Dinamika Perubahan Karya Sastra

  • 14
    Shares

Lpmarena.com- Karya sastra mengalami perubahan yang begitu cepat karena modelnya adalah kerja perseorangan. Model semacam itu lebih mudah dipengaruhi jika dibanding dengan kerja-kerja kolektif, seperti teater. Hal tersebut diungkapkan oleh Muhammad Aswar (26) pemantik diskusi “Bedah Buku Anzilny” karya Anna Zakiyah Derajat, Minggu (8/4)di halaman selatan Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Begitu pun di puisinya Anna ini, kalau kita bandingkan puisi ini dengan puisi-puisi dulu kita nggak mungkin baca karena memang sudah berubah,” ungkapnya.

Aswar menjelaskan bahwa hal-hal yang berpengaruh terhadap perubahan sastra tergantung pada masyarakat sekitar, kegemarannya, serta media sehingga nilai-nilai dalam karya sastra menjadi dinamis.

Aswar melanjutkan, “Dalam sastra itu semuanya serba personal, misalkan ada satu yang berkembang dan sekiranya bisa mengubah gerakan sastra maka harus dibunuh, berkembang satu lagi, dibunuh lagi, terus seperti itu sampai hari ini.”

Ia juga menjelaskan bahwa dalam sastra tidak ada nilai yang benar-benar statis. Dalam artian tidak ada sastra yang bisa ditiru atau sastra yang berada di atas sastra lain, semuanya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa kuat ia menjadi petarung untuk diri sendiri, sekuat itulah puisinya. Tidak pandang bulu apakah pertarungan itu melalui jembatan sosial, uang, dan lain sebagainya.

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah gramatikal dan pemilihan kata dalam suatu karya sastra.

“Setidaknya penggunaan di- yang dipisah dengan di- yang disambung itu bisa dibedakan. Kemudian pemilihan kata dalam puisi juga perlu diperhatikan.”

Aswar juga berkisah bahwa guru sastranya dulu pernah mengatakan, bahwa kata-kata itu bukan sekadar kata-kata karena memiliki fungsi masing-masing. Ada kata berfungsi sebagai diksi, yang itu berdiri sendiri pun bisa, dan ada kata-kata yang tidak bisa berdiri sendiri. Sehingga harus disandinkan dengan kata lain, baik di depan maupun di belakang.

Baca juga  Seniman Kok Momentuman!

Masalah lain adalah antara teknologi dan sastra memiliki sekat yang sangat jauh. Kemajuan teknologi yang begitu pesat menuntut seseorang untuk serba cepat, sehingga orang-orang lebih suka dengan puisi-puisi yang mudah dipahami. Di satu sisi, teknologi memudahkan seseorang untuk berimajinasi, sedangkan sastra yang baik dan serius menjadi rancu dengan hadirnya imajinasi.

Kemudian dengan perkembangan ekonomi yang tak kalah pesat, banyak sastrawan cerdas pada akhirnya beralih mengikuti tren pasar. Orang-orang dalam bidang sastra belakangan ini lebih memilih untuk menyerah, dalam artian mengikuti tren pasar, atau menghilang dari sastra. Sehingga orang-orang cerdas yang seharusnya memiliki ide besar untuk sastra semakin menyusut. Sisanya adalah orang-orang kalah yang terkenal.

“Menulis puisi ecek-ecek seperti itu dengan followers yang banyak, akhirnya terkenal. Nggak peduli dia mau nulis apa yang penting terkenal. Itu realistis karena mereka butuh uang,” keluhnya.

Reporter : Awan Muawan

Redaktur : Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of