Ulik Fenomena Minor Musik dalam Masyarakat

  • 10
    Shares

Lpmarena.com– Alunan gitar dari Deugalih mengawali peluncuran buku berjudul Lanskap: Mosaik Musik dalam Masyarakat oleh Laras Studies of Music in Society. Lanskap merupakan buku kedua yang terbit setelah buku pertama berjudul Ensemble. Peluncuran buku Lanskap digelar di AOA Resto & Creative Space, Kamis (19/4).

Acara tersebut mendatangkan Raka Ibrahim selaku editor Jurnal Ruang dan Irfan R. Darajat selaku editor buku Lanskap. Buku tersebut berisi sembilan tulisan, yang kata Irfan berawal dari tema random, yang semua bisa ditulis, dan semua orang bisa mengikuti.

“Buku ini upaya menghadirkan amatan tentang fenomena musik di masyarakat yang belum banyak dibicarakan. Dari sisi politis, sosiologis, antropologis. Kami buat lebih luas lagi spektrumnya,” ujar Irfan.

Raka mulai membedah buku dengan kritik untuk para penulis musik. Ia mengatakan, penulis musik kebanyakan mengulas musik sesuai seleranya sendiri dan menyebut dirinya kritikus. Padahal, kegiatan itu bukan kegiatan kritikus, tapi kegiatan reviewer. Kedua, ketika membaca suatu buku, semisal yang berkaitan dengan analisis kuasa pengetahuan dalam musik. Ambil saja teori Foucault, orang tak berpikir bahwa dirinya “membaca”, tapi lebih kepada Foucault siapa?

Bagi Raka, musik tidak berangkat dari ruang kosong. Ada kaitan yang begitu kompleks baik dari asal-usul musik datang hingga pendanaannya. Namun saat ini, seringkali pembahasan musik lebih mentok pada urusan selera, bukan bentuk, karena bentuk dianggap kurang menantang. Ada yang membahas musik dari sisi akademis, tapi biasanya yang sering menginisiasi datang dari luar negeri.

Raka mengatakan, di Lanskap banyak artikel yang “bikin ribut”. Persoalan yang diangkat banyak; dari soal kontelasi musik Jalan Kaliurang yang ditulis oleh Rizky Sasono (Summerbee & The Honeythief), hingga musik dangdut dari orang-orang pinggiran oleh Micahel HB Raditya yang malam itu bertindak sebagai moderator.

Ada pula tulisan dari Ferdhi F. Putra yang membahas tentang Gerakan Metal Satu Jari (GMSJ) yang mengatasnamakan Islam dan melawan apa yang dianggap pemurtadan. Diceritakan Raka, di tulisan itu vokalisnya diambil dari rumah sakit, ketika ada festival musik metal dan azan berkumandang, mereka berhenti dan melakukan solat bersama. Semangat metal dipakai untuk melawan metal. Meski begitu, Raka menyayangkan tidak adanya gerakan yang serius melawan Islam konservatif.

Baca juga  Musikalisasi Sastra Untuk Generasi Muda

Ferdhi memberi komentar bahwa musik ideologis jarang mengakar. Sejak 90-an punk sudah dikonsumsi dan terus mengalami radikalisasi. Bagaimana akulturasi punk tidak terjadi, yang Ferdhi tulis mencoba membahas kemunculan Punk Muslim sebagai akulturasi musik. “Aku melihat dari perspektif ruang yang imajiner,” ucap Ferdhi yang salah satu risetnya dilakukan di Surabaya menemui penggerak anarkis Kolektif Bunga.

Tulisan tentang musik metal lainnya datang dari Wiman R. Darajat yang membahas tentang musik metal di Banyumas. Ada sebuah band bernama Agnostica yang mendapat asupan wacana metal dari majalah dan kaset; tidak didapat secara ideologis dari sumber aslinya seperti teman-teman di Jakarta. Agnostica mulai bernyanyi dari segi spiritualitas. Anggota mulai masuk ke pesantren dan membuat komunitas penjara suci underground comnunity. Pesantren jadi kantong black metal.

