Puisi dan Kebebasan Perempuan

Lpmarena.com Perayaan Hari Kartini beberapa waktu lalu banyak diisi dengan kegiatan seperti berkebaya, lomba konde-kondean, membuat tumpeng, lomba masak dan jenis perlombaan domestik lainnya. Labibah, Ketua Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yang menjadi host dalam acara teraebut mengkritisi maraknya perayaan tersebut dalam pentas “Perempuan Berpuisi Inspirasi dan Ekspresi untuk Negeri” yang diselenggarakan di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin siang (30/4) pukul 13.00 WIB.

Labibah, menyayangkan karena perjuangkan Kartini lebih dari sekedar itu. Seperti bagaimana seorang perempuan memberdayakan diri agar lebih bermakna bagi masyarakat. Perempuan saat ini harus mampu menekankan pada diri mereka bahwa dunia tidaklah sempit bagi kaumnya. Kebebasan dan peluang yang ada sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Toh, sekarang sudah banyak kegiatan, baik dalam maupun luar kampus yang melibatkan kaum perempuan. Selain itu, perempuan juga perlu membuang rasa pesimis untuk melakukan hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki.”

Melalui kegiatan ini mereka menyampaikan bahwa perempuan tidak seharusnya hanya dikurung dalam rumah. Perempuan bukan hanya sebagai tulang rusuk dan konco wingking. Sebenarnya perempuan bisa berbuat lebih banyak, asalkan tidak ada pembatasan dari diri sendiri. Bukan hanya macak, manak, dan masak. Tetapi harus sadar bahwa dia mempunyai hak untuk berekspresi menentukan hidupnya sendiri. Hak tersebut yang akan memunculkan potensinya untuk menginspirasi negeri.

Atika, mahasiswi Fakultas Tarbiyah, menuturkan bahwa perayaan Hari Kartini kali ini memiliki keunikan tersendiri. Dimana suara perempuan dibalut indah dalam seni. Penyampaian puisi oleh para ibu dosen merupakan satu bentuk pembuktian bahwa kaum perempuan juga dapat tampil bebas dan bersuara di depan umum dengan keelokannya.

Tokoh-tokoh perempuan Uin Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Pusat Studi Wanita (PSW) untuk menyesuaikan teks puisi dengan karakter para pembaca. Berharap pembacaan puisi tidak monoton dan lebih terbawa suasana bahagia.

Baca juga  Berbagi Hati, Berbagi Puisi

Jegeh lakenah Bing, jek sampe locot atenah, Bing,” Ema Marhumah melantunkan puisinya dengan bahasa Madura yang berarti “Jagalah lelakimu, Nak, jangan sampai hatinya jatuh kepada orang lain.” Seisi ruangan tertawa karena keunikan logat puisi yang dibawakan Ema.

Empat belas tokoh perempuan menyuarakan isi hatinya lewat puisi dengan gaya dan khas tersendiri. “Kita mengekspresikan dengan ciri khas yang berbeda-beda. Ini adalah ekspresi perempuan yang dilakukan dengan cara bergembira bersama, sehingga dimungkinkan kalo kemudian segala sesuatu yang dilakukan dengan bergembira maka kesadaran untuk nilai kepedulian terhadap isu-isu akan masuk,” ungkap Labibah saat diwawancarai ARENA selepas acara.

Acara semacam ini diharapkan akan terus berlangsung. Pegawai perpustakaan menegaskan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat untuk sekedar baca buku dan belajar. Tetapi perpustakaan adalah tempat orang-orang berinteraksi dan menyebarkan nilai-nilai positif kepada orang lain. Seperti isu perempuan di ranah politik atau mengenai pekerjaan ganda yang dibebankan kepada perempuan.

“Pekerjaan akan terasa ringan ketika perempuan dan laki-laki bersama-sama mengerjakannya,” ungkapnya.

Reporter: Naya

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of