Eko Prasetyo: Pembangkangan adalah Sesuatu yang Penting

  • 115
    Shares

Lpmarena.com– Dua persoalan penting dalam pendidikan, yakni komersialisasi dan demokratisasi pendidikan. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dua produk hukum inilah yang mensistematiskan pendidikan, kemudian menjadi cikal bakal kesewenang-wenagan pendidikan untuk mengelola pendidikan, dan melepas tanggung jawab negara atas pendidikan. Hal tersebut diungkapkan Miki, Pemateri dari Gerakan Nasional Pendidikan (GNP) Kamis, (26/04).

Dalam diskusi menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tersebut, Miki juga menambahkan, bahwa reformasi tahun 1998 gagal. Statement ini tidak lain karena sektor pendidikan tidak diperhatikan, dan hanya fokus pada demokratisasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Reformasi hanya fokus pada Soeharto, tidak pada sistem yang diciptakanya,” ungkap Miki dalam diskusi GNP bertema “Menggugat Pendidikan Nasional, Mahal dan Tidak Demokratis” yang digelar di Hall APMD.

Pendidikan mahal inilah yang membawa pendidikan menjadi disorientasi dari tujuan awalnya. Hasil dari pendidikan hanyalah diskriminasi, eksploitasi, dan penyeragaman pendidikan. Hal ini diungkapkan Eko Prasetyo, yang juga menjadi pemateri dalam diskusi.

“Kemahalan biayalah yang menjadi faktor terciptanya kelas-kelas dalam pendidikan, sehingga peserta didik bersifat elitis dan eksklusif,” ungkap Eko Prasetyo, Penulis buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah!”

Menurut Eko, produk pendidikan yang menciptakan watak-watak birokratis perlu dilawan dan dihancurkan. Dengan menciptakan pendidikan alternatif sebagai tandingan. Karena menurutnya, bukan rasa malas yang membuat peserta didik bodoh. Melainkan sistem pendidikan yang bobrok, dengan menyeragamkan pola pikir, paradigama, dan tindakan.

“Sehingga potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tidak bisa muncul,” imbuh Eko.

Selanjutnya, Eko menggaris bawahi, bahwa ideologi pendidikan harus dilawan. Budaya komunikatif adalah titik awal menuju kritisisme. Melalui hal tersebut kebebasan berekspresi dan pembangkangan yang akan membebaskan pendidikan dari belenggu ideologi Neoliberalisme.

Baca juga  Merajut Kembali Sejarah Golkar

“Pembangkangan adalah sesuatu yang penting,” pungkas Eko.

Yusron Maksum selaku moderator, di akhir diskusi megajak gerakan-gerakan mahasiswa, dan sivitas akademik untuk menyatukan kekuatan tanpa memperdulikan embel-embel ideologi gerakan masing-masing. Momentum Hardiknas adalah momentum yang pas untuk mengkritik pendidikan.

“Ideologi kita satu, yakni melawan sistem pendidikan yang rusak,” tegas Yusron.

Reporter: Ajid FM

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of