Aku Menulis untuk Menghancurkan Kota

  • 13
    Shares

Oleh: Zaim YS

Jika kalian bertanya kenapa aku menulis, tolong jangan tanyakan lagi. Kepalaku telah retak oleh pertanyaan yang sama. Tapi, sungguh, tidak ada orang di dunia ini yang ingin jadi penulis. Aku pikir kau juga berpikir sama sepertiku. Ada dua kemungkinan ketika seseorang—terpaksa—menjadi penulis: pertama, ia ingin menyelamatkan nyawanya. Kedua, ia ingin bunuh diri dengan cara yang paling merepotkan namun sederhana. Dan aku memilih alasan pertama untuk menjawab pertanyaan kalian.

Satu hal yang ingin aku tanyakan kepada kalian, kenapa kalian menyukai hal-hal yang aku sembunyikan dan tidak sedetik pun terpikirkan untuk aku bagikan kepada kalian? Apakah kalian lahir dari orang tua yang sangat pelit hingga hadiah ulang tahun pun tak kalian dapatkan dan kalian perlu merebutnya dari orang lain. Tentu, aku tidak akan mengtakan hal itu pada kalian.

Meski kalian tidak memaksanya dan aku benci mengatakannya, aku akan tetap membagikan cerita dan pengakuan ini kepada kalian. Ya, aku termasuk orang yang tidak lihai menyembunyikan sesuatu. Apalagi perihal kesalahan dan kecelakaan yang kualami hingga terpaksa menulis guna menyelamatkan nyawa sendiri. Aku tidak mau gara-gara menyimpan pertanyaan kalian, kehidupanku menjadi terancam. Kalian harus tahu, aku punya dua orang anak untuk dinafkahi setiap hari.
*

Kisah ini dimulai sembilan belas tahun yang lalu. Ketika negara yang aku tempati saat ini sedang mengalami gejolak yang tidak bisa dihindari. Kala itu aku belum menikah dengan istriku saat ini. Waktu itu kami masih pacaran dan suka mencuri ciuman di kamar mandi masjid atau halaman belakang gereja setelah semua jamaah pulang.

Aku adalah remaja yang memiliki hobi umum pada masanya, hobi marah, sama seperti teman-temanku. Dulu, kami sering mengasah ketajaman kemarahan dengan cara membaca, itu latihan paling efektif, kata pemimpin di antara kami. Kemudian dilanjutkan latihan pernapasan dengan pemanasan di lapangan, mereka—teman-teman dan aku—belajar berteriak dan menghamburkan kata sebanyak-banyaknya, tentu, kata yang kami hamburkan adalah kata-kata yang dapat membakar apa saja.

“Kota ini neraka, kita harus mengubahnya menjadi surga!”

Teriak satu temanku di suatu siang yang terik di jalan raya yang disambut pekik suara yang lainnya.

“Setuju!”

“Kota ini penjara, maka kita harus membakarnya!”

Selain membakar kata-kata, kami juga melatih diri untuk membiasakan berbicara layaknya pelatih hewan di kebun binatang, juga mengumpat dan mencurigai segala yang asing. Waktu itu aku sering merasa asing dengan diri sendiri ketika berada di kamar kos bersama pacar yang saat ini menjadi istri saya. Tapi tidak apa, semua perlu dicurigai termasuk diri sendiri.

Satu hal yang aku tahu betul dari teman-teman adalah mereka benar-benar tahu cara membaca pikiran pejabat dan mencari kesalahan orang lain sampai hal yang paling kecil sekali pun. Jujur, aku tidak terlalu menyukai mereka. Jika boleh memilih, aku lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan sepanjang siang atau datang ke kos-kosan pacar ketika dia libur bekerja.

Di perpustakaan, aku bisa menghabiskan buku seperti orang-orang miskin menghabiskan nasi kotak berisi ayam bakar setelah menghadiri rapat suatu partai sebelum pemilu digelar. Aku juga sering ikut rapat partai, mengajak pacar juga, di sana kami bisa makan enak dengan hanya bermodal berangkat dan telinga yang pura-pura menyimak.

Selain menjadi anggota partai dan anggota organisasi pemuda pemarah, aku menyisihkan waktu untuk bekerja di salah satu penerbit kecil di kota ini. Saat itu, satu hari bisa sepanjang satu menit, tidak terasa malam tiba dan aku harus mengistirahatkan diri yang lelah. Kata-kata juga perlu beristirahat, umpatan dan kemarahan harus tidur agar besok pagi bisa segar kembali.

