++ (Plus, Plus)

++ (Plus, Plus)

  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Oleh: Aditya Priambudi*

Saat itu sang surya telah lama kembali ke pelukan cakrawala. Udara dingin pun mulai sayup-sayup berhembus, seiring dengan naiknya rembulan ke angkasa nan bertabur gemintag. Namun kegelapan tak pernah mampu menghentikan gemerlapnya kehidupan malam di sepanjang Gang Mawar. Sebuah kawasan lokaliasi terselubung yang keberadaannya telah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Jawa modern yang mendiami wilayah ini. Meskipun akan tampak bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan Gang Dolly di Surabaya saat masih beroperasi, padahal sama-sama berlokasi di gang. Mungkin karena Gang Mawar memiliki luas yang lebih sempit, sehingga para pengunjung diharuskan untuk rela berdesak-desakan saat menapaki petualangan malam mereka. Sesuatu yang menurutku justru merupakan poin plus bagi tempat ini, karena para konsumen menjadi punya kesempatan untuk menguji kualitas dan originalitas dari komoditi yang ditawarkan.

Di antara padatnya para pencari kembang itulah aku berada. Duduk manis di sebuah sudut salah satu kafe yang berada di sana. Ditemani sebotol bir dingin serta sebungkus rokok kretek, mengamati para petualang berlalu-lalang. Menikmati beragam bentuk wajah yang mereka tampilkan disaat menjalani pencarian bunga-bunga malam, telah menjadi salah satu metodeku dalam menghibur diri belakangan ini. Betapa tidak, di sini adalah tempat di mana manusia, terutama lelaki, berada dalam wujud terjujurnya. Di antara mereka ada yang masih perjaka, datang ke Gang Mawar kalau tidak dengan raut wajah cemas, ya, penuh harap. Entah mana yang lebih dominan, bertemu bidadari dalam fantasi ataukah bertemu ayah mereka yang juga sedang berburu bunga. Walaupun tidak sedikit juga di antara para pemburu yang sudah beristri dua, seakan tiga itu merupakan angka yang begitu menggoda. Atau bahkan mungkin empat, sampai lima?

Ah, sudahlah, gumamku. Namanya juga manusia, kepuasan hanyalah perasaan yang hinggap untuk sementara waktu, sebelum keserakahan tiba.

Kutenggak bir berlogo Kejora, sebelum menghisap dalam-dalam asap dari sebatang rokok kretek yang masih terselip di antara kedua jari-jariku ini. Seraya menertawakan logikaku yang baru saja mencoba untuk memahami isi pikiran manusia namun justru berakhir dengan sebuah retorika. Ya, pikiran manusia adalah selubung misteri paling gelap diseluruh semesta raya. Tidak ada seorangpun yang mampu untuk benar-benar memahami isi kepala orang lain, sekalipun mereka telah berhubungan sangat dekat.

Contohya minggu lalu, ketika gang ini kedatangan tamu. Mereka datang berombongan, kompak mengenakan pakaian serba putih. Tanpa banyak bertanya-tanya, langsung mengobrak-abrik isi dari seluruh kafe-kafe yang berada di gang ini. Setiap pekikan teriakan mereka di sertai dengan melodi dari botol-botol yang pecah dan juga tangisan dari para kembang yang tangkainya kini telah penuh oleh luka sayat. Namun yang menjadi lucu adalah, ketika akhirnya permasalahan dapat diselesaikan dengan sebuah kesepakatan yang melibatkan segepok amplop tebal berwarna cokelat. Sebagai bukti ketulusan, katanya. Meskipun aku juga tidak ingin berburuk sangka mengenai apa isi dari amplop tersebut, bisa saja amplop itu hanya berisikan setumpuk perangko. Iya kan?

Lalu tepat di antara buai lamun itulah saat di mana aku menemukan, sosok makhluk jelita yang sedang terduduk manis menikmati tiap hisapan rokoknya di depan bar counter. Parasnya yang begitu ayu dengan sepasang bibir merah mengkilat akibat polesan gincu, membuat kedua mataku seolah terpaku hanya padanya. Ditambah pula dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai hingga menyentuh bagian tengah punggungnya. Belum lagi lekuk tubuhnya yang…

Baca juga  Perahu Kan’an

Oh, Tuhan!

