Polemik Musik Indie di Era Internet

  • 11
    Shares

Lpmarena.com- Tidak bisa dipungkiri memproduksi musik di label rekaman major harus memiliki tipikal “mudah dijual.” Menurut beberapa musisi, hal ini membatasi kreativitas sehingga jalan keluarnya adalah memproduksi musik secara mandiri atau diistilahkan dengan musik indie.

Indie berasal dari kata independent yang berarti prosedural produksi sampai distribusinya dilakukan secara mandiri. Hal ini dikutip dalam salah satu kolom Aries Setyawan di Jakarta Beat berjudul “Indie yang Banal”.

Namun, datangnya era internet mengubah peta industri musik. Dengan menggunakan internet, musik indie maupun mainstream dimudahkan karena mereka dapat mendistribusikan produknya secara luas tanpa biaya yang begitu besar dibanding menggunakan major label.

Perubahan peta industri musik ini menyebabkan musik indie dan mainstream kembali dipertanyakan. Karena selama ini yang membedakan keduanya adalah penggunaan label rekaman dalam memproduksi musik.

Menjawab pertanyaan ini, Danish Wisnu Nugraha, drummer dari FSTVLST, Melancholic Bitch dan Niskala, Jumat (6/4) mengatakan bahwa arus internet memang mengubah peta musik yang awalnya hanya terbelah menjadi musik mainstream dan indie. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena dengan internet, band mampu mendistribusikan musiknya dengan lebih mudah.

Bandnya sendiri menggunakan internet sebagai medium distribusinya. Hal ini dilakukan karena internet memang lebih efektif untuk mencapai pasar yang lebih luas. Danish juga mengatakan bahwa kedatangan internet seharusnya diapresiasi, sekalipun hal ini menipiskan sekat yang ada di antara musik mainstream dan indie.

Namun, Irfan F. Darajat, peneliti musik di Laras Studies of Music in Society ketika ditemui ARENA, Selasa (27/3) menyatakan bahwa indie tetap memiliki pasar yang lebih tersegmen. Dia percaya bahwa musisi indie tetap memiliki nilai yang berbeda karena dalam hal konten, mereka tetap memiliki semangat untuk membuat karya sesuai keinginannya sendiri.

“Ada gak band mainstream yang kayak Efek Rumah Kaca? Mereka sudah menjadi mainstream di kalangan Indie, tapi mereka tetap punya dunia yang lain,” jelas Irfan.

Tuntutan Logika Industri

Tantangan terbesar musisi saat ini adalah logika industri yang terus menuntut karya musik agar sesuai pasar. Musisi terus didorong untuk berkarya sesuai logika industri dalam skala yang lebih global. Permintaan pasar global di internet bisa saja menjadi faktor yang signifikan dalam mempengaruhi keberagaman musik. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena jaminan musisi bisa terus hidup adalah modal. Logika industri seperti inilah yang memicu homogenitas musik indie dan mainstream.

Baca juga  Pungas Abangga; Eksplorasi musik Teater Eska

Dalam hal keberagaman musik, Irfan berpendapat bahwa media juga memiliki pengaruh yang besar. Media harus memberi ruang kepada musik yang belum terkenal tapi memiliki daya tarik. Jika yang diberi panggung hanya yang terkenal, maka tidak semua musisi yang memiliki daya tarik akan mendapatkan tempat.

“Kalau misalnya tetap rebutan diliput Rolling Stones gimana? Ya bubar,” tegasnya.

Menyoal permasalahan media, Danish memberi tanggapan yang berbeda. Ia mengatakan bahwa musisi saat ini seharusnya bisa memanfaatkan internet sehingga kedekatan terhadap media tidak seharusnya dipermasalahkan.

“Kalau sekarang, jadi musisi terkenal gak harus datang ke Jakarta dengan alasan untuk dekat dengan media,” tanggap Danish yang heran melihat Jakarta menjadi sentral musik.

Namun, logika industri yang membentuk keseragaman dan media yang memberi ruang lebih terhadap musik-musik tertentu membuat Rudi Kurniawan, drummer-vocal Bias, salah satu band indie di Yogyakarta cukup resah. Saat ditemui ARENA Senin (9/4), ia menekankan bahwa setiap band juga harus memanfaatkan potensi dan ciri khasnya.