Baca juga  Rangkaian Acara Warnai Pekan Komunikasi Ku-Suka II

Setelah semua rencana disiapkan, perhitungan juga telah matang, aku dan anggota organisasi pemuda pemarah berkumpul di alun-alun kota. Kata-kata sudah siap kami lemparkan. Umpatan yang sudah dirancang jauh hari siap untuk diledakkan begitu saja. Tentu, tidak hanya aku dan teman-teman yang datang di alun-alun kota. Banyak orang asing yang tidak kukenal bergabung dengan segala umpatan yang tidak berbeda dengan kami. Aku percaya, makin banyak kepala makin banyak pula senjata.

Kularang pacarku ikut. Aku bilang, “cukup di kamar saja, atau di perpustakaan, atau di manapun selama bukan di alun-alun.”
**

Kami mulai menghancurkan kota sedikit demi sedikit. Hebat sekali ternyata kata-kata bisa menghanguskan apa saja yang ada di depannya. Pemuda-pemuda pengangguran yang pemalas juga ikut terbakar, mereka bergabung bersama gerombolan kami menghancurkan kota yang sudah dibangun tiga puluh tahun itu.

“Hancurkan!”

Tidak ada yang berani menghalangi kami. Tapi naas, tubuhku yang tidak terlalu besar membuatku tersenggol-senggol sampai akhirnya tersungkur dan terinjak-injak di aspal. Masih beruntung aku tak pingsan, aku merayap di antara kaki-kaki menuju sebuah kebun untuk menyelamatkan diri.

Aku berlindung di kebun kalimat. Di kebun kalimat aku selamat. Sangat aman. Demonstran yang terbakar amarah sendiri tidak bisa menyentuh taman ini, juga polisi, kebun kalimat seperti jubah malaikat penyelamat yang sangat kuat hingga kata paling tajam dari belahan dunia manapun tidak dapat menembusnya.

Di luar kebun, demonstran yang berisi pemuda pemarah dan orang-orang asing melempar kata kepada polisi atau siapa saja yang mencoba menghalanginya. Banyak polisi terluka karena lemparan kata. Begitu pun demonstran, banyak yang mati terkena kata tajam yang meluncur dari mulut senjata aparat.

Setelah sekiranya aman tanpa ijin aku langsung pulang ke rumah. Jangan tanya aku harus ijin kepada siapa, ya, tentu pada ketua organisasi pemuda pemarah itu. Aku pulang membawa lebam di seluruh tubuh. Lalu aku mengambil bolpoin dan menceritakan kisah pembakaran kota demi menyelamatkan nyawa yang tersisa.

“Menulis akan membuatmu abadi,” aku teringat kata-kata itu. Kata pacarku setelah menutup buku di pangkuannya.

Aku pikir menulis adalah cara untuk menyambung nyawa, atau paling tidak menunda kematian. Dan betul, setelah menulis aku tidak jadi mati meski lebam di seluruh tubuh terasa nyeri.

Kemampuan menulisku sangat buruk, bahkan aku tidak bisa menghentikan aku yang menyerang terus-menerus di tulisan. Lagi pula aku hanya bisa menuliskan kisah tentang penghancuran kota oleh teman-temanku yang bisa saja merenggut nyawa mereka sendiri.

Selain kisah itu aku ceritakan, pertama kali kepada pacar yang sekarang jadi istriku sendiri. Ia selalu tertawa mendengar cerita itu, dan sampai sekarang ia memintaku menceritakannya kembali ketika ia tidak bisa tidur.

Dua tahun setelah kejadian itu, kami—teman-teman dan aku—tidak pernah berkumpul atau bertemu kembali. Organisasi pemuda pemarah sudah bubar. Aku tidak menemukan mereka. Dan aku masih terus-menerus menulis tentang kisah penghancuran kota itu untuk menyambung nyawa. Sesekali aku sempat terpikir ingin menulis tentang kisah seorang anak yang terlahir dari keluarga bantaran rel kereta membangun kota yang telah runtuh. Tapi selalu saja gagal. Aku hanya mampu menulis perihal kehancuran saja.
*

Tiga tahun setelah penghancuran kota, aku menikah dengan pacarku. Aku terpaksa menikahinya lebih cepat dari rencana karena pacarku mengaku ada yang menendang-nendang di dalam perutnya dan membuatnya mual. Karena aku tidak tega tidak ada yang merawat rasa mualnya dan mengantarkannya ke kamar mandi malam hari, akhirnya kuputuskan untuk menikahinya segera.

