Kalimasada, Menyebarkan Ajaran Islam dengan Strategi Kebudayaan

Kalimasada, Menyebarkan Ajaran Islam dengan Strategi Kebudayaan

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

Mampu menyebarkan nilai-nilai keagamaan melalui strategi kebudayaan menjadi salah satu poin yang diharapkan pihak universitas kepada unit kegiatan mahasiswa (UKM) Kalimasada. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Waryono Abdul Ghofur dalam acara Srawung Gendhing yang digelar oleh Kalimasada di gedung Gelanggang Universitas, Sabtu malam (12/5).

Menurut Waryono, ada banyak nilai-nilai yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga untuk diamalkan dalam kehidupan. Seperti penyebaran ajaran Islam tanpa harus merubah kebudayaan setempat menjadi kebudayaan Arab, bisa dekat dengan semua kalangan atau, hingga penyebaran ajaran agama baru tanpa menyinggung agama terdahulu di wilayah tersebut. Tanpa strategi kebudayaan yang tepat, menurut Waryono, Sunan Kalijaga akan mendapat banyak penolakan.

“Kenyataannya, penyebaran Islam di Jawa itu kan tanpa pertumpahan darah,” ungkap Waryono saat ditemui ARENA setelah acara ditutup.

Penyampaian ajaran agama juga tidak melulu menggunakan Al Qur’an atau Hadits secara leterlek.  Menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam dua sumber agama tersebut juga bisa melalui bahasa kebudayaan. Karenanya Kalimasada dituntut untuk bisa kreatif menggali nilai-nilai dalam Al Qur’an dan Hadits.

Sementara itu, Watsiq Yasar ketua UKM Kalimasada mengungkapkan bahwa penyebaran ajaran Sunan Kalijaga bisa dilakukan, salah satunya, dengan membawakan tembang Lir Ilir yang digubah oleh Sunan Bonang dan sering digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam dakwahnya. Dia juga berpandangan, melalui Kalimasada, dia bersama teman-teman yang lainnya mencoba melestarikan salah satu unsur kebudayaan Jawa.

“(Kami) coba mengembalikan kecintaan terhadap gendhing-gendhing yang klasik,” ungkapnya.

Watsiq menyampaikan, melalui kegiatan ini pihaknya berupaya menyatukan UKM yang memiliki fokus di kesenian Jawa, baik tingkat universitas maupun jurusan, yang ada di Yogyakarta. Hal tersebut dipandang penting mengingat Kalimasada merupakan UKM baru. Melalui kegiatan yang bertemakan Nyawiji Ing Rasa, Mawa Karya (menyatu dalam rasa, semarak berkarya/Red) dia ngin menyatakan bahwa dalam upaya melestarikan kebudayaan tidak sendirian.

Baca juga  Cepu Campus Expo, Kejengkelan yang Tersalurkan

Kalimasada sendiri baru mendapatkan Surat Keputusan (SK) rektor secara resmi pada bulan Januari 2018. UKM ini membidangi kesenian Jawa seperti seni musik gamelan klasik, karawitan, suluk, wayang, dan pedalangan. Namun sudah jauh-jah hari sebelum diresmikan oleh rektor, Kalimasada kerap menyambut tamu dalam acara-acara resmi universitas.

Pemberian Nama Gamelan

Dalam kesempatan tersebut, Kalimasada juga secara resmi memberikan nama pada gamelan milik universitas dengan nama Kiai Suronoto. Suronoto merupakan sebutan untuk kelompok yang memiliki tanggung jawab di wilayah keagamaan di Keraton Yogyakarta. Mengingat UIN merupakan kampus Islam, Watsiq dan pihaknya berpandangan bahwa nama itulah yang paling relevan.

Sementara, menurut Watsiq, penggunaan kata Kiai merupaksan sebentuk penghormatan karena dalam budaya Jawa gamelan merupakan benda yang diskaralkan. Masyarakat Jawa sendiri kerap menghargai benda materil dengan sebutan Kiai. Seperti yang dilakukan pada keris, gamelan, dan sebagainya. Menurut budayawan Emha Ainun Nadjib, hal tersebut menunjukkan hubungan manusia Jawa dengan alam di sekitarnya bukan subjek dengan objek yang kerap berakhir dengan tindakan eksploitasi alam berlebih.

Reporter: Ni’am

Redaktur: Sudrun

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of