Peringatan Hari Kartini yang Entahlah

  • 32
    Shares

Oleh Anisa Dewi Anggri Aeni*

Tidak bisa dipungkiri masih banyak ditataran Sekolah Dasar (SD) , Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan institusi sampai lembaga resmi merayakan peringatan hari Kartini. Sayangnya, peringatan tersebut tak jauh dari parade busana, perlombaan memasak dan kontes kecantikan. Seolah hal itu saja yang wajib dimiliki perempuan untuk dijadikan jati diri. Sosok Kartini yang diyakini sebagai simbol pejuang perempuan Indonesia luruh, sebab peringatanya hanya didasari visualitas bukan kualitas.

Dalam bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang Kartini mengungkapkan, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibanya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tanganya menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”, penggalan surat yang ditulis Kartini kepada Profesor Anton, pada Oktober 1902.

Kartini sebagai sosok emansipatoris yang terus-menerus bergerak di ranah literasi tak menemui kata bosan. Melalui tulisan yang ia kirimkan kepada teman-temannya, menarik untuk terus diperjuangkan hingga kesetaraan pendidikan di Indonesia terwujud. Batas dinding yang menjulang pada masa itu sungguhlah tinggi, sekat antara laki-laki dan perempuan menjadi lebih tebal garisnya.

Bagaimana Kartini berjuang dengan sangat keras, ketika sekolah bersaing dengan bangsa Belanda. Bahasa yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar tentu saja bahasa Belanda, orang-orang Jawa diperlakukan oleh pemerintah tidak dengan menyiapkan sepiring nasi di meja yang mereka tempati, tetapi memberikan daya upaya agar dapat mencapai tempat makanan itu berada.

Ia bercerita, bahkan dari segi bahasa saja ada pengkotak-kotakkan, belajar agama yang tanpa mengerti terjemah dan maknanya. Tetapi ia tetap menulis, menuangkan pikiran dan gagasanya dalam bahasa Belanda agar bisa diterima dan didengar oleh orang Eropa sana. Tanpa menyisihkan basa Jawa, sebagai bahasa yang juga ia gunakan dalam kesehariannya.

Baca juga  Kartini dalam Cermin Perempuan Pramoedya

Peringatan kelahiran pejuang emansipasi, lagi-lagi terjebak dalam ruang normatif yang tidak jauh dari kultur imperialisme yang dibentuk untuk bagaimana mestinya laki-laki dan perempuan bersikap. Bayangkan, di institusi pendidikan setiap tanggal 21 April yang terjadi bukan menulis surat atau menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Tetapi berlomba-lomba untuk memenangkan kategori peserta tercantik atau busana terapik.

Bukannya Pramoedya Ananta Toer sudah menegaskan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah”. Dikuatkan juga oleh Soe Hok Gie, “Jika ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika ingin dikenal dunia, maka menulislah!”.

Mari renungkan bersama, betapa penting literasi di negeri ini. Terlebih melihat peringkat negara yang masuk 3 besar dari bawah, tentang minat terhadap literasi. Sungguh ironis!

Lalu bagaimana murid laki-laki memperingati hari Kartini? Seakan peringatan tersebut hanyalah milik perempuan, pasalnya lomba yang ada hanya diberlakukan untuk perempuan. Laki-laki menjadi penonton dan pendukung atas parade atau peragaan busana yang dilakukan temanya sendiri, kemudian bersorak ramai bila sang model melakukan gerakan-gerakan sensual.

Visi Kartini yang terwakilkan melalui lagu Ibu Kita Kartini Ciptaan WS Supratman, menjadi luruh ketika peringatanya hanya di ranah hedon. Padahal Kartini diakui kebesarannya dalam buku garapan Hurustiati Subandrio, “Kartini Wanita Indonesia”, yang mengamini pula, baris pertama lagu, bahwa memang Kartini adalah Ibu Indonesia. Imbas gerakan emansipasi salah satunya  banyak perempuan-perempuan yang berpengetahuan dan terjun di sektor publik. Mendobrak stereotip yang membelenggu produktivitas dan partisipasi sebagai manusia, yang harus jalan beriringan.

Akan menjadi menarik jika, peringatan siswa-siswi diberi asupan budaya literasi. Dengan lomba membaca puisi, menulis puisi, menulis surat, cerdas cermat atau lainya. Yakni dengan lebih mencirikan dan mengedepankan sisi edukasinya, sebuah pengajaran agar menjadi pibadi yang baik, untuk bisa menemukan jalan kebenaran.

Baca juga  Kobaran Obor Marsinah Singgah di Jogja

Tak banyak, sekolah atau institusi yang merayakan dirgahayu Kartini dengan berbagai cara yang menanamkan untuk mencintai budaya sendiri, dengan tanpa melupakan sisi literasi. Perlombaan menyanyikan lagu daerah, pidato bahasa daerah, bahasa asing dan cerdas cermat. Atau gerakan-gerakan yang lainnya yang, merepresentasikan sebagai perjuangan putri Indonesia sepanjang hayat ini.

Emansipasi yang diartikan saat ini sudah berbelok dari realitas nasib perempuan yang kerap mendapat diskrimniasi, ketimpangan, kemisikinan, bahkan keterbelakangan. Lalu apakah sebenarnya makna emansipasi, saat lembaga atau institusi memperingatinya setiap tahun, namun masih marak terjadi hal-hal semacam itu?

 

*Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris, yang kini mengabdi sebagai kepala Litbang di LPM Suaka UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of