Jumlah Guru Besar Kurang, Rektor Canangkan Program Post Doc

Jumlah Guru Besar Kurang, Rektor Canangkan Program Post Doc

  • 18
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    18
    Shares

Lpmarena.com-Wakil Rektor I bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Sutrisno mengungkapkan jenjang pendidikan dosen UIN Sunan Kalijaga masih di bawah standar. Untuk menjadi kampus yang ideal, seharusnya universitas memiliki minimal 50 persen dosen dengan gelar doktor dan 15 persen profesor atau guru besar. Namun hingga saat ini kampus belum mencapai angka tersebut.

“Untuk mempercepat proses tersebut maka ada program Post Doctoral,” tutur Sutrisno.

Menjadi perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) terfavorit dan diburu pada Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) PTKIN pada 2018 ini membuat UIN Sunan Kalijaga mempersiapkan beberapa hal. Di antaranya adalah menyiapkan tenaga kerja pendidik.

“Untuk mewujudkan itu harus ada excellentasi dari segi tenaga pendidiknya, dalam hal ini adalah dosennya,” jelas Sutrisno saat ditemui ARENA, Senin (9/4) pagi setelah mengajar di fakultas Tarbiyah dan Keguruan Islam.

Sunan Kalijaga International Post Doctoral Research Programm yang kemudian disederhanakan menjadi Post Doc merupakan program yang dicetuskan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi sejak tahun 2016 untuk membantu dosen yang sudah  bergelar doktor agar segera menjadi guru besar. Bentuknya, kampus memberikan dana bantuan penelitian untuk setiap doktor yang lolos seleksi program tersebut sebesar 50 juta rupiah pertahun dari pagu BOPTN.

Harapannya dana tersebut dapat digunakan untuk penelitian dan menerbitkan minimal dua jurnal internasional. “Syukur bisa sampai 4 jurnal, supaya cukup untuk mengajukan ke guru besar,” tambah Sutrisno.

Tidak hanya dana, peserta juga mendapatkan pendampingan. Sebagaimana telah dipublikasikan dalam buletin Slilit ARENA edisi bulan November tahun 2017, Wakil Rektor II bidang Keuangan, Perencanaan, dan Administrasi Umum Sahiron mengungkapkan, dari sekian syarat menjadi profesor, publikasi internasional merupakan syarat yang sulit.

Baca juga  Sekolah Relawan, Cetak Relawan Humanis

Untuk itu kampus juga memfasilitasi peserta dengan Academic Writing. Pendampingan ini meliputi pelatihan bagaimana menulis yang bagus, menganalisis data, dan menyusun argumentasi dalam standar internasional. Dalam waktu dua minggu sekali angkatan 2016 mendapatkan pendampingan secara langsung dari Kerstin Hunefelsd dari Berlin, Jerman dan Abdul Haqq Chang dari Texas U.S.A. Program ini berada di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Maasyarakat (LPPM).

Kepala LPPM AL Makin menyatakan peserta program Post Doc berjumlah 18 dosen pada tahun 2016 dan 15 dosen di tahun 2017. Sementara tahun 2018 belum diketahui, karena masih dalam tahap pendaftaran,” jelasnya pada ARENA, Senin (9/4) siang.

Menerbitkan jurnal internasional setidaknya membutuhkan waktu 2 tahun. Satu tahun melakukan penelitian dan satu tahun kemudian untuk persiapan administrasi. Sejauh ini belum ada guru besar yang lahir dari program Post Doc. Menurutnya, agar bisa publikasi di jurnal internasional membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Paling tidak dua tahun baru kelihatan hasilnya,” terangnya.

Selain itu, menerbitkan di jurnal internasional tidaklah mudah. Adapun jsurnal internasional yang dimaksud adalah jurnal yang sudah terindeks di Scopus. Di Indonesia jurnal yang terindeks Scopus baru 40 buah.

 

Reporter : Akmaluddin dan Ni’am

Redaktur : Fikriyatu Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of