Kreatifitas Remaja: Aset Penting Keberlanjutan Bangsa

  • 3
    Shares

Lpmarena.com– Alunan lagu menanam jagung menggema dari balik rimbun pohon bambu. Angin yang berhembus semilir beberapa kali menjatuhkan daun bambu ke sungai. Pagi itu, Minggu (29/04) di sepanjang tepi sungai kawasan yayasan Kampung Halaman (KH), dipenuhi oleh berbagai lapak makanan, minuman dan juga bermacam kerajian tangan. Di belakang rerimbun pohon bambu, terdapat sebuah panggung kecil. Hafiz, Linda, Dinda, Rena, Zura dan Amel, enam sekawan dari Sekolah Dasar Negeri I Krapyak menampilkan sebuah tarian berjudul Tumbuh.

Penampilan enam sekawan tersebut menjadi penampilan pembuka acara Selamat Pagi Vol. 18. Acara tersebut dilaksanakan di KH yang merupakan sebuah tempat untuk anak- anak muda dalam memahami potensi diri dan persoalan lingkungan tempat mereka tinggal. Dimana pemahaman yang didapat akan diaplikasikan melalui media, baik audio, visual, mapun audio-visual. Yayasan ini berdiri tahun 2006 dan berlokasi di Dusun Karang Ploso, Piyungan, Bantul Yogyakarta.

Selamat Pagi adalah sebuah ruang yang disediakan untuk mengeksplorasi daya kreatifitas para remaja baik di bidang seni musik maupun seni rupa. Sejak tahun 2015 acara ini mulai rutin dilaksanakan setiap dua bulan sekali, sampai saat ini mencapai acara yang ke-18.

“Selamat Pagi itu semacam laboratorium seni. Jadi kalau di SMA ada ekstrakurikuler, Selamat Pagi pun merupakan ekstrakurikuler, tapi ekstrakurikuler yang langsung praktik,” terang Novan, program officer Selamat Pagi.

Dengan asas partisipatoris, Selamat Pagi terbuka bagi remaja yang berminat mengeksplorasi daya kreatifitas dan memperluas jaringan sosialnya. Bahkan saat ini, acara tersebut telah berintegrasi dengan Forum Komunikasi Pengurus OSIS DIY dan kini anggotanya tergabung 150 orang.

Peran utama program ini adalah remaja. Menurut Novan, remaja merupakan aset penting untuk keberlanjutan bangsa. Sehingga ia merasa bertanggungjawab untuk membantu memaksimalkan potensi para remaja.

Meski visi acara tersebut lebih menitikberatkan pada remaja, namun Selamat Pagi juga memberdayakan warga sekitar dalam menyukseskan acara. Seperti peran Gama 55, Karang Taruna membantu mempersiapkan bahkan menjadi pengisi acara. Ibu PKK yang memasak dan seniman-seniman profesional berperan membagikan ilmu dan pengalaman.

Baca juga  Mengangkat Seni Jogja dengan Pameran

Ruang Kreatif

Sebagai ruang kreatifitas remaja, Selamat Pagi Volume 18 memiliki empat ruang yang menjadi penyaluran kreatifitas, yaitu Lapak Kreatif yang berderetan di sepanjang tepi sungai. Lapak tersebut menjadi tempat perputaran ekonomi Selamat Pagi. Adapun produk kreatif yang diperdagangkan adalah kuliner, kerajinan tangan, merchandise dan lain sebagainya.

“Kita memberi ruang lapak bagi mereka yang memiliki produk original, hasil bikinan sendiri, ramah lingkungan,” ujar Novan.

Selain itu, ada Ruang Riang yang merupakan tempat penyaluran kreatifitas anak-anak. Penampilan pertama ditunjukkan oleh enam sekawan SD Dusun Krapyak. Ruang Riang ini difasilitasi oleh Neneng Hanifah Maryam dan Ceng Romli.

