Menyikapi Terorisme, Warga Yogyakarta Doa Bersama

  • 16
    Shares

Lpmarena.comMenyikapi berbagai aksi terorisme, masyarakat sipil Yogyakarta menyelenggarakan doa bersama untuk kedamaian Indonesia pada Minggu (13/05). Aksi tersebut digelar di sekitaran Tugu Yogyakarta.

Alissa Wahid aktivis Gusdurian Indonesia mengatakan dalam pers lirisnya, aksi ini dilatarbelakangi oleh beberapa kasus. Seperti kasus terorisme yang terjadi di beberapa tempat diantaranya kericuhan di Rumah Tanah Cabang Salemba di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, pada delapan Mei lalu.

Kasus tersebut mengakibatkan lima anggota kepolisian meninggal akibat menderita luka senjata tajam pada sekujur tubuh. Peristiwa malam itu nyata mengabarkan aksi teror nyata. Napi teroris merampas senjata, menjebol ruang penyidik, menguasai ruang tahanan sekitar 36 jam.

Kericuhan pada tanggal 10 Mei 2018, anggota Intel Brimob, Kepala Dua Depok, Brigadir kepala Marhum Prentje tewas setelah menjadi korban penusukan yang dilakukan oleh seseorang tidak dikenal.

Tindak teror berlanjut pada Minggu (13/05), bom bunuh diri meledak di tiga Gereja di Surabaya. Tiga Gereja tersebut adalah Gereja Santa Maria di Ngagel, GKI Jalan Diponegoro dan GPPS Jalan Arjuno.

Merespon kasus tersebut, aksi solidaritas diselenggarakan dengan melibatkan sekitar 60 komunitas atau 60 elemen masyarakat sipil. Sudah ada sekitar 600 orang yang mengonfirmasi kehadirannya.

“Beberapa elemen yang terlibat, menyuarakannya dengan berorasi,” ungkap Mukhibullah selaku koordinator aksi solidaritas dan doa bersama.

“Maka kita dari pihak kemanusiaan malam ini, adalah satu kesatuan. Tidak ada dasar hukum seseorang membunuh karena perbedaan, tidak ada satupun yang mengajarkan seseorang membunuh karena kebenaran sepihak,” tegas Wahyudin dalam orasinya di depan Tugu.

Selaku anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja dia menyatakan, bahwa tidak seharusnya seseorang membunuh karena sebuah nilai perbedaan. Manusia lahir karena dialah yang akan membina hidup kedamaian, kerahmatan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca juga  Pemda Yogyakarta Kurang Serius Menangani Sistem Trasnsportasi Lokal

Mukhibullah membacakan delapan poin yang diserukan pada malam itu saat diwawancarai oleh ARENA antara lain: Pertama, mengutuk aksi teror yang terjadi pada hari Minggu (13/05) dan berduka atas jatuhnya korban jiwa dan korban luka-luka.

Kedua, meminta kepolisian Republik Indonesia untuk menemukan dan menindak tegas otak aksi teror bukan hanya pelakunya beberapa hari ini.

Ketiga, meminta pemerintah khususnya kepolisian untuk memperkuat perlindungan hak konstitutional warga negara, dalam segala bentuknya secara spesifik yaitu hak untuk beribadah dan berkeyakinan.

Empat, meminta pemerintah untuk mewaspadai penguatan gerakan pelemahan kedaulatan bangsa di Indonesia, melalui berbagai aksi peningkatan kebencian antar kelompok aksi teror nyata.

Kelima, meminta pemerintah mewaspadai gerakan kelompok ISIS yang mulai menghidupkan lagi propaganda untuk Asia Tenggara, serta menguatnya modus teror gaya baru berupa serangan bom bunuh diri tunggal alone wolves.

Enam, meminta kementerian dan lembaga yang berwenang untuk mengakselerasi respon yang memadai terkait pengembangan ideologi dan paham yang semakin menyuburkan kebencian antar kelompok terutama atas nama agama, kebencian dan memudahkan hak aksi pelaku teror.

Tujuh, meminta masyarakat agar tetap waspada dan tenang atas tindakan teror dan tindakan kekerasan serta tidak terpancing untuk membalas tindakan tersebut dengan ujaran atau aksi yang memanfaatkan sentimen warga bangsa.

Delapan, meminta warga bangsa untuk bersama-sama memperkuat kehidupan yang rukun dan saling menjaga sehingga ideologi kebencian dan terorisme tidak mendapat pendukungnya.

Kiki selaku aktivis jaringan perempuan Yogyakarta menyatakan, ”Kami jaringan perempuan Jogja mengutuk keras terorisme yang melibatkan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku aksi teror di Surabaya dan tempat lain.”

Perempuan dan anak-anak adalah simbol peradaban, jika simbol peradaban itu dipakai untuk memusnahkan manusia, apa jadinya nilai kemanusiaan itu sendiri.

Baca juga  UIN Sunan Kalijaga Deklarasikan Diri Menjadi Kampus Budaya

Dia menegaskan luka yang tidak sederhana untuk anak-anak sangat membekas dalam ingatan mereka, dan itu akan muncul 50 tahun mendatang. Dengan kejadian ini sama dengan menanamkan kebencian jika mengorbankan anak-anak dan perempuan selaku aksi teror.

Aksi solidaritas tersebut dikoordinatori dan digerakkan oleh Forum Jogja Damai, dan ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Hairus Salim direktur yayasan LKIS.

Reporter: Sholehatul Inayah
Redaktur: Fikriyatul Islami

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of