Puisi-puisi Afin Fariha : Mencari Prasasti

  • 17
    Shares

Mencari Prasasti

Untuk Bayi Sasmita Devi

I

Tidak usah pergi ke pemakaman, Sasmi
Ibu tidak ada di sana
Di belakang ada beberapa biji kopi
Mainlah Cublek-cublek Suweng dengan bapak
Bila sore sudah tiba, sertai burung-burung dara pulang ke rumahnya

II

Suaramu begitu melengking
Tapi nampaknya bukan suara menangis
O, bayi mungil…
Tidak ada yang perlu ditakutkan di malam hari
Dengarlah, bapakmu menyanyi Tak Lelo-lelo Ledhung
Suaranya sahdu dan penuh kasih
Kamu tertawa nakal dan tidak lekas tersirap

III

Hari ini kamu sungguh rindu dengannya
Ibumu telah berangkat pagi-pagi buta
Menuju ladang sengon dengan rerimbunan semak belukar
Ada kau tahu, Nak, seperti apa itu pohon sengon?
Ia kecil, rapih, selalu menatap ke depan dan menjulang anggun
Rawan sekali terkena guncangan angin
Tapi ia tetap berdiri anggun!

IV

Hari ketujuh
Perempuan yang kau rindui masih berjibaku di ladang sengon
Besok dia akan pulang
Membawa madu
Karena tahu
Kau sudah kenyang minum ASI

V

Semua burung dara telah pulang
Anak manis terpaku dengan perasaan marah
Anak manis menangis
Bapak menyuruhnya menangis lagi!
Tak apa, kau memang harus menangis dengan merdeka
Dari bayi, kau sudah dididik tegar
Menyerupai karang!
Menagislah
Asal jangan mengemis
Menjilat
Merampok
Tiada yang pernah mengajarimu sebegitu lemahnya

VII

Mengapa ibu pergi lama sekali?
Karena ibu tidak hanya membawa madu
Tapi juga prasasti dari nenek moyangmu
Nanti malam ibu bacakan, ya, isinya

 

Cermin

a
Hari sudah petang
Pasar nyaris tutup
Belum juga Nona temukan cermin?

k
Cermin-cermin di pasar hanya menampakkan riuh
Aku mencari pantulan kemurnian
Meski hanya pantulan

a
Sayang, di pasar tidak dijual yang begituan
Semua cermin telah tercampuri
Menyatu bersama
Narasi kecantikan
Obat pemutih
Pil pelangsing
Pun shampo pelurus rambut

Baca juga  CENDI Adakan PIKMA SERI ke Tiga

k
Sebatas itukah cermin yang ada di pasar?
Aku tidak percaya!
Senyatanya Nelson Mandela
Telah merobohkan jurang beracun
Antar kulit hitam dan putih
Rambut keriting dan lurus
Aku tak jadi beli!
Aku tak percaya pada cermin-cermin pasar!

 

Peta Bawang Merah

Pada arus ia mendayung
Pada angin ia belokkan cadik
Ia tahu kemana akan menuju

Peta perjalanannya seperti menyusuri bawang merah
Memutar hingga ke inti
Mencari muasal pemberangkatan diri

Pada inti, ia sinarkan damar
Terangi apa yang telah dianggapnya gelap

Ia cintai kegelapannya
Sebagaimana ia cintai sejarahnya
Sebagaimana ia cintai ketiadaannya
Dalam ketiadaan, ia tumbuhkan kunang-kunag
Untuk menerangi yang ada setelahnya

Afin Nur Fariha
Perempuan yang gembira ketika mengidentikkan diri sebagai pohon kaktus.

Gambar: Nusantara News

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of