Melumrahkan Cat Calling, Turut Menyumbang Angka Pelecehan Seksual

  • 43
    Shares

Oleh: Anisa Dewi Anggri Aeni*

Sekretaris Umum memastikan tidak ada lagi yang berpendapat sebelum menyimpulkan pembahasan utama rapat. Setelah dibubarkan, peserta rapat riuh di tengah kegelapan mencari sandal dan sepatu masing–masing. Kondisi ruang Student Center gelap lantaran lampu sudah dipadamkan sejak pukul 21.30 WIB.

Aku bersama salah satu teman perempuan beranjak pergi meninggalkan gedung, menyusuri jalan dan menikmati udara malam. Bisingnya kendaraan tak membuat kami berhenti saling bertukar cerita.

Sekitar 300 meter di depan, terlihat gerombolan pemuda tengah bercengkerama. Aku was-was dan benar saja, kalimat “Neng, mau kemana? Mau dianter?” keluar dari mulut salah satu diantara mereka.

Temanku diam saja, sementara aku sengaja memandangnya dengan tajam, ekspresi dingin dan dagu diangkat, sampai mereka berdiam pula. Sebuah konfrontasi sederhana untuk melawan cat calling agar esok saat melintas di jalan itu lagi, kami tidak mengalami krisis kenyamanan.

Kegiatan melecehkan orang di jalan baik melalui komentar, isyarat, gerak tubuh atau perbuatan, dari orang asing kepada orang lain disebut cat calling. Tujuannya tidak lain adalah untuk merendahkan orang lain. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelecehan di jalan.

Kejadian di atas bisa menimpa siapa saja, baik laki-laki atau perempuan. Namun seringkali perempuan yang menjadi korban. Ucapan-ucapan “Hai cantik mau kemana? Cewek, manis banget, sih!”

Bentuk lainnya, suara-suara siulan yang jelas mengganggu kenyamanan aktivitas di ruang publik. Masih banyak lagi ucapan–ucapan serupa yang terkesan memuji dengan menempelkan label cantik, sayang, atau sapaan akrab semacam Neng, Beb, Dek yang sesungguhnya melecehkan. Perempuanlah yang kerap menjadi korban pelecehan seksual berbentuk verbal yang bermula dari cat calling.

Kembali lagi pada muara ketimpangan gender yang diakibatkan oleh kentalnya budaya patriarki. Padahal baik perempuan maupun laki–laki memiliki kebebasan berekspresi yang sama. Namun ketika cat calling terjadi, hak kebebasan berekspresi pada dasarnya telah direnggut. Lagi-lagi di abad ke-21 ini perempuan dijadikan objek ketimbang rekaan yang setara.

Setiap orang perlu diperlakukan secara hormat, diberi penghargaan dan mendapat empati. Bukan menjadikan perempuan sebagai subordinat, alih-alih mencoba mengakrabkan diri atau istilah jaman old yang sampai sekarang masih membumi adalah SKSD alias sok kenal sok dekat. Hal itu justru masuk ke dalam kategori sebagai perlakuan street harrasement yang mengarah pula pada public shaming.

Terdengar sederhana, sekilas memang tidak ada masalah yang krusial. Namun bila ditelaah lebih dalam cat calling menjadi penyumbang akar pelecehan terhadap perempuan. Kala perempuan berjalan sendirian terutama pada malam hari, terlebih apabila menjelang tengah malam, tak sedikit menjadi korban cat calling.

Dilema pasti terjadi, satu sisi bila menanggapi lontaran dari para pelaku, akan menimbulkan perlakuan yang barangkali tidak diinginkan. Akan tetapi bila didiamkan, kultur di mana perempuan terus menjadi objek yang bisa sesukanya dilecehkan akan terus membudaya. Tentu saja terlepas dari pakaian yang dikenakan. Pelaku cat calling tak memandang busana. Bahkan berjilbab atau tidak, keduanya rawan menjadi korban.

Baca juga  Hari Perempuan

Malam menjadi suasana yang sendu bagi sebagian orang, termasuk diriku. Menikmati perjalanan dari kampus menuju rumah kos adalah hal yang menyenangkan, menemukan sisi romantis dan berpuisi dengan jalan.

Barangkali berbeda bagi orang-orang yang pernah menjadi korban, mereka tak lagi berani keluar malam dan berjalan seorang diri. Sisi psikologis terganggu dan perasaan insecure sudah pasti tumbuh.

Imbas dari cat calling acap melahirkan rasa takut terutama bagi para walker. Merasa privasinya terganggu, sebab kenal saja tidak, repot bertanya hendak kemana.

Selanjutnya yang membuat hati pilu adalah menjadi objek seksual. Kasus lain yang pernah kudapati adalah ketika seorang pengendara motor sengaja mengurangi kecepatanya sebab melihat perempuan berjalan sendirian. Pengendara motor itu lantas memegang bagian tubuh tertentu perempuan tadi lalu menambah kecepatan super untuk tancap gas dan kabur. Ia melakukannya untuk memenuhi hasrat seksual diri sendiri tanpa tahu dampak dari korban!

Tidak sekedar melahirkan rasa takut, cat calling juga menumbuhkan kecemasan, kepercayaan diri menurun, dan citra negatif terhadap tubuh. Sama halnya dengan body shaming yang mampu memicu depresi, pun dengan cat calling. Saat ini sudah ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia yaitu melucah. Hal- hal semacam itu jelas mengganggu mental individu.

Namun lagi-lagi pelecehan ini masih dianggap lumrah oleh kalangan masyarakat sebagai imbas paradigma yang patriarkis. Tidak jauh beda dengan pelecehan seksual lainnya bila dibawa ke ranah hukum, pasti akan dipersulit. Terlebih lagi, belum ada undang-undang yang mempertegas akan bahayanya melucah.

Jangankan cat calling, kasus pemerkosaan ketika melalui proses laporan ke pihak berwajib seringkali korban yang disalahkan dengan dalih tidak bisa menjaga diri atau berpakaian terbuka.

Baca juga  Khuldi dan Tafsir Kegagalan Sosial-Politik

Yang semestinya korban dilindungi, justru diintimidasi dengan pertanyaan yang semakin membuatnya tertekan dan turut menambah beban psikologisnya.

Contoh kasus lain adalah apa yang menimpa Fala Adinda, seorang dokter yang menjadi korban cat caliing pada September dua tahun silam. Melansir dari Tirto.id, pada suatu waktu Fala digoda dengan pernyataan ”Hai, cantik”. Merespon ini, Fala yang tidak terima melapor ke polisi. Panjang lebar ia bercerita, sayangnya tanggapan meremehkan justru datang dari pihak yang mestinya melindungi masyarakat.

Dua jam kemudian ia bertemu dengan polisi lain, beruntung polisi itu merespon dengan baik dan memberi arahan kepada orang–orang yang melakukan cat calling pada Fala. Berkisahlah ia di Twitternya dan ada polisi yang menanggapi sehingga sempat viral pada saat itu.

Meski belum ada legalitas yang mengatur, melucah bukan hal yang harus dilestarikan sebagai budaya masyarakat. Mewajarkan pelucahan sama saja dengan melanggengkan budaya patriarki.

Setidak-tidaknya meminimalisir tindakan pelecehan semacam ini. Tidak perlu diberikan ruang atau toleransi untuk cat calling. Isu ini menjadi penting mengingat perlunya kemampuan seseorang dalam memposisikan dirinya sesuai kapsitas relasi yang setara.

 

*Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris semester VIII. Saat ini mmsedang mengemban amanat sebagai Kepala Litbang di LPM Suaka UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of