Baca juga  Jogja Berkebun, Ajak Masyarakat Mandiri Pangan

Saat itu di kota yang aku tinggali, semua harga sedang melonjak tinggi, termasuk cincin emas, mobil dan gaun mewah yang roknya dihiasi berlian mahal. Sebenarnya tidak ada hubungannya, meski harga sedang turun pun aku yakin tidak mampu membeli cincin emas, mobil atau gaun mewah yang roknya dihiasi berlian mahal. Maka aku memberikan cerita tentang penghancuran kota sebagai mahar untuk pernikahan. Aku yakin, istriku akan tetap senang.

Permasalahan terbesar yang aku hadapi menjelang pernikahan bukanlah soal mahar atau perut pacarku yang makin membesar. Tapi, aku kebingungan ketika harus mengirimkan surat undangan untuk teman-teman lamaku, khususnya teman-teman lama satu organisasi pemuda pemarah. Aku ingin mereka tahu, laki-laki sepertiku bisa menikah.

Tapi entah mereka di mana sekarang. Tidak ada satu pun yang meninggalkan alamat rumah. Aku jadi berpikir, mungkin tidak punya rumah adalah cara yang paling mudah agar surat tak salah alamat. Baik, akhirnya kami tidak mengundang siapa pun di pesta pernikahan, siapa peduli, bahkan malah untung di kami, tidak ada yang diundang berarti membuat pengeluaran makin kecil, bukan?

Setelah mendapat ijin dari kepolisian, aku menggelar perayaan pernikahan kecil-kecilan, hanya dihadiri aku dan istri saja. Ia sangat bahagia meski hanya kami berdua yang menari di tengah sepi dan lagu dangdut yang mengalun sendiri. Aku kecup bibirnya lama-lama, dia juga sama, mengecup bibirku lama-lama, bahkan lebih lama. Kami bergantian mengucapkan janji untuk tidak saling menghancurkan.

“Kamu boleh pergi semaumu, tapi aku harus ikut, aku tidak ingin ada yang macam-macam denganmu,” kataku setelah ciuman yang panjang itu.

Akhirnya kami menulis kisah-kisah setiap hari agar maut tak terlalu cepat merenggut kebahagian ini. Istriku menulis cerita percintaan sepasang kekasih yang membangun rumah di reruntuhan kota, sedangkan aku masih terus-menerus menulis kisah kota yang hancur akibat amarah sekelompok pemuda pemarah, karena hanya itu yang bisa kutulis.
*

Aku menulis kisah ini ditemani istri di samping. Meski hanya foto, bukan masalah. Istriku meninggal dua hari lalu, meninggalkan dua anak dan satu kenangan yang sangat panjang. Aku tidak bersedih, ia tidak benar-benar mati, ia hanya beristirahat sebentar. Lagi pula aku masih bisa menemuinya di dalam kisah-kisah yang pernah kami tuliskan.

Kemarin, saat aku menonton televisi kutemukan teman lama di sana. Pemimpin organisasi pemuda pemarah yang kurus itu sudah gendut rupanya. Ia mengenakan jas yang kukira harganya sama dengan harga sepeda motor milikku. Rambut panjangnya dipotong cepak. Kukira ia tidak lagi jadi pemarah seperti dulu, tampangnya kelihatan sopan. Sepertinya ia sudah punya dua anak sepertiku, atau tiga barangkali. Tapi ada satu yang tidak berubah, ia suka digelandang polisi. Haha. Masih sama seperti dulu.

Nasib mereka kini sekarang jauh lebih baik. Mereka bertugas membangun kota yang pernah mereka hancurkan dulu. Dan aku hanya bisa menulis tentang penghancuran kota.

Aku pikir, aku perlu menghancurkan kota ini sekali lagi. Sekali lagi. Kemudian dibangun kembali untuk dihancurkan, sekali lagi.

Gambar: https://bambies.wordpress.com

 

Komentar

komentar

1
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Oleh: Zaim Yunus* […]