Ruang kreatif lain yang paling banyak menarik perhatian penonton adalah Panggung Tepi Sungai. Ruang yang menghadirkan penampilan musisi remaja dari Yogyakarta, Solo, dan Surabaya. Salah satu band bernama The Godspeed beberapa kali berhasil mengundang tawa penonton di tepi sungai untuk mencairkan suasana.

Penampilan anak-anak di panggung tepi sungai.

Di sisi timur sungai tersebut terdapat sebuah rumah yang berisi pameran karya lukisan dari Veronica Alma dan Bastian Arif. Pameran lukisan itu adalah salah satu produk dari acara Selamat Pagi yang bernama Ruang Karya. Ruang Karya sendiri adalah ruang yang membuka kesempatan bagi remaja untuk memamerkan karyanya di bidang visual.

Semua penyaluran kreatifitas tersebut bebas diisi oleh remaja-remaja yang memiliki inisiatif dan ingin berkolaborasi dengan Selamat Pagi. “Biasanya, sih, sebulan atau 40 hari sebelum acara ada panggilan terbuka untuk remaja dan seniman yang ingin menjadi kontributor,” jelas Novan terkait mekanisme perekrutan kontributor acara Selamat Pagi.

Di samping empat ruang yang telah dipaparkan, Selamat Pagi juga memiliki Program Studio Kelanduan. Program ini adalah ruang berbagi pengalaman dan ilmu antar sesama seniman, baik itu yang profesional maupun pemula. Namun, di Selamat Pagi Volume 18, Studio Kelanduan tidak bisa dilaksanakan karena memang tidak diadakan panggilan terbuka untuk kontributor.

Baca juga  “Terima Kasih Tanpa Batas” dan Wujud Cinta Para Sahabat

Pembuatan Tema

Acara selamat pagi volume 18 kali ini mengusung tema “Tumbuh”. Dimana pertumbuhan merupakan hal yang terus menerus dilakukan oleh manusia, baik secara sadar maupun tidak. Pertumbuhan tidak hanya melingkupi hal-hal fisik, secara non fisik tumbuh bisa berarti pertemuan-pertemuan yang melahirkan ide, membenturkan prespektif, dan menyalakan kreatifitas untuk berkaya. Hal ini diungkap oleh Novan saat ditemui ARENA di pelataran Kampung Halaman.

Pengusungan tema adalah hasil dari amplop gagasan dari panitia dan remaja yang turut berkontribusi di Selamat Pagi Volume 18. Amplop gagasan sendiri adalah sebuah metode untuk mengumpulkan gagasan dari setiap individu dengan cara menulis di secarik kertas sebuah tema yang akan diusung beserta alasannya.

“Biasanya ada orang yang pandai ngomong, ada orang yang diem tapi gagasannya bagus. Dengan menulis, setiap gagasan dari setiap kepala bisa keluar,” jelas Novan.

Dari berbagai gagasan tersebut, akan diambil benang merah sehingga lahirlah tema untuk satu volume Selamat Pagi. Diambilnya benang merah dari amplop gagasan tersebut agar tema yang keluar bersifat umum sehingga tidak menyulitkan pembuat karya dalam mengeluarkan kreatifitasnya. Adapun jika pembuat karya kesulitan menemukan titik temu antara karyanya dan tema, pembuat karya juga bisa kembali melihat gagasan-gagasan spesifik yang ada di amplop gagasan.

Hal berbeda diungkapkan oleh Neneng Hanifah Maryam, salah satu fasilitator Ruang Riang di program Selamat Pagi. Ia menungkapkan bahwa karya-karya yang muncul belum merepresentasikan tema “Tumbuh” di Selamat Pagi Vol. 18.

Namun Novan mengungkapkan bahwa menemukan titik temu antar tema dan karya dirasa menyulitkan, pembuat karya tidak perlu merasa dibatasi oleh tema. Terpenting adalah bagaimana kreatifitas remaja dapat tersalurkan.

Reporter: Sidra dan Afin

Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of