Polda Tetapkan Dua Belas Tersangka, Dua di antaranya Mahasiswa UIN

  • 49
    Shares

Lpmarena.com­ Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY), telah menetapkan dua belas tersangka pelaku aksi anarkis yang terjadi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Delapan di antaranya mulai ditahan sejak 2 Mei. Sementara, empat tersangka lainnya tidak ditahan karena dinilai mempermudah pihak kepolisian dalam penyidikan dan saat ini berstatus sebagai saksi.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid humas) Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Yulianto, saat ditemui ARENA di ruang Humas Polda DIY menjelaskan, pihaknya telah membebaskan 57 orang dengan syarat wajib lapor seminggu dua kali. Mereka terbukti tidak bersalah dan memenuhi kriteria penahanan selama 1×24 jam.

Dari delapan tersangka yang ditahan, terdapat dua mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan inisial MC (25) dan MI (22). MC merupakan koordinator lapangan aksi tersebut. Sedangkan MI melakukan perusakan pos polisi dengan menggunakan tongkat dan besi. Mereka dijerat dengan pasal 160 dan/atau 170 KUHP, dan/atau 187 KUHP, dan/atau 406 KUHP.

Adapun enam tersangka lainnya adalah AM (24) dari Universitas Sanata Dharma, BV (24) tukang sablon, WAP (24), ZW (22) dan AMH (20) dari Universitas Islam Indonesia (UII), serta EA (22) dari Universitas Mercubuana Yogyakarta. enam tersangka tersebut juga dijerat dengan pasal yang sama.

Sementara itu, Direktorat Reserse Kriminal Umum (DIR Reskrimum) Polda DIY Hadi Utomo melalui konferensi persnya pada Kamis siang, (3/5) sekitar pukul 13.00 WIB, mengungkapkan bahwa aksi yang dilakukan di pertigaan UIN Sunan Kalijaga pada 1 Mei kemarin merupakan tindakan melanggar hukum. Pasalnya, mereka tidak meminta izin atau pemberitahuan kepada pihak kepolisian. Lebih dari itu aksi mereka berujung bentrok dengan warga setempat dan pihak kepolisian. Menurutnya, kepolisian akan mengusut tuntas dalang dibalik kasus yang telah merusak fasilitas umum, pos polisi, serta mengganggu lalu lintas tersebut.

Baca juga  May Day, Pengadaan Perumahan Buruh DIY Jadi Tuntutan Utama

Dalam aksinya, aliansi Gerakan Satu Mei (Geram), selain mengajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah, seperti penurunan harga BBM, pencabutan Perpres Nomor 20/2018 tentang Tenaga Kerja Asing dan tuntutan lainnya, juga melakukan penghasutan. Terbukti dengan ditemukannya spanduk bertuliskan kata-kata yang menghasut untuk melakukan tindakan kejahatan, seperti merobohkan pemerintahan bahkan pembunuhan. Sehingga diklasifikasikan sebagai bentuk upaya makar sebagaimana tertuang dalam pasal 106 dan 107 KUHP.

Hadi Utomo juga menyatakan bahwa proses penyidikan terus berlanjut dengan prosedur yang ada. “Kami akan menindak sesuai aturan hukum yang ada,” ungkapnya. Penyidikan tersebut akan mendalami peran setiap tersangka serta kemungkinan adanya aliran dana yang mendukung aksi tersebut.

Rencananya, hari Kamis pihak kepolisian akan mengirim berkas perkara ke jaksa penuntut umum untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. “Hari Kamis akan mengirim berkas ke Jaksa Penuntut Umum.”

Adapun barang bukti yang ditemukan antara lain 10 batu, 24 bom molotov merk Chong, 2 bom molotov dengan botol Anggur Orang Tua, 12 bom molotov merk Pros, 17 botol Kratingdeng berisi bahan bakar,5 kaleng Pylox, 4 mercon bekas, 2 bendera warna merah dan 3 hitam bertuliskan penolakan pendirian bandara, 4 plastik berisi cairan bahan bakar, 8 kayu, 1 pipa besi, 1 kaos warna hitam, 1 plat besi alumunium dan 7 spanduk.

Pihak kepolisian juga mengingatkan agar dalam menjalankan aksi harus memenuhi prosedur yang telah diberlakukan dan tidak anarkis. “Jika kalian terbukti melakukan anarkisme, kami tidak bisa mentoleransi,” ujar Hadi.

Reporter: Mifta Kharisma dan Rizal Nisfi

Redaktur: Ni’am

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of