Mendudukkan Hierarki Realitas

Mendudukkan Hierarki Realitas

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Mendudukkan Hierarki Realitas lpmarena.com

 

*Muhammad Sidratul Muntaha Idham

Beberapa waktu yang lalu, kitab suci hangat diperbincangkan. Kitab yang dianggap sebagai wahyu Tuhan dan absah kebenarannya digonjang-ganjing dengan pernyataan bahwa kitab tersebut adalah fiksi. Wilayah dan batas antar realitas dan fiksi pun ikut diperdebatkan. Apa itu realitas? Apa itu fiksi?

Menurut salah satu sejarawan Yuval Noah Harari, pengarang buku Sapiens, dia menyatakan bahwa realitas terbagi menjadi tiga. Pertama, Realitas objektif, yaitu realitas yang dapat ditangkap oleh instrumen inderawi. Realitas objektif harus dapat dilihat, dicium, didengar, dirasa, dan diraba.

Hal ini yang kemudian didukung oleh ilmuwan saintis, positivis, empiris, dan lain sebagainya. Karena dengan menyandarkan realitas ini pada objektivitasnya, realitas mampu diprediksi, dimanipulasi dan direkayasa. Tentunya dengan metode penelitian tertentu, pengukuran yang disepakati, dan logika ilmiah yang konsisten.

Kedua adalah realitas subjektif. Realitas subjektif berkaitan dengan persepsi kita terhadap suatu objek. Misalnya selera. Selera adalah subjektivitas yang tidak ada sama sekali pada objek tertentu, namun ada dalam persepsi dan realitas imajinatif atau subjektif dalam pikiran kita. Contohnya terkait selera makan, musik dan lain sebagainya.

Realitas ini karena subjektivitasnya, tidak dapat diukur, direkayasa atau dimanipulasi seperti realitas objektif. Karena realitas ini ada dalam konsepsi masing-masing individu.

Kemudian yang ketiga adalah realitas intersubjektif. Realitas intersubjektif adalah realitas yang tidak bersandar pada suatu objek namun diamini oleh banyak orang, misalnya uang. Uang yang berada dalam dompet kita, objektifnya hanyalah sebuah kertas atau koin. Tapi nilai tukar yang ada di dalamnya berada pada wilayah intersubjektif kita.

Nilai dari uang tersebut tidak ada di dalam realitas objektif. Seberapa keras pun usaha kita menyobek, mengurai dan membedah kertas atau koin yang kita gunakan sebagai alat tukar, kita tidak akan menemukan nilai di dalamnya. Karena nilai itu adalah “cerita fiksi” yang kita yakini bersama. Jika cerita fiksi itu sudah tidak diamini atau tidak dipercayai, maka tidak lagi bisa dikatakan sebagai realitas intersubjektif dan musnah kebenarannya.

Baca juga  Krisis Paradigma Manusia Terhadap Alam

Hal lain seperti nilai, budaya dan agama juga realitas yang berada di ranah intersubjektif. Namun menurut Harari, kita sering kali sulit membedakan realitas objektif dan intersubjektif karena realitas intersubjektif sudah melekat pada diri kita di kehidupan sehari-hari, dan karena sudah disepakati bersama, maka diyakini pula sebagai kebenaran yang objektif.

Yang sering diperdebatkan kemudian adalah bagaimana hierarki kedudukan realitas tersebut. Apakah realitas objektif patut untuk dikultus karena mampu diprediksi, dimanipulasi dan direkayasa sehingga menguntungkan kita? Atau realitas subjektif karena subjektivitas adalah keotentikan dan ekspresi diri kita di tengah realitas lainnya? Atau realitas intersubjektif yang diyakini dan diamini bersama?

Pengkultusan terhadap realitas objektif yang didukung oleh aliran saintis dan filsuf positivistik belakangan ini menjadi trand bagi masyarakat modern. Bahkan, bukan hanya alam yang menjadi objek dari aliran ini, tapi masyarakat pun harus bisa diobjekkan, bebas dari nilai dan subjektivitas individu.

Aliran ini mendapat banyak kritikan. Seperti yang dikemukakan Bagus Kribo –filsuf LPM ARENA- dalam tulisannya yang berjudul Krisis Paradigma Manusia Terhadap Alam bahwa pandangan ini dikritik oleh Thomas Kuhn dan Fritjof Capra karena melahirkan sikap dominasi, anti-ekologi, eksploitatif juga merusak. Karena alam dianggap sebagai mesin yang berfungsi secara mekanistis tanpa punya nilai pada dirinya sendiri.

Kritik serupa terhadap aliran ini juga dilontarkan oleh filsuf yang mengkritk positivisme yang juga memandang hubungan sosial masyarakat sebagai objek dan harus bebas dari nilai pun subjektivitas. Implikasinya, mengobjekkan masyarakat akan melahirkan dominasi dan terpinggirnya masyarakat yang dianggap tidak mapan.

Belakangan filsuf teori kritis Jurgen Habermas mengajukan sebuah solusi yaitu teori komunikasi yang memungkinkan adanya ruang publik bersifat emansipatoris dan bebas dari distorsi doktrin dominan yang dianggap mapan.

Baca juga  Citra Perjalanan Hidup Manusia dan Pencarian Bahasa

Pertanyaan lain yang mungkin kembali muncul dipikiran kita (lebih tepatnya penulis). Dengan kesimpulan yang diungkapkan oleh Kuhn, Capra dan filsuf teori kritis, secara tidak langsung mengangkat hierarki realitas subjektif dan intersubjektif di atas realitas objektif.

Apakah realitas objektif yang mekanistis memang sudah usang? Atau bisa jadi mendudukkan hierarki realitas juga tidak relevan karena hal itu bersifat subjektif pada dirinya sendiri?

Terlepas dari hal itu, kehidupan manusia di ketiga realitas itulah yang menjadikannya unik. Makhluk lain hanya hidup di realitas objektif. Mereka beradaptasi dan berinteraksi dengan alam hanya karena fungsi-fungsi biologis yang ada pada dirinya sedangkan manusia lebih dari sekedar menggunakan fungsi biologis, juga berimajinasi dan hidup di luar realitas objektif yang diciptakan sendiri untuk melanggengkan kehidupannya.

Kembali pada permasalahan kitab suci. Jika yang dimaksud fiksi adalah realitas intersubjektif, apakah itu semata-mata merendahkan kebenarannya? Ketiga realitas tersebut berada pada wilayah kebenarannya masing-masing. Tidak ada satupun yang merupakan kebohongan, karena tak dapat dipungkiri, manusia memang hidup dalam ketiga realitas tersebut.

*Penulis adalah mahasiswa pusing jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Kerap singgah di toko retail untuk mendinginkan pikiran.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of