Mengurai Benang Kusut Intoleransi

  • 10
    Shares

Lpmarena.com- Menanggapi beberapa peristiwa Intoleransi yang akhir-akhir ini sering terjadi, Dewan Eksekutif Mahasiswaan (Dema) UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan seminar kebangsaan dengan tema besar “Mengurai Benang Kusut Intoleran dan Terorisme”. Acara tersebut dilaksanakan di Convention Hall (CH) lantai 2, Kamis (22/3).

Data yang dirilis The Wahid Institute menunjukan bahwa tindak intoleransi di Yogyakarta dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2014 Wahid Institue menempatkan Yogyakarta di urutan kedua tertinggi dalam kasus intoleransi. Pada tahun 2014 tercatat sebanyak 21 kasus, di tahun 2015 turun menjadi 10 kasus, sedangkan di tahun 2016 kasus intoleransi mencapai 23 kasus dan sederatan kasus di tahun 2017. Dan kasus terakir terjadi pada Februari tahun ini, penyerangan jemaat Gereja Santa Lidwina di Bedog, Sleman.

Kepala Bidang Agama, Pendidikan, dan Dakwah Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Daerah Istimewa Yogyakarta, Mustafid menuturkan bahwa adanya relasi geopolitik global dan ketidakadilan dalam beragamalah yang dijadikan kedok melahirkan radikalisme. Selain itu penafsiran agama yang cenderung membawa wacana radikalisme semakin masif dihidupkan. Melalui pengajian, halaqoh di masjid dan tempat-tempat tertentu sebagai basis penyebar ideologi. “Melalui menjaga kearifan lokal dan modal sosial yang kuatlah, tindak intoleran bisa dihadang,” ujar Mustafid.

Sementara itu, Zuly Qadir  dosen Sekolah Pasca Sarjana prodi Ketahanan Nasional Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan kekeliruan pemahaman tentang Pancasilalah yang dianggap membohogi umat Islam dan tidak mencerminkan keislaman. Hal itu mengakibatkan tumbuh suburnya kaum-kaum radikal di Indonesia. “Padahal ulama juga merumuskan Pancasila,” tuturnya.

Pemahaman itulah yang tidak sampai pada orang-orang yang tidak menerima Pancasila. “Kan, tak menerima sumbangan ulama berarti mengingkari nabi juga,” tambah Kepala Litbang Majalah Suara Muhammadiyah tersebut.

Baca juga  Bukti Keberadaan Harimau Jawa Kendalikan Pembukaan Lahan

Di akhir acara, moderator mengajak peserta untuk bercermin pada sejarah. Dengan menjalankan prinsip toleransi bangsa Indonesia menghasilkan Sumpah Pemuda yang menggunakan satu identitas Indonesia untuk mengusir penjajah.

Magang: Mifta Karisma

Redaktur : Ajid FM

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of