Mempertanyakan Ulang Ideologi

Mempertanyakan Ulang Ideologi

  • 44
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    44
    Shares

Oleh: Ajid FM*

“Tidak peduli kucing hitam, atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus“ (Teng Xiao Ping)

Pemberhalaan Ideologi

Ideologi dalam hal ini sebagai cara pandang, dan kemudian menjadi praktek dalam tindakan, sering kali dijadikan legitimasi untuk membenarkan segala sesuatu. Pemahaman yang tidak disertai dengan pemahaman historisitas di mana dan bagaimana situasi sosial ideologi lahir inilah yang kemudian menyebabkan pembakuan ideologi. Yakni, menempatkan ideologi sebagai sesuatu yang final dan tidak dapat diganggu gugat.

Jika berbicara menegenai lahirnya sebuah ideologi, tentunya seiring dengan pemenangan dan kekalahan dari berbagai kepentingan. Misalnya, sosialisme lahir atas respon eksploitasi kapitalisme dalam hal ini sebagai sistem ekonomi. Dalam tradisi genealogi Nietzschean dan Faucouldian, hal ini terjadi karena, semua sistem pengetahuan dipandang arbirter, sebab mereka merupakan persaingan dari beberapa ide, paradigma, presepsi.

Misalnya Marx menganggap ideologi sebagai ‘kesadaran palsu’ yang diciptakan untuk keuntungan kelas tertentu. Dalam konteks, bahwa  kenyataan sosial politik yang keliru terhadap pemahaman kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang adil, padahal sangat menindas.

Ideologi dalam pandangan Gramsci, diartikan sebagai sesuatu yang hegemonik, menindas dengan cara menggantikan kebudayaan tertentu. Misalnya ketika buruh Italia, bukan malah memperjuangkan hak-haknya, melainkan malah terpengaruh retorika elit partai fasis yakni propaganda “anti asing”.

Louis Althusser memandang ideologi adalah cara membentuk kepatuhan. Dengan atau tanpa melaui kekerasan. Dalam hal ini lingkungan sosial dan segala perangkat yang melekat adalah ideologi, pendidikan, hukum, budaya bahkan agama dalam tataran tertentu adalah ideologi. Selain itu, menurut Althusser negara yang memuat sistem pemerintahan, administrasi, angkatan bersenjata, polisi adalah salah satu alat pembentuk kepatuhan.

Sampai disini, penting untuk kita uji cara kerja ideologi dan bagaimana memperlakukan ideologi dengan semestinya, dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan, dan bagaimana ideologi lahir dan berkembang. Mari kita absen.

Misalnya, liberalisme sebagai ideologi yang membenarkan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam artian kapitalisme adalah suatu keadaan, sementara liberalisme adalah keyakinan untuk melegitimasi kenyataan.  Dengan konteks kelahiranya sebagai perlawanan atas feodalisme dan sitem monarki, misalnya di Perancis, liberalisme klasik berujung pada Revolusi Perancis 1789. Atau liberalisme modern, lewat kebijakan New Deal oleh Rosevelt di Amerika Serikat antara tahun 1933-1936.

Baca juga  Server Down lagi, Peserta PBT Mandiri Mengeluh

Liberalisme kemudian bermuara pada neoliberalisme yang muncul untuk mengatasi beratnya subsidi dan rendahnya akumulasi modal yang diakibatkan oleh negara kesejahteraan. Misalnya di Inggris, pada masa Thatcher (1979-1990), seluruh subsidi negara dihapuskan, dan badan usaha negara diswastakan.

Kemudian anarkisme sebagai respon atas kepelikan yang ditimbulkan oleh sistem ekonomi kapitalisme, yang membuat ketundukan negara pada sistem. Atas dasar itulah anarkisme, menganggap sumber permasalahan adalah negara, maka dari itu negara harus dihapuskan dan dihentikan, kemudian kembali pada sistem komunal, setiap warga setara. Misalnya, ditahun 1871 Paris berhasil diambil alih gerakan buruh, kemudian birokrasi dan negara dibubarkan. Namun karena tidak adanya konsep yang matang, anarkisme akhirnya tumbang dengan waktu yang singkat, bersamaan dengan korban yang berjatuhan dalam tragedi “Minggu Berdarah”. Pun demikian dengan kasus di Jerman.