Aku memberanikan diri ini untuk mendekatinya seraya tubuh ini beranjak meninggalkan singgasana kesayanganku di sudut ruangan yang remang. Otak ini berputar keras dalam rangka menemukan diksi yang tepat untuk membuka percakapan, supaya nantinya aku tidak terlihat konyol dan gadis itu mau menerimaku. Sayangnya, kontras dengan kapasitas berpikir yang dimiliki kepalaku, langkah kaki ini justru berderap kelewat kencang mendekati gadis itu. Seolah-olah tubuhku dan tubuhnya memiliki dua kutub magnet yang berbeda, sehingga saling tarik-menarik antara satu dengan yang lainnya.

Dan benar saja, ketika sepasang mata ini bertemu tatap dengan kedua bola mata cokelatnya, satunya-satunya kata yang mampu terucap dari lisanku hanyalah, ‘Hai.’

Namun seolah-olah tidak memahami betapa kesalnya batinku yang kini sedang merutuki kedangkalan kapasitas berpikir dari otak yang sudah sejak lahir bersemayam di antara tengkorak kepalaku ini, gadis itu hanya melemparkan sebuah senyuman. Senyuman yang kurasakan sangat manis dan menenangkan untuk seseorang yang baru saja menghancurkan kesan pertamanya dalam sebuah perkenalan dengan seorang gadis.

Dengan mencoba untuk menyingkirkan jauh-jauh bayangan akan betapa tololnya ekspresi muka yang sedang kutampilkan saat ini, aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannnya barang sejenak dengan memesan sebotol lagi bir dari Mak Ijah. Sang Bartender sekaligus pemilik dari kafe ini yang tampaknya juga sedang berusaha keras menelan tawanya dalam-dalam.

Uh! Untung saja aku merupakan langganan di sini, coba kalau tidak, mau ditaruh mana mukaku ini?

“Mau beli rokok?” ujar gadis itu kembali membuyarkan lamunanku.

“Eh? Oh, sori, apa?”

“Itu, rokokny,”  jawabnya. “Mau ditukar ndak sama punya saya?”

“Ha? Maksudnya?” sahutku tergagap yang jelas-jelas tidak mengharapkan serangan mendadak seperti ini.

Lalu, seketika itu juga, gadis itu tertawa bersamaan dengan Mak Ijah yang memang sudah sejak tadi memendam dalam-dalam hasratnya untuk menertawaiku itu.

Mendhem kowe le?”ujar Mak Ijah meledekku.

Mendengar komentar Mak Ijah barusan jelas saja membuat muka ini berubah menjadi merah bak kepiting rebus yang dilumuri dengan saus tomat dan sambel secara bersamaan. Asam dan pedas!

“Iya tuh Mak. Sudah mabuk kayaknya dia,” suara gadis itu menyahut. “Lihat saja mukanya, tuh, merah banget.”

Aku yang sudah terlanjur menjadi bulan-bulanan oleh Mak Ijah dan kompatriot barunya tersebut hanya bisa mesam-mesem sembari kembali merutuki kebodohanku. Mungkin dengan begitu mereka akan merasa kasihan dan berhenti meledekku. Setidaknya itulah yang aku harapkan, karena sudah terlanjur basah juga untuk mundur sekarang.

“Ini hlo Mas, aku kan jualan rokok,” ujar gadis itu setelah berhasil kembali menguasai dirinya dari terpaan badai tawa. “Aku lihat Mas-nya ngerokok, makanya aku nawarin, Mau ndak kalau rokoknya di tukar sama punya saya?” tambahnya sembari menyodorkan sebungkus rokok mild, jenis rokok yang sedang di gandrungi oleh anak-anak muda jaman sekarang.

“Oh,” jawabku sembari kembali memperhatikan gadis itu dengan seksama, alih-alih pada rokok yang sedang disodorkannya. Jika diperhatikan lagi, ternyata gadis itu memang sedang mengenakan sebuah gaun terusan ketat berwarna putih dengan aksen merah, warna khas dari perusahaan rokok yang sedang ditawarkan-nya. Pantas saja meliuk-liuk, batinku.

