Eko Triono, Sang Maha Kuasa dalam Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini

  • 8
    Shares

Buku kumpulan cerita, yang berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini, karya Eko Triono. Melalui keliaran imajinasi penulis dengan teknik yang eksperimental dan metafiksi, memberi banyak terobosan baru dalam sastra. “Sastra itu bebas” berhasil diamini oleh penulis, yang juga menjadi staf pengajar di Universitas Mercubuana (UMB) Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Dalam buku terbitan Basabasi yang berisi 26 cerita dengan ketebalan 220 halaman tersebut, Anton Kurnia, dalam pengantarnya mengungkapkan ekspresi kekaguman pada keliaran Eko yang mampu menyajikan pertempuran antara pengarang dan pembaca lewat kumpulan cerita.

Kamu Sedang Membaca Buku Ini saya katakan ‘baru’, mengenai ide cerita, pengemasan, dan kebebasan yang mengaburkan kaidah maupun unsur-unsur yang teoritis. Tampak nyalang keberanian Eko dalam menulis kumpulan cerita ini. Berlatar belakang nominator Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, tak membuat Eko malu-malu untuk menulis bahkan menerbitkan buku yang terbilang bebas dengan teknik eksperimental dan metafiksi.

Pembaca ‘dipaksa’ berpikir dan terlibat aktif saat menyelami buku ini, walau dalam mata dan otak yang berkunang-kunang. Salah satunya dalam cerita berjudul Cerita dalam Pertemuan Kita Dua kata awal tampak biasa dan ‘normal’, menginjak pada kata ketiga, pembaca akan dibuat bingung. Dalam cerita pembuka itu, tokoh utamanya adalah Kabar dan Apa. Sejenak akan terasa bingung, mengingat dua kata awal yang saya sebutkan tadi adalah dialog, “Apa Kabar?” Dialog tersebut adalah pertanyaan, akan tetapi yang menjawab ialah Kabar.

Lanjut pada judul cerita kedua, pembaca akan masih disemuti pertanyaan-pertanyaan. Berikut  saya tuliskan cerita pada judul kedua ini: Cerita dalam Satu Kata.

Cerita.

Sudah. Isi dari cerita itu hanya satu kata yang diimbuhi satu tanda baca saja. Mungkin jika diraba-raba, banyak pembaca yang akan mengumpat setelah baca cerita ini. Bagaimana tidak, keanehan tampak begitu jelas dimana judul cerita empat kali lipat lebih panjang dari isi ceritanya. Jika ditelisik lebih jauh lagi, masih dalam konteks pembaca berkarakter ‘suka mengumpat’, maka umpatan-umpatan akan bertebaran jika membaca cerita keempat belas. Ini jauh lebih parah dari Cerita dalam Satu Kata. Judul pada cerita ke empat belas ini memakan satu halaman full. Jika dihitung-hitung, judul cerita tersebut berisi 101 kata dan isi cerita hanya tiga kata saja. Tiga kata yang lalu dibumbui coretan tanda tangan. Namun, judul dan isi sebetulnya bisa dibalik penempatannya dan tidak akan mengubah maksud cerita, jika secara makna mungkin berubah.

Baca juga  Indonesia Berpeluang Meningkatkan Ekonomi Kreatif Melalui FinTech

Permainan Eko hadir kembali pada cerita berjudul Cerita Pendek dan Cerita Panjang. Cerita ini berisi tentang dua tokoh yang saling berdebat, tak mau kalah dengan kelebihan yang mereka punya. Dua tokoh tersebut adalah Cerita Pendek dan Cerita Panjang. Konflik dalam cerita ini dibangun ketika mereka saling merebut dan meributkan diri tentang kedudukan siapa yang paling mulia di mata pembacanya. Banyak unsur faktualitas yang disusun dalam cerita ini, meski pengemasannya tetap dalam bentuk fiksi, mengingat tokoh ceritanya hanyalah Cerita Panjang dan Cerita Pendek.

Keunikan selanjutnya dihadirkan Eko pada cerita berjudul Cerita dalam Banyak Katanya. Alur dalam cerita ini dikemas dalam bentuk kumpulan kata beserta arti dari kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Selanjutnya ia memberikan contoh dengan kalimat-kalimat puitis yang sampai pada pembaca. Contoh cuplikan cerita:

Serius/se-ri-us/ /serius/a

  1. sungguh-sungguh;

Kamu tahu cintaku padamu sangat tidak bergurau, kamu pun mengerti bahwa aku ingin menikah denganmu dan membuatkan seribu puisi dalam satu malam sebelum ayam jantan berkokok.”

Dalam fisiknya, hampir tiap judul memiliki keunikan sendiri-sendiri. Selain yang sudah disebutkan di atas, ada juga cerita yang fisiknya tidak selayaknya cerita biasa. Cerita ini berjudul Cerita dalam Ulangan Harian Kita di mana cerita tersebut dikemas seperti soal sebuah ulangan atau tes. Bahkan, ada opsi a, b, c, d, dan e layaknya soal pilihan ganda. Selanjutnya ada cerita berjudul Cerita dalam Resep Membuat Hantu. Cerita ini berisi langkah-langkah membuat hantu, namun dibalut seperti teks prosedur yang lengkap dengan bahan, bumbu, dan metode yang harus dilakukan. Ada lagi pada Cerita yang Mengancam Mendatar dan Mengancam Menurun, yang menawarkan bentuk cerita layaknya soal Teka-Teki Silang (TTS).

Baca juga  Sosialisasi Minim, Pemilwa Saintek Diikuti Kurang dari 50 Persen Mahasiswa

Tipografi juga ikut disebut dalam beberapa cerita di buku ini. Tipografi yang dalam penggunaannya biasa ditemui dalam puisi, kini juga hadir dalam buku karya Eko. Sebut saja pada cerita berjudul Cerita Berbingkai Bangkai tentang Berita Derita Kita. Tipografi tampak jelas dalam isi cerita yang hanya berisi beberapa kata saja. Isi cerita ini dirangkai dengan unsur estetika tersendiri baik dalam bentuk fisik, maupun tiap kata yang kesemuanya mengandung rima.

Secara keseluruhan, Eko menawarkan kebaruan dalam sebuah prosa berbentuk cerita. Dalam tulisannya, secara tidak langsung ada persuasif yang mengajak pembaca terlibat aktif dan berpikir. Jika dilihat secara ketentuan dan kaidah sastra yang sudah ditetapkan, Eko tentu masih jauh dari kata seorang hamba yang penurut kepada si empu pemberi kaidah ini. Namun, dengan segenap keberanian Eko, kumpulan ceritanya ini, mampu memberikan pendekatan tersendiri kepada pembaca dan membiarkan pembaca bertualang dalam alam imajinasi ketika menyelami hingga palung terdalam dalam buku ini.

Judul Kamu Sedang Membaca Buku Ini | Penulis Eko Triono | Penerbit Penerbit Basabasi, Yogyakarta | Ukuran/Tebal 220 hlmn/14 x 20 cm | ISBN 978-602-6651-67-9 | Tahun Terbit Desember, 2017 | Peresensi Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of