Puisi Senja Akmaluddin

  • 19
    Shares

Janji Senja Pada Tuhan dan Anak Negeri
I
Senja pekan lalu, empat orang anak manusia berkumpul
duduk bersila, melingkar udi rumah Tuhan
Sekedar untuk membicarakan tentang kondisi
Kondisi semesta yang keamanannya mulai terancam
Atas ulah-ulah manusia yang menganggap dirinya paling benar
II
Diskusi masih berlanjut, hingga petang mulai tampak di ufuk barat
Pertanda mentari sudah tak lagi memancarkan sinar
Terangnya jalan sudah berganti dengan lampu-lampu kota yang penuh misteri dalam proses pemasangannya
Entah berapa jumlah manusia yang dikorbankan
Berapa jumlah angka yang termakan untuk menegakkan tiang-tiang itu
III
Janji-janji suci keluar dari mulut insan yang sakti
Janji yang memaksa untuk diterima padahal tak berisi
Karena memang cuma bualan-bualan layaknya parodi
Hanya menghibur dan menenangkan
Agar mereka lupa akan esensi
IV
Obrolan-obrolan itu memadati ruang-ruang sisi rumah Tuhan
Empat orang anak manusia yang masih tetap bersila dengan posisi yang tak bergeser sejengkalpun
Pertanda mereka istiqomah dan serius pembicaraannya
V
Janji suci senja itu keluar dari mulut anak-anak manusia yang masih polos
Berkhidmad pada negeri, sekedar mewarnai atau menjaga kewarasan
Yang terpenting empat anak manusia itu masih mempunyai hati dan tak akan pergi meninggalkan sampah di ruangan itu, tempat mereka membual.
Syuhada, 05 April 2018

Di Negeri Para Pengadil

Tibalah kita di negeri para pengadil
Bayi diadli
Anak-anak diadili
Remaja diadili
Tua diadili
Bahkan orang mati pun diadili
Bayi dianggap haram
Anak-anak dianggap nakal
Remaja dianggap kurang ajar
Tua dianggap petakilan
Mati dianggap kafir karena berbeda pola pandang
Itulah hebatnya negeri para pengadil
Suara mayoritas dianggap suara Tuhan yang kebenarannya tak bisa diganggu gugat
Sudah tak bisa lagi bernegosiasi
Pilhannya hanya ada dua
Manut menjadi pengikut atau oposisi yang selalu dicaci

Baca juga  Puisi-puisi Rudi Santoso

Syuhada, 5 April 2018
*Petakilan merupakan istilah dalam Bahasa Jawa, menandakan orang banyak tingkah yang kurang sesuai.

 


Suatu hari Budi berjalan melewati ruas-ruas Kota Yogyakarta. Tepat di depan sebuah gedung pencakar langit ia berhenti karena melihat indahnya artistik bangunan bergaya Eropa. Budi memandang gedung itu agak lama. Selang beberapa watu ia melanjutkan perjalanan, mendekati bapak-bapak yang terduduk lemas membawa karung di samping tiang listrik, di bawah siang terik dan kepulan asap kendaraan yang memadati ruang kota.
Budi bertanya pada bapak itu “sedang apa, Pak?”
Bapak menjawab, “sedang mengkhayal, barangkali suatu saat nanti karungku bisa menjadi emas dan aku bisa tidur di dalam gedung itu. Agar tak selalu dicaci oleh asap-asap mobil yang dibawa mereka”.

Yogyakarta, 5 April 2018

 

Akmaluddin. Mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Kalijaga.

Gambar : unycommunity.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of