalangannya memandang akan lebih tepat jika menyekolahkan anaknya di sekolah negeri atau umum ketika anak masuk pada jenjang pendidikan SMP atau SMA karena mentalnya sudah kuat.

Menanggapi hal ini Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin memandang bahwa saat ini ujaran kebencian menjadi tantangan bersama. Karenanya dia sangat berharap kepada para penyuluh agama, agar jangan memberikan sikap yang berbeda kepada orang lain hanya karena perbedaan agama. Adanya perbedaan di antara manusia merupakan kehendak Tuhan. Di sisi lain dengan adanya berbagai agama dan kepercayaan membuat manusia bisa menentukan pilihan yang tersedia.

Baca juga  Lomba Foto Bicara "TOLERANSI"

“Karena kalau Tuhan saja mau, apa susahnya untuk menyeragamkan kita semua,” terangnya.

Prasetyo berharap agar dalam dunia pendidikan, pemerintah juga memiliki peran dalam mengatasi masalah yang dialami kalangannya. Minimal dengan membangkitkan kepedulian para pendidik terhadap isu-isu intoleransi. Parasetyo mengajak saemua pihak untuk mengembalikan dunia pendidikan kembali netral.

“Memberikan kesempatan yang sama untuk semua orang tanpa memandang suku agama dan sebagainya,” tutupnya.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Ni’am

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of