Militerisme Masa Kini

  • 19
    Shares

Lpmarena.com- Sampai saat ini pengaruh Orde Baru tentang militerisme masih saja menancap kuat di dalam diri masyarakat. Dianto Bachriadi, Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 2012-2017 dalam diskusi publik “Menyorot Kebijakan Dwi Fungsi ABRI di Era Orde Baru dan Refleksi Kekinian”, Rabu (18/04), memberikan beberapa contoh diambilnya nilai-nilai kemiliteran yang kemudian menjadi budaya masyarakat.

“Seperti berdisiplin dengan baris-berbaris atau mengatakan “siap” ketika mendapatkan perintah.”

Dalam diskusi yang diadakan di Interactif Center Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut, Dianto juga memaparkan di masa Orde Baru berkuasa, segala urusan masyarakat harus melalui izin. Mulai dari hal terkecil seperti pernikahan sampai mencalonkan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), semuanya harus ijin dengan prosedural yang cukup rumit. Di masa itu, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) juga dianggap sebagai hal biasa jika itu demi negara.

Susanto selaku Kepala Pusat Studi Pengembangan Cagar Budaya dan Permuseuman Universitas Negeri Sebelas Maret  menyatakan militerisme akan terus menjadi daya tarik ketika sipil lemah. Ia juga memaparkan mengenai kondisi negara saat Dwi Fungsi ABRI diterapkan pada masa orde baru. Dwi Fungsi ini adalah doktrin bahwa tentara tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan dan keamanan, tetapi juga menjaga ketertiban sosial dan politik.

Saat ditanya oleh peserta diskusi tentang bagaimana memetakan militer profesional, revolusioner, dan reaksioner, dengan tegas Dianto mengatakan bahwa slogan ‘tentara Indonesia adalah tentara rakyat’ telah berakhir begitu kemerdekaan diraih bangsa Indonesia. Setelah SOB dan tahun ’65, yang ada hanyalah tentara-tentara reaksioner dan pragmatis.

“Dan makin kesini makin pragmatis,” tegasnya.

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat sipil harus memiliki sikap agar militer tidak masuk lagi ke dalam dinamika perpolitikan negara. Menurutnya, ketika monolitik militer berkuasa, mereka akan mendorong negara pada disintegrasi. Di dalam rezim demokratik mau tidak mau tentara harus ditarik ke barak.

Baca juga  TPS FEBI Gabung Fishum, Mahasiswa Bingung.

Reporter : Zaim

Redaktur : Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of