Bahkan marxisme, yang merespon kondisi kelas buruh pasca revolusi industri di Eropa. Marxisme dengan semangat “masyarakat tanpa kelasnya”, dengan landasan teori sosial-politik tentang sosialisme demokratik kemudian berpuncak pada komunisme. Cita-cita yang demikian luhurnya di mana penghapusan pendindasan atas masyarakat.

Misalnya, melihat praktik dari beberapa penerjemahan terhadap marxisme dalam negara-negara tertentu, Uni Soviet, Cina, Vietnam dan negara-negara di Amerika Latin. Tak lebih dari hanya untuk mensejahterakan elit-elit, dengan korban yang demikian banyak.

Maksud saya adalah, ideologi apapun dan dari manapun berasal, akhirnya juga akan menghasilkan penindasan baru. Semangat pembebasan yang dibawa olehnya di kemudian hari akan membelenggu juga. Misalnya ideologi kapitalisme membawa pada ketimpangan dan kesengsaraan di sepanjang perkembangannya. Anarkisme membawa pertumpahan darah pada “Minggu Berdarah”. Bahkan marxisme (komunisme) membawa pada penderitaan, misalnya pada Revolusi Kebudayaan Mao, sementara di Vietnam terdapat kekejaman Khamr Merah dibawah pimpinan Pol Pot.

Sejarah dan Pemurnian Ideologi

Kita meyakini bahwasannya dalam setiap ruang terdapat hal-hal yang menjadi ciri khas, yang kemudian akan mempengaruhi sejarah, di dalam dan di luar perkembangannya. Kesemuanya saling berkaitan dalam menentukan arah dan jalan sejarah. Misalnya pemahaman tentang saling berkaitanya lokalitas, nasionalitas, dan globalitas. Jika trilogi alur sejarah tersebut dimaknai secara geografis, dimana lokal adalah kabupaten, nasional adalah negara dan global adalah dunia. Maka pandangan kita atas sejarah hanya akan sampai pada pertarungan ideologi, misalnya kapitalisme dan sosialisme, sangat sempit sekali.

Baca juga  Semangat Hari Sumpah Pemuda

Namun berbeda cerita ketika misalnya, pemahaman tentang lokaliatas adalah lingkup terkecil dari identitas yang saling berbeda, dalam artian plural, gender, suku, dan ras. Nasionalitas berarti karakter umum tentang kekuasaan, proyeksi kekuasaan, sampai pada kendali kekuasaan. Pemahaman globalitas diartikan sebagai ruang dimana perdebatan, dialektika, ideologi dan sistem budaya yang menyangkut pada prihal kemanusiaan. Dengan demikian pembacaan kita tentang realitas maupun sejarah sampai pada sub-sub terkecil sampai pada akar-akar yang tidak tersentuh.

Sejarah sebagai proyek yang tak pernah rampung adalah ruang bagi pertemuan antar gagasan-gagasan yang mempunyai misi pemenangan. Namun sejauh pemahaman kita tentang sejarah, bahwa sejak lahirnya pengetahun yang kemudian dibakukan lewat ideologi. Sejarah sejauh ini selalu mempunyai garis pembatas antara kapitalisme dan sosialisme dan sederetan isme-isme yang menyempitkan paradigma berfikir dan laju perkembangan peradaban. Namun lain hal jika sejarah yang memberi pembatas bagi isme-isme, maka manusia sebagai pelaku sejarah tidak akan sempit dalam berfikir, serta sampailah pemahaman pada sebegitu luasnya dunia dan ‘kaya’ nya manusia.

Maka menjadi penting, untuk sampai pada pemahaman tentang ideologi secara khaffah. Dengan landasan geneologi ideologi yang menyebabkan penindasan baru, seharusnya bukan dimaknai sempit, misalnya jika bukan kapitalisme, maka komunisme, jika bukan keduanya maka anarkisme dan lain sebagainya. Pemaham tentang ideologi seharusnya dan sepantasnya membawa pada kedewasaan berfikir, dan atau bagaimana sebuah ideologi setia terhadap kemanuisaan.[]

*Penulis Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga. Mengabdi di LPM Arena dan KMPD.

Ilustrasi: https://veja.abril.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of
%d blogger menyukai ini: