Karya Puisi Tsaqif : Bulan Muncul di Dada Kami

  • 54
    Shares

Bulan Muncul di Dada Kami

Bulan masih muda waktu itu,
sedang bintang hanya berkelip, berkedip, dan terselip
di antara puing-puing malam yang menyembunyikan sayap bidadari.

Begitulah malam,
hanya bisa merebut cahaya.
Lalu bagaimana bulan bisa menari sambil menemani kami bermain halma di serambi.
Malam sudah melumatnya seperti buah kesambi
dan membaringkannya di keranda bersama sunyi.

Neon-neon berkampanye menjadi bulan
dari ruang tamu hingga wc
lalu menyatu seperti donat.

Tapi bulan kami tak seperti itu.
Bulan kami purnama dengan pancaran nur yang selalu berkelindan di segala ruang
di hati kami, hati yang membutuhkan kehangatan
kala matahari pergi ke luar kota
mata dan mulut tak pernah mengatup.

“Karena kuingin selalu ada bulan di sampingku.”
Kini, kami bisa tertawa geli setiap melantunkan kidung rembulan
sebab setelah itu bulan-bulan muncul di dada kami.

 

Karena Tak Ada Oase di Dadamu

Menjelang senja aku terkapar di atas pahamu
selembut puisi.
Sebab cakrawala terlalu silau untuk kau tatap
dalam lumatan sajak-sajak Rumi.

Di bandara layangan ujung desa, sayapku mengepak bak capung.
Membawa surat bumi pada langit.
Tentang datangnya kapal nuh.
Dari laut yang dibelah dengan tongkat Musa.

Wajahmu selalu pucat kala bulan
datang dengan sebilah arit.
Dan i’tikaf bintang-bintang membuatmu
Tenggelam dalam permainan monopoli

Sementara itu,
anak kecil telanjang saat hujan merayunya.
Demi melampiaskan nafsu langit
demi senja apabila tersenyum
Akan kuteguk embun di kening dan bibirmu.
Walau matahari meniadakannya
tak melunasi yang lebih indah

Lalu di dadamu kutanam cinta angin
Yang berembus
Menembus
Menghunus dedaunan.

Saat kuterima selembar daun
Dari seekor kupukupu
Mataku tak lagi melihat
Berembus
Menembus
Menghunus
Karena tak ada oase di dadamu

Baca juga  Kesedihan Sarimin

 

DUA PERIHAL PENGANTAR TIDUR

I
Bilamana kau ucap aduh pada batu
Yang membuatmu terpeleset jatuh
Pastikan hatimu setulus aku
Biarkan darahmu mengalir
Agar daging tubuhmu menghirup udara segar
Yang selalu sabar memompa uraturat nadi di jantungmu

Teruslah memandang jauh
Sampai sebuah kalimat usang tiba di kepalamu
Dari masa lampau yang kau mulai lupa siapa pengarangnya
“tak ada yang lebih tulus mencintaimu dibanding aku”
Yang tak lupa luput lelah
Memanggil pedang pencabut nyawa

II
Di sebuah pigura
Waktu sejenak singgah
Membekukan dirinya pada senyumanmu

Ia mulai nyanyikan kidung suka dan duka kemarin
Atau segulung benang bermata pancing
Yang kau urai, ke arah masa yang akan datang
Kabulkanlah, meski tak semua, Tuhan

Lalu hujan dan angin musim
Terus menderu
Terus berderai

Menyaksikan sejauh apa
Ketabahanmu tumbuh dan berbuah
Permen lolypop di bibir dan lidah manisan

 

Bayang-Bayang yang Meneteskan Darah

Pada musim dingin yang luka
Tak terdengar lagi derai kemanusiaan
Yang nampak di depan cermin hanyalah batu-batu yang dungu
Langit seketika runtuh dalam lipatan darah

Tiada persinggahan lagi untuk menatap matahari
Kegelapan teknologi telah begitu jauh menjadi kepala ruhani zaman
Semua yang diperebutkan hanyalah asap perih yang bertiup dari kegelisahan

Pagi itu aku berdiri pada ketinggian salju yang panas
Kaki berhamburan bagai debu-debu Tuhan
Kuteriakkan pada awan tentang anak yang kehilangan kepalanya
Namun, ternyata suaraku hangus
Menjadi semata bayang-bayang yang meneteskan darah

 

Penulis: Tsaqif Al Adzin Imanulloh, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 yang merasa hidup ialah sekumpulan ambisi.

Foto: pinterest.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of