Kartini dalam Cermin Perempuan Pramoedya

  • 4
    Shares

Lpmarena.com- Menyambut Hari Kartini dengan perayaan simbolik seperti karnaval kebaya, merupakan hal penting untuk mempertahankan kebudayaan Jawa yang bersifat fisik. Di samping itu, perlu ada sebuah diskursus untuk mengkonstektualisasikan nilai-nilai perjuangan Kartini dengan perkembangan zaman. Hal tersebut diungkap oleh Mutiah Amini, Dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada dalam diskusi bertajuk “Perempuan dalam Sastra Pram,” Jumat (20/04).

Dalam diskusi yang diadakan di AOA Resto and Creative Space, Sleman, Yogyakarta, Mutiah juga menyampaikan, terdapat banyak sekali nilai-nilai dari manifesto perjuangan Kartini, yang tertuang dalam berbagi karya sastra Pramoedya Ananta Toer. Baginya, Pram tidak hanya mampu menghadirkan perempuan yang berkarakter kuat, tetapi Pram juga mampu menghadirkan zaman serta realitas, sebagai latar pergulatan batin terhadap pendirian tokoh yang ia ciptakan.

“Bagi saya, memang sangat tepat jika  tokoh-tokoh perempuan dalam karya Pram ini, kita jadikan sebagai suatu refleksi atas perjuangan perempuan kontemporer. Ada nilai-nilai luhur yang Pram bangun lewat tokoh perempuannya tersebut,” ungkap Mutiah.

Dalam novel Panggil Aku Kartini Saja, Pram mampu memberi pandangan yang berbeda kepada masyarakat terkait sosok Kartini yang bukan sekedar sebagai pahlawan. Lebih luas dari pelebelan kepahlawanannya, Kartini adalah sosok yang utuh. Seorang  perempuan yang menghadapi ketidakadilan sistem feodalisme, cengkeraman penjajah Belanda, maupun pandangannya terhadap  laki-laki. Di mana pada saat itu domestifikasi perempuan masih sangat kental.

“Dia sebenarnya sedang memberdayakan dirinya sendiri. Ketika perempuan mampu memberdayakan diri, otomatis auranya menular, sehingga dia pun bisa memberdayakan orang lain. Kartini adalah perempuan yang apa adanya, yang juga punya masalah, tapi tetap bisa mempertahankan dirinya sebagai perempuan yang baik.”

Perempuan-Perempuan Pramoedya

Sementara itu, Katrin Bendel, Kritikus Sastra sekaligus Dosen Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, memaparkan bahwa terdapat tiga tokoh dalam karya Pram selain Kartini yang karakternya juga merepresentasikan integritas yang kuat. Tiga tokoh tersebut adalah Gadis Pantai, Ara atau Larasati, dan Nyai Ontosoroh.

Baca juga  Pendidikan Bukan Bangku Sekolah

Terkait alasan Pram yang lebih memilih tokoh perempuan sebagai penggambaran karakter integritas, menurut analisis Katrin, adalah karena perempuan secara sistem berada pada sebuah realitas yang rentan. “Ketika perempuan dihadapkan pada realitas yang sangat rentan-pada titik terbawahnya, pada saat itulah kekukuhan pendirian seorang perempuan diuji,” ungkapnya.

Kartin juga menggambarkan, bagaimana ketika Gadis Pantai telah menjadi istri percobaan seorang bupati, sehingga ia dapat tinggal di sebuah gedung megah dan memiliki apa saja. Namun ia tetap membela keluarga nelayan dan kampung halamannya. Bahkan, ketika Gadis Pantai sedang bercermin, mengenakan baju anggun dan perhiasaanya, ia justru memberontak pada bayangaannya sendiri, dengan tidak mengakui bahwa itu adalah dirinya.

“Sepertinya tidak mungkin, perempuan di usia remaja, malah tidak ingin tampil cantik. Tapi terlepas itu realistis atau tidak, di sini Pram mampu mempertahankan karakter integritas Gadis Pantai tersebut.”

Selanjutnya, Katrin mengulas tentang tokoh Ara, seorang perempuan penghibur pada masa menjelang Proklamasi. Namun, Ara tidak menempatkan diri sebagai perempuan rendahan. Pada suatu hari, Ara pernah diberi pil oleh kenalannya, seorang Belanda. Pil yang membuatnya tidak bisa hamil. Meskipun demikian, jiwa keibuaan Ara tetap muncul. Ketika melihat pemuda-pemuda seumuran anaknya, yang mati tergeletak berlumuran darah di pinggir jalan, Ara selalu membayangkan bahwa para pemuda itu adalah anak kandungnya sendiri.

“Dalam karya Pram, aku selalu menemukan ada cinta dan ketulusan yang lebih luas dari pada mencintai seseorang. Seperti mencintai kehidupan, mencintai kemanusiaan, ataupun mencintai keadilan.”

Katrin mengaku hal ini salah satunya tergambar dari penyikapan Ara, yang harus menempuh perjalanan  dari Yogyakarta ke Jakarta untuk menemui ibunya. Meskipun  keadaan Jakarta sangat membahayakan, karena masih diduduki oleh Belanda. Bahkan sampai Jakarta, Ibunya ditawan oleh orang Arab yang bekerja pada Belanda. Ara tidak mau menerima tawaran orang Arab tersebut, demi ibunya kembali. Ara lebih memilih jalan lain, ketimbang harus berpihak pada Belanda dan membahayakan pemuda-pemuda yang tengah melakukan Gerakan Proklamasi.

Baca juga  Twitter Kartini (Untuk Para Pejuang Perempuan)

Gerakan Perempuan Indonesia

Di akhir sesi, Katrin menyinggung terkait gerakan perempuan di Indonesia. Baginya, jika dibenturkan oleh wacana kolonialisme, akan didapati sebuah hubungan yang rumit. Ia menjelaskan, sejak Zaman Kolonial gerakan perempuan di Indonesia telah dieksploitasi oleh Negara Barat. Tujuannya adalah untuk memunculkan kesan bahwa perempuan Indonesia butuh pembebasan dari Barat atas nilai-nilai feodalisme dan Islam yang melekat. Namun, seringkali hal ini justru membuat perempuan Indonesia tercerabut dari kebudayannya.

“Semacam dilematis juga membahas gerakan feminis di Indonesia. Di satu sisi ketidakadilan gender itu memang ada. Di sisi lain, kita juga dieksploitasi oleh wacana kolonialisme.”

Meskipun demikian, Katrin menyetujui, bahwa tokoh Nyai Ontosoroh sangatlah menarik sebagai ikon yang mampu membahas emansipasi perempuan secara halus. Ontosoroh harus berhadapan dengan laki-laki Belanda yang mewakili sistem kolonialisme. Kemudian dari laki-laki tersebut, ia belajar tentang keadilan, tentang persamaan hak laki-laki dan perempuan.

“Ontososroh merupakan perempuan yang sadar hukum. Ia tidak hanya memperjuangkan bagaimana seharusnya menjadi perempuan baik, dan lain sebagainya. Namun, memperjuangkan sebuah sistem. Dalam kondisi perempuan yang sangat lemah sekalipun, harus ada sebuah sistem yang dapat melindungi perempuan. Ini dibuktikan ketika Ontosoroh menghadapi pengadilan Kolonial,” pungkas Katrin.

 

Reporter: Afin Fariha

Redaktur: Fikriyatul Islami

Sumber gambar: https://normantis.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of