Corak Pendidikan Indonesia, Kapitalis Kampus Membudaya

  • 8
    Shares

Lpmarena.com Kapital hari ini memandang pendidikan soal untung dan rugi. Siklus kapitalisme adalah tentang relasi antar manusia yang kemudian menjadi relasi berbentuk uang. Hal ini juga tercermin di dalam kampus, terutama jika kampus itu mahal. Pendidikan yang seharusnya melahirkan pergaulan-pergaulan luas justru memberikan batasan terhadap mahasiswanya.

“Lembaga pendidikan layaknya rumah bordil, hanya melayani yang bayar,” ujar Eko Prasetyo dalam diskusi yang digelar oleh Gerakan Nasional Pendidikaan (GNP) di hall kampus Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD), Kamis (26/04).

Eko juga memaparkan bagaimana pendidikan Indonesia yang kapitalistik akan menghasilkan sistem diskriminatif antara pelajar kaya dan miskin. Sehingga terjadi pembatasan pergaulan yang pada akhirnya menimbulkan pengkerdilan wawasan serta melahirkan siswa-siswa yang pragmatis.

Melihat keberlangsungan pendidikan yang diskrimatif dan eksploitatif, Eko menegaskan perlu adanya gerakan untuk melawan sistem tersebut. Kesadaran untuk melawan pendidikan yang selama ini bermasalah seharusnya lahir dari kaum intelektual. Bagaimana membangun gerakan ideologis dan sesuai dengan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Perlu adanya gerakan melawan pendidikan, jika pendidikan tersebut melakukan diskriminasi, eksploitatif, dan terdapat penyimpangan dalam birokrasi pendidikan,” papar Eko dalam diskusi.

Ia juga mengatakan bahwa kesadaran kritis untuk membangkang pada aturan-aturan lama itu penting. Mahasiswa-mahasiswa yang memperjuangkan gerakan pendidikan adalah pejuang-pejuang kampus, gerakan pendidikan selalu memilki fungsi jangka panjang.

“Kampus harus memberikan pengayoman dan melindungi hak-hak mahasiswanya, bukan hanya memberikan pembelajaran-pembelajaran,” tegas penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah itu.

Eko menambahkan, pendidikan saat ini tidak membebaskan, justru membelenggu. Padahal hakikat pendidikan adalah mengajarkan petualangan, dan pengetahuan seharusnya menjadi budaya. Sehingga masyarakat menjadi mudah dan terbiasa menyampaikan pendapat-pendapatnya.

Reporter: Mifta Kharisma dan Zaim

Baca juga  Paradigma Mahasiswa Terhadap Realitas Sosial

Redaktur: Fikriyatul Islami

Sumber foto: https://www.tulismenulis.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of