Puisi Menyelipkan Kebenaran

  • 7
    Shares

SURAT YANG TERTINGGAL

Oleh: Rodianto

Tinta telah kuhabiskan
Sementara naskah menyisa angka
Berbilang pada kekosongan
Hingga cerita kan segera suri

Rerupa kehendak belum usai
Tertinggal untuk waktu tak jelas
Dan pada surat ini
Memintaku membayar sepi
:jiwa yang tertusuk tenang

Kurelakan ia suri
Pada ruang dan waktu menjanji
Kembali di saat lain tubuh satu
Aku

Aku akan kembali
Menggenapi yang tak sampai
Bersamamu dan keutuhan

Sumenep, 2018

SEHABIS LUKA

Oleh: Rodianto

sore telah menjadi pelarian
semenjak kau dustai kedatangannya
sebagai pengampunan
tak bersuara
pemindai jemari melelehkan garis lurus
yang tertinggal hanyalah bekas
dan cahaya memudar
tidak ada penghalang
kecuali rimbun yang tersisihkan
sepanjang galah ini
kau menepuk luka

Yogyakarta, 2018

KEMESRAAN YANG TERTUNDA

Oleh: Rodianto

langit meneteskan air mata tangisnya
dari sepanjang sore yang tenggelam
pada dadamu sebatas lautan
tersentuh haru di muka kemesraan
kau peluk aku
seraya mencandai kepergian sebentar tiba
merekatkannya, demi memenjarakan pada tubuhku
yang sementara, lalu hilang tak berbekas
menyimpan rindu yang tak sampai itu

Yogyakarta, 2018

Menyelipkan Kebenaran

Oleh: M. Abdul Qoni Akmaludin

Malam
Sunyi
Ada cahaya
Di balik
Selimut
Tebal
Ada
Kebenaran
Di sela
Tumpukkan
Buku
Ada kebenaran
Di balik
Mentari

Syuhada, 6 mei 2018

Menyambung Sayap yang Patah

Oleh: M. Abdul Qoni Akmaludin

Mentari mulai tak menampakkan
eksistensinya pada cakrawala na suci,
pertanda hari mulai berganti.

Ribuan burung mulai berlari
menyelamatkan diri agar tak mendapati
malam yang sakti.

Namun, ada sekelompok merpati yang
masih berputar mengelilingi gedung nan tinggi.
Mencari salah seorang anggota keluarganya
Yang hilang dari barisan.
Seekor merpati sembunyi di balik
gedung nan tinggi, menanggis meratapi
nasib yang begitu sial, sore tadi.

Baca juga  Katrin Bandel: Sastra Tidak Dibatasi Tabu

Segerombol manusia bertopeng yang menembak
ke bagian sayap kiri, hingga oleng dan terbaring lemas
di atas gedung tinggi nan panas.
Karena taka da lagi daun yang segar
yang dapat menampungnya kala dulu,
hutan masih lebat.

Kesucian yang dulu dibicarakan dalam
mimbar-mimbar, diorasikan dan
didiskusikan dari jalan ke jalan.
Kini, hanya halusinasi.

Merpati mulai mempertanyakan pada
Tuhan, mana yang sebenarnya benar?
Mereka, manusia yang senang membikin
Janji dan menafsirkan ayat-ayat suci dan
menjual kesucian?
Atau, kami yang hina yang terima takdir
dan tak mampu melawan?

Kebenaran yang dibawa di jalan-jalan
di mimbar-mimbar pangung demokrasi tak
dapat lagi dipercayai.
Kebenaran masih tenang terselip pada
tumpukan gedung dan kertas yang
tersebar di dalamnya.

Syuhada, 7 mei 2018

 

Rodianto, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga kelahiran Sumenep yang mulai berhenti mencari keberadaan Alfreda.
M. Abdul Qoni Akmaludin, adalah penikmat kopi, dan penikmat misteri di balik indahnya semesta Tuhan nan Tinggi.

Sumber gambar: Sarjanajewelrywordpress.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of