“Rakarana John” Dicekam Kepolisian

Spread the love

Lpmarena.com- Suasana Jogja yang teduh selepas hujan mengiringi pementasan Teater Satu Saka yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada Sabtu malam (7/4). Pementasan berjudul Genosida Mata Hati Rakarana John merupakan pementasan ke-tiga teater tersebut setelah AUM dan Malam Jahanam. Ratusan penonton menikmati sajian pementasan, tergambarkan oleh teriakan dan tertawaan penonton atas sikap aktor yang beberapa kali memperlihatkan adegan lucu.

Pementasan berdurasi satu setengah jam itu mengangkat kisah konflik yang terjadi dalam sebuah keluarga. Di mana setiap adegannya menjawab pertanyaan terkait masih adakah kejujuran dan keterbukaan dalam keluarga.

“Pentas tersebut mengajak penonton untuk melihat fenomena yang terjadi saat ini, bagaimana kondisi sosial yang individualistis dan sudah tidak lagi mempedulikan kondisi sekitar,” terang Risna, Pimpinan Produksi pementasan tersebut.

Abimanyu Prasastia Perdana, Sutradara pementasan menjelaskan bahwa judul awal teater tersebut adalah Rakarana John. Rakarana berasal dari bahasa Madura yang berarti usul, dan John mempunyai dua makna. John yang pertama mempunyai makna sebagai panggilan akrab, John yang ke-dua sebagai simbol terhadap seorang eksekutor penculikan pada peristiwa ’98.

“Persoalannya pertunjukan kita hampir dicekam, jadi ada beberapa adegan yang harus dipotong dan harus disamarkan, penggunaan nama, pemotongan adegan, dan keseragaman itu mungkin membosankan, sebetulnya aku mau ngangkat itu,” jelas Abimanyu.

Pencekaman dilakukan oleh Polres setelah meminta ijin pertunjukkan. Abimanyu menjelaskan bahwa ada proses perijinan yang tidak seperti biasa. Biasanya ijin pementasan cukup sampai di Polsek Gondomanan. “Tiba-tiba persoalannya menjadi lucu, tiba-tiba kita suruh lapor ke Polres,” jelasnya.

Setelah melakukan proses perijinan, persoalannya menjadi semakin rumit. Polres memberikan dua pilihan, antara dibatalkan dan dikawal ketat oleh pihak kepolisian. “Persoalannya menjadi seru, ada 2 kemungkinan pementasan dibatalin atau dikawal ketat dan banyak intel yang nonton. Persolan mereka karena ada isu Ibu Sukmawati, khawatirnya ada unsur SARA, jadi diadakan pengawalan ketat. Jika nanti terdapat hal-hal yang tidak diinginkan maka pentas ini dibubarkan paksa, kami diminta memilih dan kami pilih pentas,” ungkap Abimanyu.

Baca juga  Mughits: Percepat UAS Sebatas Saran, Bukan Instruksi

Tidak hanya itu, naskah pementasan juga diminta untuk direvisi atau dihilangkan jika pementasan akan tetap berlangsung. Ada beberapa adegan dipotong dan naskah dihapuskan. Pemotongan dan perevisian itupun hanya diberikan pada satu hari sebelum pementasan.

Abimanyu mengungkapkan salah satu naskah yang dibuang dan diganti adalah puisi yang berbau cendana dan mawar. Dengan adanya pencekaman tersebut Abimanyu yakin masih ada banyak aktifis 98 yang hilang. “Berdasarkan data di Kontras ada Sembilan aktivis yang hilang, dan saya yakin masih banyak lagi. Nah, John itulah pelaku eksekutornya,” tambahnya.

 

Reporter: Akmaluddin

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of