Baca juga  Puisi-Puisi Khoirul Anam: Nyanyi Sunyi Petani

“Boleh,” ujarku seakan lupa bahwa aku sebenernya merupakan penikmat rokok kretek, bukan mild. Merasa sudah mendapatkan persetujuanku, gadis itupun langsung mengeluarkan kertas lembar lengkap dengan penanya. “Tapi…” tambahku membuyarkan senyumnya yang manis itu.

“Tapi apa, Mas?”

“Tapi aku ndak mau nulis nomorku di situ,” kataku sembari menunjuk lembaran-lembaran file yang berisi data konsumen yang sekaligus merangkap hasil penjualannya tersebut.

“Oh, ndak apa-apa kok. Nulis nama saja juga ndak masalah,” jawabnya sembari kembali menyunggingkan senyum dibibirnya.

“Iya, aku ndak mau nulis di kertas itu, tapi di handphone kamu. Gimana?”

“Eh!” ujarnya terkejut, atau mungkin dia sedang berpura-pura? “Mas-nya nakal ih! Aku ndak boleh ada kontak pribadi waktu kerja mas. Nanti bisa di omelin supervisor.”

oh, bukannya kamu baru break ya?” sanggahku. “Masa kalau baru kerja kamu malah duduk-duduk disini sambil minum?” kataku menambahkan seraya menunjuk gelas kosong bekas minuman pesanan gadis itu.

Gadis itu hanya tersenyum kecut memahami trik kecilnya telah terbongkar. Sedikit lagi, pikirku.

“Gimana? Kalau mau aku beli dua bungkus deh,” kataku merayu sembari menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.

Gadis itu lalu terdiam sembari memainkan pena di antara jari-jari tangannya yang lentik. Sepertinya ia sedang menimbang dampak yang akan ditimbulkan oleh tawaranku barusan.

“Oke deh,” katanya. “Tapi aku ndak mau kalau cuman dua.”

“Ha?” jawabku terkejut. “Terus maunya berapa?”

Gadis itu hanya menyunggingkan senyumnya yang menggoda tanpa mengatakan sepatah katapun sambil menyodorkan tangannya ke mukaku dengan kelima jarinya bergenggangan satu sama lain. Aku yang memahami arti gestur tubuhnya tersebut kemudian hanya menggelengkan kepala.

“Buat kamu,” kataku ketika menambahkan selembar uang seratus ribuan di atas lembaran biru lima puluh ribu yang tadi sudah aku tawarkan padanya.

Sembari terlonjak kegirangan karena keinginannya terpenuhi, gadis itu kemudian menyodorkan lembaran filenya kepadaku.

“Eits! Handphonenya dulu dong,” aku memprotes.

“Ish! Inget aja sih,” ujar gadis itu sambil menjulurkan lidahnya padaku.

Dengan perasaan penuh kemenangan, aku kemudian menambahkan nomor teleponku di daftar kontak gadis itu dan kemudian mengembalikannya pada gadis itu. Aku juga tidak lupa untuk mengirimkan sebuah pesan singkat kepada diriku sendiri sebelumnya supaya nomor gadis itu terekam di dalam handphoneku.

“Ini kontaknya harus aku kasih nama siapa nih?” ujarku menanyakan namanya.

“Mita,” jawabnya singkat sembari memberikan senyuman manisnya yang kali ini terasa sedikit nakal bagiku.

Dan begitulah awal perkenalanku dengan Mita, seorang gadis luar biasa yang nantinya akan merubah cara pandangku terhadap kehidupan selamanya. Pertemuan pertama yang sungguh berkesan bagiku, karena selain menjadi harus menjadi bahan tertawaan Mak Ijah selama seminggu setelahnya, Mita juga meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan yang tidak terjawab. Termasuk diantaranya setengah slop rokok mild yang entah bagaimana aku harus menghabiskannya.

Bersambung…

*Seorang lelaki yang sedang berusaha gondrong

Ilustrasi: http://www.majalah-holiday.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of