“Yang penting teknik mereka dalam bernegosiasi dalam masyarakat dan mereka gak mau dibilang black metal oriental, tapi Art Generation of Simphonic and Estetica. Keren banget, njrit,” ulas Raka seraya tertawa.

Menyoal dua artikel tentang metal ini, Irfan menambahkan bahwa tulisan yang dihadirkan dimulai dari fenomena dan persoalan, sehingga tidak sok-sok’an akademis. Ketika ada dua tulisan yang bertema sama semisal musik metal, tulisan tersebut dihadirkan dengan perspektif yang berbeda.

Ada beberapa artikel menarik lain yang diceritakan Irfan. Seperti tulisan Ragil yang berbicara tentang fenomena pencantuman no thanks to di album-album, yang menyangga beban ideologis tertentu.

“Sebenarnya itu bunyi sebagai apa? Ada juga yang no thanks too ke koruptor, penjahat, manipulator, dan semua yang tak menghargai ide, dari album Netral. Itu ada, tapi (di masyarakat-red) gak didekati secara serius,” tambah editor asal Purwokerto itu.

Relasi Kuasa

Munculnya media baru seperti MP3 hingga Spotify juga mempengaruhi musik dan menjadikan struktur pengamatan kian kacau. Raka menjelaskan, penikmatan musik era sekarang menjadi berbeda. Musik tak dibedakan berdasarkan aliran, tapi berdasarkan mood, seperti mood untuk lagu galau. ”Kita tak punya kultur menikmati musik, seluruh sistem penikmatan gak pernah bener,” kritik penulis buku Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya tersebut.

Baca juga  Roy Murtadho: Nabi Muhammad Itu Pemberontak

Di lain sisi, subkulutur tidak dimulai dari bawah. Sebab banyak fenomena yang justru mendapat support dari pemerintah atau pihak-pihak yang memiliki kuasa, relasi, dan modal. Raka mencontohkan, Iwan Fals jadi apa kalau tidak ada Setiawan Djodi; Rhoma Irama apa jadinya jika ia bukan orang kaya; dulu Koes Plus ditangkap bukan karena musiknya, tapi karena main di acara polisi. Ada pula gerakan-gerakan punk kok wangi? Punk kok pakai mobil?

Menyangkut relasi kuasa, Irfan menjelaskan bagaimana awal perkembangan musik yang disebut “keren” ada di kalangan kelas menengah, yang notabene mendapat akses lebih baik. Bahayanya, hal itu membentuk gengsi, kelas, dan selera. Ia mencontohkan kenapa Rhoma Irama seolah punya hak otoritatif atas dangdut? Kenapa Chrisye bisa mengatakan ini musik baik dan lainnya tidak? Persoalan mendasar bagi Irfan adalah lebih ke relasi kuasa yang tak setara.

“Saya berpikir mereka yang punya selera lebih tinggi memiliki rezim di sana. Sedang membangun rezim kekerenan. Ada praktik itu.”

Bagi Raka sendiri, hal ini tergantung siasat di semua level. Setiap level perlawanan ada siasatnya. Semisal dangdut, di Jakarta orang membicarakan dangdut secara serius atau tertawa sambil joget (mengolok-olok) itu hal berbeda. Ada praktik identifikasi pasar, yang penting ada pertukaran ilmu dan ide. Titik pentingnya adalah bagaimana masyarakat menyiasati struktur.

Di Dili, Timor Leste, ada kelompok yang menghidupkan musik dengan pola-pola neighborhood. Ada tempat bersejarah bernama museum pembebasan Timor Leste yang didirikan untuk mengenang Operasi Seroja. Namun, museum itu berubah fungsi menjadi galeri dan tempat seni bernama Arte Moris (berarti seni yang hidup).

Melihat fenomena itu, Irfan menekankan pentingnya dialog antar praktik setiap elemen ekosistem musik. Soal produksi pengetahuan itu yang penting. “Menurutku gak relevan pakai cara berpikir seharusnya. Kenapa seharusnya begini? Ini jalan yang tepat, bagaimana memaknai ulang,” ujar vokalis Jalan Pulang tersebut

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of