Indonesia Berpeluang Meningkatkan Ekonomi Kreatif Melalui FinTech

Indonesia Berpeluang Meningkatkan Ekonomi Kreatif Melalui FinTech

  • 7
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

Indonesia mampu menjadi negara yang sukses dan memiliki super power di bidang ekonomi kreatif, karena kreativitas tidak bisa digantikan oleh mesin. Ekonomi kreatif ini akan berdampak positif pada kontribusi ekonomi seperti meningkatnya produk domestik bruto (PDB), tenaga kerja, ekspor, dan sektor lainnya.

Indonesia dengan kekayaan budayanya, akan memiliki kekuatan ekonomi yang besar jika mampu memaksimalkan diri.

Data pertumbuhan ekonomi kreatif tahun 2015 mencapai Rp 852,24 triliun, meningkat dari Rp 525,96 triliun pada tahun 2010. Sementara pada 2018 ini pertumbuhan ditargetkan mencapai Rp 1000 triliun. PDB ekonomi kreatif naik sebesar 44,38%, sedang kontribusinya untuk perekonomian nasional masih 7,38%, dan diperkirakan akan terus naik, serta menyumbang nilai ekspor sebesar 19,4 juta dolar.

“Promosi kreatif itu dilakukan melalui media sosial, maka anda jarang melihat produk-produk ekonomi kreatif diiklankan di stasiun televisi swasta,” ungkap Alex Fahrur Riza, dosen fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Sunan Kalijaga dalam acara diskusi publik “Islamic Fintech The Development of Creative Economy”, Sabtu siang (6/4) l, di gedung Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mayoritas pengguna iklan ini adalah pengusaha (laki-laki) sebesar 77,40%, dengan usia 40-49 tahun sebanyak 30,92%. Lalu berdasar data ada 3 sub sektor ekonomi paling banyak peminat yakni, kuliner, fashion, dan kriya.

Melengkapi Alex, CEO aplikasi Oorth Krishna Adityangga menuturkan, salah satu faktor yang bisa digunakan menjadi jembatan kemajuan perekonomian Indonesia, selain ekonomi kreatif, adalah Financial Technology (FinTech), yakni penerapan teknologi informasi di bidang keuangan.

“Fintech itu sebuah teknologi, kalau kita mau maju pakai itu, silahkan, jika tidak juga tidak masalah,” ujar Krishna. “Apa yang mempengaruhi perekonomian itu perlu diriset,” lanjutnya.

Baca juga  GNP: Wujudkan Pendidikan Kerakyatan

Ia juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan FinTech di Indonesia ke dalam empat poin.
Pertama, modal, FinTech membutuhkan modal besar terutama untuk mengalihkan mind power ke teknologi.

“Mengalihkan efisiensi dengan menggunakan teknologi bukan berarti manusianya tidak terpakai. Akan tetapi yang terpakai yang mengetahui teknologi,” jelasnya.

Kedua, kesiapan mind power dibutuhkan Indonesia untuk melangkah. Sebab, mind power tidak terlalu mendapat dukungan dari sistem kaderisasi sumber daya manusia utamanya dalam pendidikan. Ketiga, hambatan FinTech di wilayah regulasi. Mengkomunikasikan dengan pamong regulasi merupakan hal yang tidak mudah, utamanya dalam hal undang-undang. Keempat, masalah simpan-pinjam dalam sistem FinTech belum jelas, maka perlu dibentuk undang-undang untuk masalah ini.

Sebelum menutup acara dengan membacakan puisi karangannya yang berjudul “Ibuku Juga Indonesia”, Alex menyampaikan bahwa untuk meningkatkan kreativitas, seseorang butuh berimajinasi. Seorang pebisnis perlu melihat peluang yang ada, menjadikan masalah sebagai kemudahan, dan mencari solusi dengan jeli. Dari sana seseorang akan menjadi pribadi yang kreatif.

Magang: Faridhoh

Redaktur: Fikriyatul Islamiyati

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of