Darurat Klitih, Banalitas Darah Muda?

Darurat Klitih, Banalitas Darah Muda?

  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares

Oleh: Rony K. Pratama*

Belum genap seminggu pertikaian fisik antarremaja terjadi kembali. Media lokal mewartakan dengan lekas kejadian memilukan itu. Beraneka motif melatarbelakangi kekerasan fisik, dari pembunuhan sadis anak terhadap orang tua, hingga penusukan siswa karena cemburu buta. Semua itu dipertautkan oleh kebengisan anak muda.

Yang paling viral belakangan ini terjadi di Nogotirto, Yogyakarta. Seorang remaja berusia 20-an tega membuat gaduh tempat ibadah. Senjata tajam diacungkan, bahkan dialamatkan kepada pemuka agama, dan memekikan asma Tuhan. Agama dilegitimasi secara sporadis untuk melegalkan kekerasan. Warganet sontak mengutuk perbuatan keji itu.

Potret degradasi moral yang ditimbulkan banyak anak muda hari ini disebabkan oleh kesempitan berpikir. Implikasinya kemudian menjalar dalam bentuk aksi biadab, baik dimanifestaikan secara verbal maupun tindakan. Perilaku intoleran semacam ini berbahaya bagi kontelasi sosial. Apalagi bila merugikan dan membahayakan liyan.

Kekerdilan memandang hidup menandaskan perilaku bebal. Pada kasus remaja, semisalnya, secara psikologis sedang berada dalam situasi pencarian jati diri. Keberadaannya di tengah transisi antara masa anak-anak dan dewasa, kemudian mengimplikasikan bermacam kecenderungan personal untuk ingin bebas tanpa terikat norma sosial.

Pencarian jati diri, bila diteroka melalui perspektif natural, akan didapatkan simpulan biologis. Produksi hormon di masa remaja dikatakan semakin signifikan. Salah satunya seperti progesteron (perempuan) dan testosteron (laki-laki) yang berefek pada perubahan fisik. Hormon ini mengandung unsur kimiawi yang meniscayakan anak muda gampang emosi, sedih, cinta, bahkan gembira secara simultan dan bergantian sesuai suasana hati.

Selain dimensi psikologi dan biologi, masa pubertas berdampak menganga pada relasi sosiologis. Anak muda pada usia ini, terutama antara SMP dan SMA, cenderung ingin diakui secara horizontal sehingga mempunyai kehendak mencari sahabat sebanyak-banyaknya. Namun, iktikad ini tak selalu mulus. Ia bisa diterima atau ditolak di suatu komunitas. Ini tergantung pula oleh sikap individunya: apakah introver atau ekstrover.

Baca juga  Menyoal Sejarah Gerakan Mahasiswa[1]

Keberterimaan atau kebertolakan seorang remaja di lingkungan sosial ternyata banyak mempengaruhi sisi personalitasnya. Banalitas yang ditimbulkan anak muda, karenanya, berada di persimpangan antara dimensi psikologi, biologi, dan sosiologi. Ketiganya bisa diposisikan secara prakondisi—kenapa seorang remaja melakukan kekacauan sosial yang jamak merugikan itu.

Semesta Keluarga

Pada konteks sosio-kultural, seorang remaja terikat secara struktural-informal dengan orang tua. Wilayah keluarga menjadi sangat penting di sini karena ia merupakan pembentuk sikap sekaligus konstruksi berpikir anak muda pertama kali. Sebagian besar kehidupan anak muda, dengan kata lain, dihabiskan bersama keluarga. Maka tak heran bila kausalitas perilaku banal remaja disebabkan dari sini.

Kondisi keluarga serupa cermin bagi keberhasilan pendidikan remaja. Sedangkan jika terdapat keretakan akut di keluarga tersebut, alih-alih anak muda tumbuh menjadi penurut, realitasnya justru menjadi pembangkang. Sebagian besar pelaku klitih ternyata ditimbulkan karena problem ekonomi keluarga. Ia “terpaksa” melakukan demikian demi menyehatkan kondisi ekonomi yang lesu di keluarga. Betapapun kondisinya perilaku klitih tetap durjana.

Berbeda dengan kasus terseoknya ekonomi keluarga, hulu dari banalitas klitih—dalam konteks keluarga menengah ke atas—banyak disulut karena disharmoni keluarga. Remaja yang mengalami situasi ini biasanya frustrasi atas keadaan orang tua yang memutuskan untuk cerai. Tak dinyana bila ia melakukan tindakan klitih sebagai pelampiasan sesaat.

Masalah remaja dan tindakan klitih karena dampak dari internal keluarga mesti direduksi melalui pantauan masyarakat sekitar. Dalam konsep Jawa dikenal luas pengertian bebrayan agung yang bisa diaplikasikan guna merekatkan kembali hubungan antarkeluarga di suatu masyarakat tertentu. Nilai arkais ini acap disenandungkan di atas mimbar pidato di skala kelurahan. Namun, ia belum sepenuhnya diinternalisasikan ke dalam laku sehari-hari.

Baca juga  Perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia II

Pendidikan Kultural-Personal

Variabel terikat lain penyebab klitih ditandai oleh pengaruh sosial di sekolah. Komposisi klitih yang dilakukan secara komunal biasanya dilakukan serentak melalui koordinasi antarsiswa di sekolah partikular. Keadaan ini memungkinkan aksi klitih disimbolkan berdasarkan identitas sekolah tertentu. Geng sekolah, dengan demikian, berperan masif terhadap aktivitas klitih karena ikatan di antara mereka didasarkan atas militanisme kelompok.

Di Yogyakarta tawuran antargeng sekolah telah terjadi sejak dua dekade lampau. Mereka bergerak secara diam-diam ke sekolah lain guna melakukan vandalisme. Penandaan ini dimaksudkan dalam rangka stempel kekuasaan. Perilaku tersebut kemudian direspons sekolah lain sampai terjadi adu jotos. Pola demikian mudah ditebak bila merunut penyebab tawuran secara fenomenologis.

Pemerintah Kota Yogyakarta, sebagai contoh, telah melakukan terobosan strategis untuk mereduksi perilaku tawuran. Tahun 2008 sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta mengganti emblem bertuliskan sekolah tertentu dengan tulisan Pelajar Kota Yogyakarta. Hal ini dilakukan supaya tiap sekolah memiliki kesadaran persatuan dan kesatuan. Atas nama satu identitas mereka diharapkan tak menyuburkan kecenderungan primordial maupun sektoral.

Langkah simbolik perlu dibarengi lewat program pembinaan secara kultural-personal oleh guru di sekolah. Betapapun ia merupakan orang tua asuh di ranah pendidikan formal yang memiliki kewenangan profesional untuk mendidik peserta didik. Salah satunya bisa melalui full day education dengan bukan hanya penitikberatan pada aktivitas pembelajaran di kelas, melainkan juga pendidikan individu berdasarkan pendekatan kultural-personal.

Dengan demikian, banalitas yang dilakukan generasi milenial tak akan terjadi selama kerja sama antara orang tua, masyarakat, dan guru terjalin dua arah. Ketiganya harus bahu-membahu saling menjaga, melakukan suatu bebrayan agung demi terciptanya anak muda yang halus budinya sebagaimana diharapkan Ki Hadjar Dewantara seabad lampau.

*Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta

Sumber ilustrasi: http://krjogja.com

Komentar

komentar

1
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

[…] Sumber: https://lpmarena.com/2018/05/07/darurat-klitih-banalitas-darah-muda/ […]