“Kalau ada yang bagus jangan cuma ngekor. Boleh aja sih ngikut (genre dan pola yang sudah terkenal-red), tapi kalau bisa buat inovasi sendiri,” tutur Rudi.

Permasalahan Hak Cipta

Di era internet, ketika musik mampu diubah formatnya menjadi digital, hak cipta mengalami masalah besar. Dalam hitungan hari bahkan jam setelah musik diterbitkan, format digital bajakan sudah bisa didapatkan. Hal ini tentu membuat musisi semakin sulit untuk mendapat keuntungan atau bahkan untuk tetap bertahan bermain musik.

“Ya, memang kamu (pemusik-red) sudah mati-matian menjaga hak cipta. Tapi, sekarang rilis, gak usah nunggu besok, dua jam lagi udah keluar bajakannya,” ungkap Irfan.

Fenomena terkait hak cipta musik di era digital, menurut Irfan patut untuk dipertanyakan ulang. Jika hak cipta memang masih penting, bagaimana menghadapi pembajakan yang semakin mudah dilakukan?

Anomali lain yang terjadi adalah ketika internet mulai digunakan untuk mendistribusikan musik melalui aplikasi seperti Spotify, iTunes, Youtube dan beberapa aplikasi sejenis. Aplikasi tersebut memiliki format dan kualitas bunyi tersendiri. Irfan menjelaskan bahwa format musik yang digunakan mempengaruhi pola konsumsi dan produksi di dalamnya. Seperti Youtube yang memiliki karakter pemusik mengcover lagu orang lain, Spotify dengan karakter random playlist, dan lain sebagainya.

Baca juga  Saintek in Harmony 3 dalam Projection Mapping Live

Berbeda dengan Irfan, ketika ditanya ARENA terkait pembajakan. Danish menyatakan bahwa di era internet, pembajakan juga bisa dilihat sebagai promosi. Permasalahan hak cipta memang sudah semakin pelik di era internet. Akan tetapi, daripada mengeluh dengan pembajakan yang semakin mudah, musisi seharusnya bisa mengambil kesempatan yang ada.

Rudi memberikan pendapat yang senada. Walaupun dulunya sempat resah, ia berkata bahwa di era internet, pembajakan sudah bisa dibilang lumrah. Hal ini dia katakan karena saat ini banyak musisi yang mengunggah musiknya ke internet secara gratis.

“Kalau mau dengar gratis bisa di Youtube. Tapi kalau mau apresiasi lebih bisa beli rilisan fisiknya. Kecuali kalau bajakannya pakai rilisan fisik, itu beda lagi,” ujarnya.

Internet dan Penikmat Musik

Selain memanjakan musisi dalam pendistribusian, internet juga memudahkan orang-orang untuk mendengarkan musik. Ading, penikmat musik yang juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga ketika ditemui oleh ARENA, Sabtu (7/4), berkata bahwa di era internet mendengar musik terbaru dan terunik sekalipun sangat mudah dengan aplikasi di internet.

Namun, untuk mengeksplor musik, Ading lebih memilih untuk mendengarkan rekomendasi teman. Menurutnya, interaksi dengan musikalitas orang lain sangat penting untuk memperkaya referensi musik. Sedangkan aplikasi di internet memiliki kebijakan tertentu seperti harus berbayar, yang dipromosikan secara totalitas hanya lagu-lagu tertentu.

“Makanya di aplikasi itu kita tetap harus memilih mana yang mau kita dengar,” jelas Ading.

Eksplorasi musik menggunakan aplikasi internet memang memiliki banyak kelebihan. Salah satunya musik bisa dinikmati tanpa memakai space memori handphone terlalu banyak. Hal ini diungkapkan oleh Shohibul Hidayat, ketua Sanggar Nun, Sabtu (7/4). Walaupun untuk mengetahui musik yang terbaru, ia memilih untuk mendengarkan musik dari rekomendasi teman. Selain itu, pria yang kerap disapa Dayat ini juga mengeksplorasi musik menggunakan Youtube untuk mengetahui lagu-lagu paling hits di masa-masa tertentu.

Reporter: Muhammad Sidratul Muntaha
Redaktur: Fikriyatul Islami

Sumber foto: https://pinterest.com

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of